
Sudah lima hari sejak kedatangan Rahman kembali kekampung ini.
Masyarakt sepertinya sudah mulai berhenti membicarakan kesuksesan Rahman.
Aku duduk di warung menjaga toko sambil membaca dzikir harian dengan pelan.
"Assalamualaikum Halimah.." Sapa seseorang dari arah luar toko.
Suara yang begitu khas dan sudah jelas Aku mengenalinya.
"Waalaikumsalam.."jawabku hampir tercekat.
"Rahman....!!" ucapku lagi terpaku menatap sosok lelaki yang sudah cukup lama sekali tidak pernah kulihat.
Dia mengangguk pelan.
"Apa kabar Halimah?" tanyanya masih dengan berdiri kaku tepat di depanku yang masih duduk terdiam tidak bergerak.
Jantungku terasa berdekat dengan kecepatan diluar batas.
Tubuh tiba-tiba merasa meriang.
Jemariku dingin sekali.
Dadaku pun terasa sesak.
"Baik.." jawabku singkat dengan bibir gemetar.
Dia kembali mengangguk.
Lalu tersenyum tipis dan sinis.
__ADS_1
"Aku telah mendengar semua tentangmu Halimah.. Aku turut berduka atas meninggalnya suamimu.. Turut berduka atas musibah yang juga merenggut calon bayimu.. turut sedih mendengar nasib malangmu yangn kini menjadi janda.. Semoga kamu kuat menerima kenyataan ya Halimah.." ujar Ramhan lagi seolah mencoba merobek kembali luka masalalu ku.
Aku hanya mengangguk pelan.
Lalu lama kami saling terdiam.
Hening.
"Kamu apa kabar Man?" tanyaku mencoba mencaikan suasana.
"Aku baik.. Bahkan jauh lebih baaik dari sebelumnya.." jawabnya pula.
"Selamat ya atas kesuksesan mu.. Aku turut bahagia untukmu.. Semoga setelah ini kamu segera menemukan pendamping hidupmu agar kebahagiaanmu lengkap dan sempurna.. Aamiin" kataku lagi dengan tulus padanya.
"Terimakasih.." jawabnya pula dengan singkat.
"Baiklah.. Aku ingin membeli semua sisa kue ysng ada ini.." katanya lagi padaku.
Berdiri lalu membungkus semua kue yang masih tersisa diatas nampan.
"Berapa semua?" tanyanyacpadaku.
"Rp.35.000" jawabku.
"Ini... Ambil saja semuanya kembaliannya.. " katanya menyodorkanku uang seratus ribu rupiah lalu pergi begitu saja.
Aku terdiam memandangi punggung nya yang menjauh.
Aku tidak mengerti dengan perasaanku saat ini.
Tiba-tiba saja mataku terasa begitu hangat.
__ADS_1
Airmataku mengalir tanpa bisa kubendung.
"Astagifurllah..." kataku berulang kali mencova menenangkan hati.
"Sakit sekali rasa nya ya ALLAH... Mengapa Aku merasa seperti terlalu direndahkan.. Rahman adalah lelaki yang baik... Kami bersahabat begitu dekat dulu.. Tapi kini semua berubah.. Kini Dia terlihat begitu angkuh menurutku.. Hatiku tasa begitu sakit ya ALLAH.. ucapanya seakan menghina keadaanku yang sekarang.. Sakit sekali ya ALLAH..." kataku berbisik dalam hati.
"Astagfirullah... Astagfirullah..." ucapku lagi terus berulang umtuk menenangkan hatiku.
"Halimah..." sapa Ibu menyadarkanku dari lamunan.
Aku segera menyeka sisa air mataku.
Berdehem pelan mencoba memperbaiki suara serakku.
"Ya Buk.." jawabku singkat.
"Kuenya sudah habis? " tanya Ibu melihat nampan nya sudah kosong.
"Sudah Buk.. Tadi ada yang memborong semua kuenya.." jawabku tanpa memberi tahu siapa pembelinya.
"Alhamdulillah... Semoga yang memborong kue kita makin banyak rejekinya ya.. Aamiin" ujat Ibu lagi dengan wajah sumeringah.
"Aamiin.." jawabku singkat.
"Yasudah... Ayo berkemas.. Kita bisa pulang lebih awah hari ini... Nanti pulang sekalian kita mampir dulu beli nasi padang kesukaanmu.. Jadi kita gak perlu masak hari ini.. Kita makan nasi padang saja.. Oke?" kata Ibu lagi dengan semangat.
Aku mengangguk tersenyum setuju.
Ucapan Ibu membuatku sedikit melupakan semua kejadian yang baru saja terjadi antara Aku dan Rahman.
"Semangat Halimah... Insyaallah ALLAH maha tahu yang terbaik untuk hambanya... Aamiin.." doaku dalam hati sambil membantu Ibu berkemas menutup toko.
__ADS_1