
Kini Aku menikmati peran baruku sebagai seorang istri.
Setiap harinya Aku berusaha agar dapat menjadi istri yang sholeha untuk suamiku.
Dan menantu yang baik untuk mertuaku.
Aku begitu bahagia.
Aku dan Abang Hafiz menikmati indahnya pacaran halal setelah pernikahan.
Saling mencoba memahami setiap kekurangan masing-masing sebagai pasangan meskipun terkadang kami masih sering malu-malu.
Dia suami yang begitu sempurna menurutku.
Baik, Tampan, Sholeh, Perhatian dan begitu pengertian.
Dia tidak pernah sungkan untuk membatuku meringankan pekerjaan rumah.
Dia juga sangat humoris.
Bersama dengan nya slalu membuatku merasa senang, terhibur dan bahagia.
"Sayang.. Besok kita ke kota yuk.. Abang pengen makan durian.." ucapnya sambil berbaring manja di pangkuanku.
Aku yang sedang duduk bersandar di tepi ranjang merasa aneh mendengar ucapan nya.
"Bukan nya Abang pernah bilang kalau tidak suka makan Durian?" tanyaku padanya dengan heran.
"Entahlah.. tiba-tiba saja Abang merasa ingin sekali mencicipi dan menghirup bau nya.." ujar nya memjawab pertanyaanku.
"Abang seperti orang yang lagi mengidam saja" olokku sambil tertawa dan mencubit gemes hidung mancung nya.
"Sayang tidak sedang mengandungkan?" ucapnya balik bertanya.
__ADS_1
Aku menggeleng.
"Bulan kemarin Halimah masih menstruasi kok..!! Bulan ini sih emang belum dapat, tapi emang belum jadwalnya juga.." jawabku lagi sembari mengelus kepalanya.
"Yasudahlah.. Pdrnikahan jita juga baru tiga bulan.. Anak itu kan anugerah ALLAH.. yang penting kita tetap usaha dan doa.. Insyaallah jika ALLAH menghendaki maka iya akan memberikan nya pada kita di waktu yang tepat.. Dan yang paling penting besok kita ke kota ya, kafena Abang teringin sekali mencicipi buah Durian.." ujarnya lagi menegaskan keinginan nya.
"Baiklah.Pak suami sayang.." jawabku sambil menghujani nya ribuan ciuman menggemaskan.
Dan lagi, malam ini kami menikmati indahnya saling berbagi kehangatan dalam rintik hujan kecil yang mengguyur bumi malam ini.
"Semoga engkau segera memberikan kami kepercayaan untuk memiliki seorang malaikat kecil penyempurna kebahagiaan dalam rumahtangga kami ini ya ALLAH... Aamiin" bisikku lirih berdoa.
Pagi yang cerah kemudian menyambutku dan Abang Hafiz dengan penuh sukacita.
Perlahan kusemprotkan sedikit parfum non alkohol di bagian-bagian sensitifku.
Lalu kukenakan sedikit lipstik tipis di bgian bibirku sebagai pelengkap sempurna nya hiasan di tubuhku.
Abang Hafiz mendekat dan mencium ubun-ubun kepalaku.
"Sudah cantik sayang... Gak usah dandan juga kamu tetap cantik..." pujinya membuat pipiku merona merah menahan malu.
"Halimah hanya ingin terlihat cantik dan tidak mempermalukan Abang ketika menggandeng Aina disisi Abang.." jawabku melirik ke arah matanya melalui cermin rias.
"Baiklah... Abang tunggu di depan ya.. " ucapnya lagi meninggalkan ku yang dengan segera mengenakan jilbab dan bergegas untuk menyusulnya keluar.
Kamipun berangkat menuju kota.
Mencari penjual Durian terenak seperti yang Abang Hafiz inginkan.
Sepanjang perjalanan Abang Hafiz terlihat sangat bersemangat.
Begitupun Aku.
__ADS_1
Sesekali kami ikut menyanyikan beberapa lagu realigi yang di putar dalam audio mobil sambil saling berbalas senyum sumeringah.
Abang Hafiz meraih tangan mungilku.
menyatukan jemarinya diantara jemariku.
mencium lembut dan berulang-ulang.
Aku begitu bahagia.
Akupun membalasnya demikian.
menciumi punggung tangan nya yang kokoh.
Mengelus lembut rahang kokoh nya yang diselimuti bulu halus.
Dia tampak begitu tampan terlihat hari ini.
"I love you" ujar nya pelan berbisik ditelingaku.
Aku kembali tersipu malu.
"I love you too Abang!" jawabku setengah berbisik pula padanya.
Kami saling berbalas senyum.
Sedikit malu-malu ku dekatkan bibirku menyentuh bagian pipi sebelah kirinya.
Ak mendaratkan ciuman hangat penuh bahagia sebagai tanda betapa Aku beruntung memiliki nya.
Seoanjang perjalan begitu menyenangkan hingga jarak tempuh perjalanan tidak terasa sama sekali.
Aku begitu bahagia.
__ADS_1