Jalan Cinta Halimah

Jalan Cinta Halimah
Episode 39


__ADS_3

Aku masih yang masih terlena dalam tidur malamku yang nikmat, terbangun kaget mendengar dering teleponku yang berbunyi dan bergetar.


Dengan malam kupandang layar HP yang hanya bertuliskan nomor saja.


"Siapa ya yang telepon jam 4 subuh begini?" ucapku merasa aneh di dalam hati.


"Assalamualaikum..." ucapku dengan dengan nada malas.


"Waalaikumsalam Halimah... Ini saya Pak Kades" ucapnya dari seberang telepon membuatku semakin bingung.


"Pak Kades? Ada apa ya Pak?" tanyaku selidik.


"Halimah... Kampung kita terkena musibah, longsor.. Rumah orangtua Halimah menjadi salah satu yang tertimpa dan sampai saat ini kami belum bisa menemukan orangtua Halimah, Selamat atau tidak dari kejadian yang baru saja terjadi.." ujar Pak Kades mengagetkanku.


"Astagfirullah...." kataku pelan menutup telepon tanpa sadar.


Aku duduk termangu beberapa saat mencoba menenangkan diri tapi Aku tidak bisa.


"Ya ALLAH...."Teriakku mengagetkan anak-anak Asrama.


"Kak Halimah ada apa?" tanya Wati yang segera turun dari tempat tidurnya mendekat kearahku.


Aku masih saja menangis tidak menjawab.


"Kak.. Istigfar... Ada apa Kak? Kakak sakit?" tanya Wati lagi khawatir.


Aku menggeleng kuat masih dengan tangisanku.


"Kampung kakak longsor.. Ibu dan Ayah..." ucapku teegagap-gagap.


"Astagfriullah... Innalillahi wainna ilaihi rojiun.." ucap Wati memelukku erat.


Aku menangis dalam pelukan wati yang juga turut menangis prihatin padaku.


"Jadi gimana kak?" tanya nya lagi menguasai diri.


"Kakak harus pulang wati... Kakak harus cari tau keadaan orangtua kakak.." jawabku terisak.

__ADS_1


"Mari wati temankan kerumah Kyai.. kita sampaikan berita ini pada beliau kak.. Pagi nanti Wati temani kakak pulang kampung ya.." jawabnya lagi mencoba membantuku.


Aku mengangguk pelan.


Belum sempat kami keluar Asrama, Umi dan Abi telah berada tepat di sisi luar Asrama.


"Assalamualaikum..." ujar Umi berlari kecil kearahku.


"Umi...."teriakku menjatuhkan diri dalam pelukan Umi.


Umi memelukku erat, ikut menangisi musibah yang baru saja menimpaku.


"Ayo nak.. kita berangkat sekarang juga.. Abi sudah menunggu diluar.." ajak Umi padaku.


Aku menangguk pelan.


Wati kemudian meminta izin untuk ikut serta menemani kami.


Aku hanya bisa menangis dalam pelukan Wati selama di perjalanan menuju kampung.


"Ya ALLAH... Selamatkan kedua orangtuaku ya ALLAH..." doaku lirih dalam hati.


Hingga akhirnya tanpa sadar Aku tertidur sejenak.


"Halimah kita sudah sampai nak..." ucap Umi membangunkanku.


Aku tertegun melihat kearah luar jendela.


Aku berada tepat di tepi jalan didepan halaman rumahku.


Rumah yang kini telah rata dengan tanah.


Tinggal pucuk atap nya saja yang terlihat.


"Halimah... "teriak seseorang dari arah depan menuju padaku.


"Bude..." panggilku pada wanita yang mendekat memelukku.

__ADS_1


"Halimah yang kuat ya.." ujar nya memelukku.


"Bude.. rumah kita??" ucapku memandang kearah Bude yang merupakan tetangga sebelah rumahku.


Dia mengangguk kuat dengan linangan air mata.


"Ayo ke balai desa.." ajaknya membimbingku berjalan.


Umi, Abi dan Wati mengikuti kami dari arah belakang.


Sebagian jalan menuju Balai Desa ternyata terputus oleh longsoran tanah.


Susah payah kami berusaha melewatinya.


"Halimah.. Pak Kyai.. Ibuk..." sambut kepala Desa pada kami.


"Ayah Ibu?" tanyaku.


"Yang kuat ya sayang.." peluk Buk Kades menenangkanku.


Aku masih menggeleng kuat tidak percaya dengan semua yang terjadi saat ini.


Buk Kades kemudian memimpinku berjalan pelan kearah kantong-kantong mayat berwarna kuning yang tersusun rapi di bagian dalam Aula kantor Desa.


Tidak hanya Aku yang menangis.


Banyak sekali warga yang menangisi keluarganya.


Hampir semua dari mereka kukenal.


Dan di dalam kantong-kantong itupun adalah wajah-wajah familiar tetangga-tetanggaku yang kukenal.


Aku benar-benar hancur.


Tubuhku terus berguncang menahan sesak yang rasanya ingin membuncah keluar.


Dan tepat dihadapan dua buah kantong yang berdampingan, sosok yang begitu Aku kenal, Aku hormati, Aku sayangi terpampang jelas terselimuti dari ujung kaki hingga pangkal leher mereka.

__ADS_1


"Ayaaaaah..... Ibuuuuu....!!!!!!!" teriakku dengan keras lalu Akupun jatuh pingsan.


__ADS_2