
Dua minggu sejak pesta pernikahan Ustad Ramli, Eyang nya Chia semakin rajin mengunjungiku.
Hampir setiap hari iya datang berkunjung ke tempat kerjaku meskipun Chia tidak ada jadwal Les.
Beliau begitu baik, perhatian, ramah, berwibawa, penyayang dan cukup humoris menurutku.
Sangat mencerminkan seorang wanita muslimah yang berkarakter.
Seperti Umi, Eyang Uti ini juga sangat menjunjung tinggi martabat wanita sesuai denvan ajaran-ajaran agama.
Hari ini Beliau datang sambil membawa satu loyang brownies kukus buatannya.
Tanpa sungkan lagi Aku, Ustazah Nita dan Ustazah Wulan dengan segera mencicipi kue nya sambil terus memberi pujian secara bergantian.
"Masyaallah.. Eyang.. Ini enak sekali..." kataku lagi dengan senyuman lebar.
"Alhamdulillah.."jawab Eyabg singkat sambil membalas senyumanku dengan penuh hangat.
__ADS_1
"Halimah besok liburkan? Apa boleh Eyang minta tolong Halimah untuk menemai Eyang berbelanja bersama Chia? Chia pasti sangat senang sekali jika pergi berbelanja bersama Halimah.." ucap Eyang memjntaku menemaninya berbelanja besok.
"Boleh Eyang... Tapi Halkmah tidak bisa lama-lama... Karena sorenya Halimah ada jadwal kuliah Eyang.." jawabku sopan.
"Sip... Makasih ya Halimah..." jawab Eyang pula sembari kembali menyodorkan sepotong brownies padaku.
Keesokan harinya sesuai janjiku, Akupun menemani Eyang dan Chia pergi berbelanja ke supermarket.
Satu keranjang penuh bahkan melimpah yang berisi dengan belaja bulanan Eyang Uti.
"Setiap bulan Eyang belanja nya sebanyak ini?" tanyaku yang penasaran melihat barang belanjaan yang begitu banyak.
"Yang paling banyak ini adalah kebutuhan si kecil itu..." tujuk Eyang pada Chia yang sedang berlari-lari kecil memantau barang-barang yng berjejer rapi di rak jualan.
"Eyang tidak ingin dia merasa kekurangan dalam hal makanan... Dia susah sekali untuk makan... Karena itu Eyang harus mempersiapkan banyak menu setiap harinya untuk memenuhi keinginan nya..." cerita Eyang padaku.
"Owh.... Chia sangat beruntung punya Eyang Uti.."jawabku pula memujinya.
__ADS_1
"Eyang hanya ingin melihat Chia tumbuh dengan bahagia tanpa kurang kasih sayang sedikitpun, meskipun mamanya telah meninggal dan Daddy nya terlalu sibuk dengan urusan pekerjaannya" ucap Eyang pula dengan wajah sedikit murung.
Aku mencoba memahami perasaan Eyang Uti yang begitu menyayangi Chia cucu sematawayang nya.
"Semoga ALLAH selalu memberikan kesehatan untuk Eyang agar bisa merawat Chia hingga tumbuh dewasa ya Eyang..." doaku tulus memegang tangannya yang sudah mulai keriput di telan usia.
"Terimakasih Halimah... Hal inilah terkadang yang menjadi fikiran terberat Eyang.. Setiap malam sebelim tidur Eyang selalu berdoa semoga masih bisa melihat hari esok agar bisa menyiapkan sarapan Chia, memandikannya, mengantarnya pergi sekolah dan melihatnya penuh keceriaan.. Setiap malam Eyang berdoa semoga kematian tidak menjemput Eyang sebelum Eyang menemukan seorang yang dapat menyayangi Chia denganctulus seperti Eyang.." lagi kata Eyang dengan waja lebih murung lagi.
"Eyang... Maafkan Halimah jika ucapan Halimah tadi membuat Eyang bersedih.." kataku pelan menyesali ucapanku.
Eyang Uti menggeleng kuat.
"Tentu saja tidak nak... Ucapanmu sangatlah baik,dengan tulus Halimah telah mendoakan Eyang agar sehat terus... Eyang sangat terharu nak.. Terimakasjh Halimah..." ucap Eyang mengelus pipiku dengan lembut.
"Sama-sama Eyang..." jawabku dengan senyuman tulus.
"Eyaaanggg.... Ustazaah..." teriak Chia melambaikan dari kejauhan membuyarkan percakapanku dengan Eyang Uti.
__ADS_1
Kamipun terseyum bersamaan lalu segera menyusul Chia yangn sudah berada yepat di depan rak mainan.