Jalan Cinta Halimah

Jalan Cinta Halimah
Episode 44


__ADS_3

"Terimakasih Halimah .."jawab Rahman pula padaku.


"Halimah... Kyai.. Umi.. Sejujurnya tujuan ku kemari bersama Ibu, selain untuk berkunjung, Aku juga ingin menyampaikan niatku yang tulus dari hati untuk menjadi lelaki penanggung jawab hidup Halimah kedepannya.. Maka dengan ini, didepan Kyai dan Umi dan atas restu Ibu, Aku ingin meminang Halimah untuk menjadi pasangan hidupku jika Halimah menyetujuinya.." ujar Rahman mengagetkanku, Umi dan Abi.


"Halimah... Ibu minta maaf atas kesalahpahaman yang dulu pernah terjadi antara kita nak... Ibu kini memahami betapa sesungguhnya Rahman masih sangat menyukai Halimah.. Ibu tidak bisa untuk menolak keinginannya kai ini... Dia begitu tulus menyayangi Halimah.. Dan ingin menjadi seorang yang bertanggung jawab atas Halimah kedepannya nanti... Ibu harap Halimah bersedia dan mau menerimam pinangan Rahman atas diri Halimah.." ucap Ibu Rahman pula menegaskan tujuan mereka datang mengunjungiku kemari.


Aku masih diam seribu bahasa dengan rasa kaget yang luar biasa.


Suasanapun kembali hening seketika.


"Ehhmm..." suara Rahman membuyarkan lamunan panjangku.

__ADS_1


"Halimah.. Aku tidak memaksamu untuk memberi jawaban hari ini juga atas pinanganku yang tiba-tiba ini... Aku akan senantiasa menunggu jawabanmu sampai kamu siap memberi jawaban yang terbaik.." ujar Rahman lagi dengan kaku.


"Nak Rahman... Ibuk... Saya selaku wali Halimah saat ini ingin mengucapkan ribuan terimakasih atas kunjungannya kepondok pesantren kami ini.." Abi mulai membuka suaranya.


"Tujuan nak Rahman tentu saja sangat mulia.. Saya sangat menghargai itu... Tapi memang alangkah lebih baiknya nak Rahman bersabar dengan memberikan waktu untuk Halimah berfikir dalam menentukan jawaban.. Agar tidak ada jawaban yang terburu-buru sehingga nantinya akan menimbulkan hal-hal yang tidak baik.." ucap Abi dengan sambil menyeruput kopi hangatnya.


"Beri Halimah waktu... Halimah saat ini pasti sangat rerkejut dengan pinangan Rahman barusan.. Bahkan Abi dan Umi pun kaget mendengarnya... Iyakan Umi?" tanya Abi pada Umi.


Umi mengangguk kuat.


"Berikan Halimah waktu ya... Biarkan Halimah berfikir matang-matang dulu sebelum mengambil keputusan.. Agar tidak terjadi hal-hal yang nantinya bisa merusak tujuan baik ini.." kata Umi lagi menegaskan ucapan Abi.

__ADS_1


"Tentu Umi... Kyai.. Saya pasti akan sengan aabar menunggu jawaban terbaik dari Halimah tentang pinangan ini.. Semoga Halimah mau membuka hatinya dan mau menerima lamaran ini.. Aamiin" jawab Rahman pula sebelum berpamitan padaku, Umi dan Abi.


"Halimah... Ibu harap Halimah bersedia meneriman lamaran Rahman ya nak.." bisik Ibu Rahman ketika kami bersalaman.


Aku tidak menjawabnya sedikitpun.


Aku hanya diam sembari mengantar mereka menuju mobil yang terparkir dihalaman depan rumah.


"Sampai ketemu lagi Halimah.. Assalamualaikum" kata Rahman sebelum iya melarikan mobilnya menjauh dari pindik pesantren.


"Halimah..." panggil Umi sambil meraih tsnganku untuk di genggam di twngannya.

__ADS_1


Kamipun berjalan gontai untuk masuk kedalam rumah.


"Jangan terlalu difikirkan ya Nak... Jagan sampai ucapan Ramhan membuatmu kembali putus semangat dan berduka... Kamu tau dengan pasti tujuan Rahman sangat baik dan mulia.. Dia ingin menjadi lelaki yang akan bertanggung jawab untukmu.. Fikirkanlah nak.. Tapi jagan sampai membebani mu.. Bawa tahajud.. Mohon petunjuk ALLAH SWT.. Percayalah.. Umi dan Abi akan selalu disisimu untuk mendukung setiap keputusan yang kamu ambil.. Apapun itu.." nasihat umi dengan tulus padaku.


__ADS_2