Jalan Cinta Halimah

Jalan Cinta Halimah
Episode 17. Buah Durian


__ADS_3

Sesampainya di kota, Aku dan Abang Hafiz segera mencari penjual buah Durian yang biasa nya berjualan di sepanjang pinggiran jalan menuju pasar pusat kota.


Kami memilih penjual perempuan yang terlihat sudah cukup tua.


Dengan tergopoh sang nenek melambaikan tangan nya mempersilahkan Aku dan Abang Hafiz mendekat kearah buah-buah Durian yang menumpuk di bawah tenda kecil yang terbuat dari terpal berwarna biru.


"Silahkan dipilih Mas.. Mbak.." ujarnya menawarkan dagangan nya.


"Harga nya brapa Nek?" tanyaku sambil melihat-lihat buah Durian yang aroma nya begitu menyengat hidungku.


" Yang besar Rp.75.000, kalau Yang kecil Rp.50.000 Mbak.. Soal rasa saya berani jamin manis Mbak.." jawab nya mencoba meyakinkanku.


Aku mengangguk tanda mengerti.


"Yang mana Bang?" tanyaku pada Abang Hafiz pula.


"Pilih yang besar aja ya.. Biar puas makan nya" jawab Abang Hafiz pula penuh semangat.


Aku mengangguk dan tersenyum simpul.


Kami kemudian duduk di kursi kayu seadanya yang memang sudah tersedia sembari menanti sang Nenek penjual menyajikan Durian yang di pilih Abang Hafiz tadi.


"Silahkan Mas..Mbak.. " ucapnya menyajikan Buah Durian yang sudah terbuka kulitnya.

__ADS_1


Aroma nya begitu wangi dan menyengat hidung.


Benar-benar membuatku tidak sabar untuk mencicipinya.


"Bismillah" ucapku sembari mulai menikmati buah Durian yang luar biasa nikmatnya.


"Enak gak?" tanyaku melirik kearah Abang Hafiz yang berada tepat di sebelahku.


"Mantap!!" jawabnya dengan semangat.


Aku tersenyum melihatnya.


Abang Hafiz tampak benar-benar menikmati Durian lahap.


Perlahan ku sapu bagian pinggir bibirnya dengan sehelai tissu.


"Durian nya enak sekali" jawab Abang Hafiz pula.


Aku menggangguk kembali tersenyum.


"Durian nya punya sendiri ya Nek?" tanyaku pada sang Nenek yang duduk atas kursi yang terletak di tepi tumpukan Durian yang dijual nya.


"Iya Mbak.. Alhamdulillah ada beberapa pokok di belakang rumah, hasil tanaman almarhum suami saya.." jawab nya dengan wajah tampak sendu.

__ADS_1


"Innalillahi wainna Ilaihi rojiun..."ucapku pelan dalam hati.


"Suami Nenek sudah lama meninggalnya?" tanyaku lgi agak penasaran.


"Sudah 5 tahun Mbak... untunglah ada pokok Durian yang slalu berbuah di belakang rumah untuk penyambung hidup sehari-hari.." jawab nya lagi dengan senyuman simpul.


"Nenek gak punya anak?" tanya Abang Hafiz pula yang mulai penasaran juga.


"Punya.. Tapi cuma satu, dan juga sudah meninggal karena kecelakaan bersama istrinya dan mereka meninggalkan seorang anak Lelaki yang sekarang tinggal bersama Nenek" jawabnya lirih.


Aku sangat terharu mendengar ceritanya.


"Cucu Nenek bernama Bayu.. Dialah yang sehari-hari membantu mengantar Nenek berjualan kemari, sebelum Dia berangkat sekolah.. Nanti setelah pulang sekolah, Dia akan langsung kesini untuk membantu nenek berjualan" ujarnya lagi meneruskan ceritanya.


" Memdengar kisah perjalanan hidup Sang Nenek penjual Durian membuat waktu tidak terasa begitu lekas berlalu.


2 buah Durian berukuran besarpun sudah habis kamj nikmati berdua.


"Tolong di ikat 2 buah lagi ya Nek.. untuk kami bawa pulang" ujar Abang Hafiz kemudian pada sang Nenek.


Abang Hafiz kemudian membayar dan memberi semangat kepada Sang Nenek agar tetap kuat dan tabah menjalani hidup di sisa-sisa umurnya.


"Nenek bersyukur karena memiliki cucu yang begitu berbakti pada Nenek.. Semua yang terjadi di dunia ini adalah suratan takdir dari sang pemilik kehidupan.. Nenek yang semangat ya.. Saya doakan semoga ALLAH selalu memberikan Nenek kesehatan dan melancarkan rezeki Nenek ya.." Ujar Abang Hafiz memyalami sang Nenek.

__ADS_1


"Aamiin.. Makasih Mas.. Mbak.." jawab sang Nenek pula penuh harap.


Kamipun kemudian masuk kedalam mobil meninggalkan Nenek sang penjual Durian yang tampak tersenyum melambaikan tangan nya kearah kami yang semakin jauh berlalu.


__ADS_2