Jalan Cinta Halimah

Jalan Cinta Halimah
Episode 57


__ADS_3

Pagi ini Aku memulai kembali aktiftasku dengan status baru sebagai seorang istri dan seorang ibu dari anak sambungku.


Dengan perasaan bahagia, Aku dibantu Bik Minah membuatkan bekal untuk si Chia anak kecil kesayangan kami satu rumah.


"Selamat pagi bunda.." sapanya padaku yang baru saja keluar dari dapur.


"Selaamt pagi sayang Bunda... Masyaallah cantik banget naak..." meraihnya dalam pelukanku.


"Hari ini Chia kesekolahnya bareng Bunda kan?" tanya nya dengan semangat.


"Tentu dong sayang... Mulai hari ini dan seterusnya Chia bakalan berangkat sekolah sama Bunda sayang.." jawabku bahagia.


Dia mengangguk dengan kuat.


Kami sarapan bersama.


Tapi tanpa Abang Zaky, Daddy nya Chia.


Abang Zaky sudah berangkat kerja lebih dulu.


Dia bahkan tidak minum sama sekali.


Sejujurnya Aku agak merasa kecewa, padahal Aku sudah membuatkannya nasi goreng kampung spesial resep dari Umi.


"Bukankah dia bilang nasi goreng ini sangat enak? Lalu mengapa dia tidak mau mencicipinya sedikitpun? Padahal Aku membuatnya dengan penuh cinta.." bisikku dalam hati.


Rasa sesal dihatiku membuat pujian Eyang dan yang lainnya seakan tidak bermakna.

__ADS_1


Tidak mengurangi rasa kesal didalam dadaku.


Aku benar-benar mengharapkan Abang Zaky menikmati nasi goreng buatanku.


Lalu dengan bangga iya memujiku dan merasa bersyukur karena memilihku menjadi istrinya.


Tapi harapan, tetaplah cuma sekedar harapan.


Jangankan untuk menikmati, bahkan untuk mencicipinya saja iya tidak punya waktu.


"Sebegitu sibukkah iya?" tanyaku sesal dalam hati.


"Halimah... Are you ok?!" tanya Eyang membuyarkan lamunanku.


Dengan senyuman getir Aku menunduk.


"Aamiin... " jawabku lirih.


Setelah berpamitan, Aku dan Chia diantar oleh Pak Kus sang supir pribadi keluarga Prof Hamdan, menuju pondok.


Seharian penuh, Ustazah Wulan tidak henti-hentinya mengolok-olok ku sebagai seorang pengantin baru.


Hanya sebuah senyuman getir yang bisa ku lakukan untuk membalas olokkan nya.


Betapa mereka tidak mengetahui apa yang sebenar nya sedang terjadi di dalam rumahtanggaku yang masih seumur biji jagung.


Selesai mengajar, Aku kerumah Umi dan Abi untuk menumpang istirahat dan makan siang sembari menunggu Chia selesai sekolah jam 16.15 wib.

__ADS_1


"Halimah... Bagaimana keluarga barumu nak?" tanya Umi ketika kami duduk santai di teras rumah sambil menanti waktu ashar.


"Alhamdulillah Umi... Semua baik sama Halimah.. Chia manja nya minta ampun Umi.. Malam sebelum tidur, pengen di kelonin sama Halimah.. Halimah bahagia sekali ketika Chia memanggil Halimah dengan panggilan bunda..." ceritaku pada Umi dengan senyuman sumeringah ketika mengingat waktu pertama kalinya Chia memanggilku dengan panggilan bunda.


"Alhamdulillah... Semoga ALLAH selalu menjaga rumahtanggamu ya nak.. Aamiin" doa Umi tulus untukku.


"Aamiin ya ALLAH" jawabku pula mengaminkan doa Umi.


Azan Ashar pun kemudian menghentikan pembicaraan kami.


Tidak lama setelah Aku mengerjakan sholat Ashar, ucapan salam terdengar dari arah pintu rumah.


"Assalamualaikum.." suara mungil Chia memberi salam dari luar rumah.


"Waalaikumsalam.." jawabku yang ternyata bersamaan dengan Umi yang juga keluar kamar menuju pintu untuk menyambut Chia.


"Halo anak sholeha... Apa kabar?" tanya Umi dengan ramah pada anak sambungku.


"Alhamdulillah bahagia Eyang Umi.." jawabnya seloroh.


"Eyang Umi?" tanyaku bingung dengan ucapan Chia.


"Iya... Eyang Umi.. Bunda kan panggilnya Umi, jadi Chia panggilnya Eyang Umi.. Kalau yang dirumah itu Eyang Uti.. Bolehkan Eyang Umi?" jawabnya tersenyum manja.


"Masyaallah... Boleh dong cantik... Eyang Umi bahagia sekali punya panggilan kesayang dari Chja cantik... Terimakasih ya sayang.." jawab Umi pula meraih Chia dalam pelukannya.


Akupun ikut tersenyum bahagia menyaksikan pelukan mereka.

__ADS_1


__ADS_2