Jalan Cinta Halimah

Jalan Cinta Halimah
Episode 43


__ADS_3

Sebulan sudah Aku kembali menjalani kehidupan nyataku dengan berbekal semangat baru.


Tidak ada lagi rasa sesal dan putus asa yang dulu sempat hampir membawaku jatuh dalam kesendirian yang panjang.


Kini Aku optimis akan hidupku yang baru.


Menajalani rekayasa kehidupan dengan sebaik yang Aku mampu.


Mensyukuri segala yang kini Aku miliki dan berjuang untuk masa depanku sendiri.


Aku kini bahkan berencana untuk kuliah.


Hal inipun telah Aku sampaikan pada Umi dan Abi.


Soal lamaran Ustad Ramli yang pernah diajukannya padakupun telah Aku tolak.


Bukan karena Ustad Ramli tidak gagah, Bukan pula karena iya kurang baik.


Tapi bukankah hati memang tidak bisa berbohong.?


Dan sampai detik ini, Aku merasa masih ingin sendiri saja.


Dengan gontai kulangkahkan kaki menuju rumah.


Hari ini Aku pulang agak sore karena mengajar les setelah selesai mengajar di TK.


Dalam satu minggu, Aku punya jadwal mengajar les sebanyak tigak kali.


Salah satu muridku adalah Chia, anak perempuan yang sangat pendiam dulunya, namun kini sudah menjadi berubah menjadi periang.

__ADS_1


Aku selalu merasa bahagia ketika bercanda dengannya.


Tepat di depan pagar rumah Umi dan Abi, kulihat ada mobil CRV hitam terparkir jelas di depannya.


"Mobil siapa ya?" tanyaku dalam hati.


"Apa Abi beli mobil baru?" kataku lagi berbicara sendiri sambil berjalan pelan memasuki pekarangan rumah.


"Assalamualaikum..." kataku pelan di depan pintu sebelum masuk kedalam rumah.


"Waalaikumsalam..." terdengar salamku dijawab secara serentak oleh Umi dan Abi juga tamu yang mengunjungi mereka.


"Halimah sudah pulang?" sapa Umi berdiri dari kursi tamu mendekat kearahku.


Aku mengangguk pelan, lalu mencium punggung tangan Umi dengan lembut.


Akupun mengarahkan pandanganku pada mereka.


"Rahman...!?" ucapku pelan nyaris tak terdenvar oleh Umi.


Tamu yang sedang duduk itu jelas adalah Rahman bersama Ayah dan Ibu nya.


Bersama Ibu Aku berjalan pelan menunu mereka.


"Assaalmualaikum Halimah.. Apa kabar?" sapa Rahman ketika Aku sudah berdiri tepat di depan mereka.


"Waalaikumsalam.." jawabku pelan dengan nada datar dan perasaan yang bercampur aduk.


"Halimah...." ujar Ibu Rahman berdiri mendekat padaku.

__ADS_1


Lalu iya memelukku erat.


Aku tidak mengerti dengan perasaanku.


Tubuh bergoncang dalam pelukan Ibu Rahman.


Perasaan yang bercampur aduk berkecamuk seakan ingin keluar meledak denga hebat.


Sekuat tenaga kutahan isak tangis yang tidak ingin kuperlihatkan pada mereka.


Aku diam mematung dengan tetesan air mata yang mengalir pelan dari pelupuk mataku.


Ibu Rahman melonggarkan pelukannya.


Iya membimbingku duduk diaamping nya dan Rahman.


"Bapakku meninggal dalam musibah itu Halimah... Ibu selamat karena sedang dikota mengunjungiku..." cerita Rahman memecah keheningan yang terjadi beberapa saat.


Aku masih diam seribu bahasa.


"Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun.."Ucap Umi dan Abi serentak.


"Halimah... Aku dan Ibu turut berduka untuk kedua orangtuamu... Dan maaf karna kami baru bisa mengunjungimu hari ini.. Terlalu banyak dugaan yang terjadi Halimah..." ujar Rahman lagi padaku.


Aku menghela nafas panjang.


Mencoba sedikit menyunggingkan senyuman tulus.


"Rahman... Ibuk... Terimakasih untuk kunjungan san perhatiannya padaku.. Semua yang telah terjadi saat ini adalah atas takdir yang memang sudah ditentukan oleh ALLAH SWT.. Tidak satupun dari kita yang mampu merubah takdir.. Insyaallah Aku sudah ikhlas Man... Dan Aku juga turut berdukacita untuk almarhum Ayahmu.." jawabku pelan.

__ADS_1


__ADS_2