Jalan Cinta Halimah

Jalan Cinta Halimah
Episode 33


__ADS_3

Tiga hari lama nya Aku menginap di pondok pesantren.


Aku merasa begitu tentram selama disana.


Permintaan Umi untuk Aku tinggal disana membuatku kembali berfikir panjang.


Aku belum membicarakan nya pada Ayah dan Ibu karena hatiku msih sangat bingung.


Dengan malam Aku berbaring di tempat tidur sambil memandang kearah langit-langit kamar yang bagian sudutnya terdapat sedikit sarang laba-laba.


Mataku tidak mengantuk sedikitpun.


Fikiranku jauh menerawang kedalam ilusi yang cukup jauh dan panjang.


Aku terlena sesaat.


Membayangkan betapa tentramnya hatiku ketika berada di pondok, berbagi cerita bersama para santriwati, meninkmati tiap kajian yang diberikan para ustad dan ustazah setiap malam nya sehanis sholat isya dan subuh. Semua terasa sangat menentramkan hatiku.


Tapi manamungkin Aku tega meninggalkan Ibu dan Ayah. Mereka sudah mulai menua dan cumam Akulaj harapan mereka. Aku ingin selalu bisa membuat mereka berada disampingku. Aku tidak ingin lagi jauh dari mereka berdua. Aku juga tidak tega jika membiarkan Ibu membuat kue dan berjualan sedirian di pasar.

__ADS_1


"Ya ALLAH..." ucapku mengeluh panjang.


Mataku masih juga belum bisa terpejam.


'Tut... tut.." sebuah pesan masuk di HP ku.


Akupun membuka dan membaca nya pelan dalam hati.


"Assalamualaikum Halimah... Apa kabar? Kemarin Aku kembali pulang ke kampung dan kembali mencarimu, tapi ternyata kamu tidak ada.. Kamu kemana? Aku ingin berbicara empat mata padamu.. Aku ingin meminta maaf atas ucapanku yang lalu yang mungkin melukai hatimu.. Aku terlalu terbawa emosi.. lalu kemudian Aku merasa sangat bersalah.. Bolehkan kita bertemu lagi? Aku mohon.. Kabari Aku segera jika kamu bersedia.. Aku akan kembali ke kampung segera mungkin.. Rahman" begitulah bunyi pesan yang kuterima dari Rahman.


Aku terdiam dan kembali membaca pesannya.


"Waalaikumsalam Rahman... Alhamdulillah kabar Saya baik.. Semoga Rahman disana juga sehat selalu.. Kemarin memang selama tiga hari saya tidak berada dikampung, saya pergi berkunjung kerumah mertua dan berziarah kemakam almarhum suami saya.. Maaf Man..Bukannya saya tidak punya waktu untuk bertemu, hanya saja sepertinya tidak baik jika kita bertemu empat mata.. mengingat saya seorang janda dan kamu seorang pemuda.. Untuk ucapan yang telah kamu katakan waktu itu, tidaklah jadi masalah bagi saya.. Saya sangat memahami semuanya.. sedikitpun tidak ada rasa dendam ataupun sakit hati atas semua ucapanmu.. Biarlah semua jadi masalalu kita.. Saya doakan semoga kamu semakin sukses dan bahagia.. Wassalam.." tulisku membalas pesan nya cukup panjang.


Semoga Rahman tidak tersinggung dengan balasan pesan yang kukirim, Aku hanya tidak ingin ada hubungan apapun lagi dengannya mengingat Ibu nya yang sangat membenci diriku.


"Astagfirullah..." ucapku beristigfar sambil mengusap wajahku berulang kali.


"Ya ALLAH.. Sudah jam 01.05 malam rupanya.. Aku harus segera tidur agar tidak kesiangan.." ucapku lagi dalam hati lalu mengambil bantal guling untuk menutupi semua wajahku.

__ADS_1


Aku membaca doa tidur, lalu memaksa mataku untuk terpejam.


Lambat laun rasa kantukpun mulai menyerangku.


'Tut..tut..tut.." suara HPku kembali membangunkan mataku.


Nama Rahman kembali terpampang jelas di pesan masuk HP.


Tapi tidak kuperdulikan.


Aku sudah tidak mampu menahan kantuk yang sudah menyerang.


Aku membiarkan pesan itu tanpa membuka nya sama sekali.


Aku tidak terlalu perduli dengan isi nya.


Bagiku.. antara Aku dan Rahman hanyalah masalalu yang tidak mungkin lagi dapat berhubungan dengan baik.


"Selamat malam Halimah.. Semoga mimpi indah.." kataku pada diri sendiri sebelum benar-benar terlelap.

__ADS_1


__ADS_2