
"Suami Kak Mirna bagaimana?" tanyaku pula dengan mata mengarah kearah ustazah mirna yang kembali terseyum tipis.
"Yang perlu kamu tau, Di dalam islam berpoligai memang di halalkan dengan catatan mampu bersikap adil terhadap istri-istri yang dinikahi nya. Dan suami saya pernah mengatakan kalau Dia takut tidak mampu bersikap adil jika iya berpoligami, jadi cukuplah satu saja, begitu katanya" jawab ustazah Mirna dengan bahagia.
"Masyaallah... Kak Mirna dan Kak Wulan pasti begitu bersyukur memiliki suami yang begitu mencintai kalian" jawabku terkagum.
Mereka tersenyum dan mengangguk pelan.
"Insyaallah suatu saat nanti Halimah pun akan dipertemukan dengan lelaki yang tepat, yang akan mencintai dan menyayangi Halimah setulus hati.. Aamiin" jawab Tazah Mirna mendoakanku.
"Aamiin... " jawabku dan tazah wulan hampir bersamaan.
"Oh iya, sepertinya Chia sangat senang belajar dengan Halimah" ujar ustazah wulan pula kepadaku.
Chia adalah salah satu murid baru di sekolah kami. Anaknya cukup pendiam, suka menyendiri dan mudah sekali tantrum.
"Alhamdulillah kak.. Sepertinya Chia sudah mulai banyak perubahan" jawabku bersyukur karna sudah mulai bisa mengambil hati si gadis kecil.
"Chia itu adalah cucu semata wayang Prof Hamdan yang merupakan donatur terbesar di Pondok pesantren ini" cerita tazah Mirna padaku dan tazah Wulan.
"Chia adalah anak brokenhome. Ayahnya adalah anak tunggal dari Prof Hamdan dan Istrinya Ibu Maydah. Ibu Maydah pernah cerita kalau Ayahnya Chia berpisah dengan mama nya lantaran Ayah nya terlalu sibuk bekerja sehingga mamanya pergi dengan pria yang lain" lanjut tzah Mirna bercerita.
__ADS_1
"Maka dari itulah kondisi Chia tidak seperti anak-anak yang lain. Dan Kakak rasa Halimah sudah cukup mahir mengasai emosi anak-anak, sehingga Chia merasa nyaman berada di dekat Halimah" puji tazah Mirna pula padaku.
"Alhamdulillah..." jawabku singkat dengan tersenyum.
Akuxrasa tidak sia-sia pelatihan Tadika yang Aku ikuti selama enam bulan untuk menjadi seorang guru TK, sehingga saat ini Aku dengan keahlianku sudah cukup mampu mengelola emosi anak-anak didikku dan semua terasa sangat menyenangkan.
"Alhamdulillah"jawabku pelan dalam hati.
Setelah pulang dari mengajar, Aku berbaring malas di atas ranjang dua tingkat yang berada di salah satu kamar asrama wanita yang kutempati.
Aku satu ranjang dengan Wati, anak senior kelas 3 Aliyah di pondok ini.
Wati adalah sosok gadis yang periang, centil, suka ribut dan memiliki sifat penasaran yang sangat tinggi.
Berada di dekat mereka semua membuatku merasa kembali muda.
Walaupun sesungguhnya perbedaan usia kami tidaklah terlalu jauh.
Hanya selisih 3 tahun saja.
"Kak Halimah, Ada salam dari ustad Ramli" ujar Wati sambil duduk di tepi ranjangku.
__ADS_1
"Waalaikimsalam"jawabku singkat menyambut ucapan salam yang dikirimkan ustad Ramli untukku.
Ustad Ramli adalah salah satu guru yang mengajari thafiz di pondok pesantren ini.
Beliau cukup tampan, berwibawa dan sholeh.
Beliau juga baru 2 tahun ini menyelesaikan pndidikan S1 nya di salah satu Universitas Islam yang cukup ternama dikota ini.
"Sepertinya Ustad Ramli benar-benar menyukai Kak Halimah.." goda Wati pula padaku.
"Jangan ngawur..."jawabku singkat lalu membalik badan meminggunginya.
"Serius kak..."jawabnya lagi masih menggodaku.
"Stop berfikir yang aneh-aneh Wati cantik... Lebih baik kamu segera mandi karna sebentar lagi magrib" jawabku memerintahnya.
Dia mengangguk pelan lalu meninggalkanku yang tersenyum tipis mengoloknya.
Mungkin ucapan Halimah bda benarnya, seperti nya Ustad Ramli menyukaiku. Larna tidak jarang aku mendapatinya sedang mencuri pandang dan salah tingkah ketika kami tanpa sengaja bertemu.
Tapi entahlah.. Aku merasa belum ada niat untuk kembali menjalin hubungan dengan lelaki lagi.
__ADS_1
Bagiku hidupku saat ini sudah cukup membuatku bahagia dan bersyukur.
api bukankah jodoh di tangan ALLAH.. jadi Aku hanya bisa berserah pada nya, berdoa untuk selalu memberikan yang terbaik untukku kedepannya. Aamiin