
Sudah menjadi tradisi daerah kami untuk selalu mengadakan tahlilah 3 malam, 7 malam dan 40 hari untuk memperingati setiap yang meninggal.
Begitu pula dengan peringatan almarhum dan almarhumah kedua orangtuaku yang di adakan di kediaman mertuaku yang bwgitu baik padaku.
Keadaan ku terasa sangat jauh berbeda kini.
Aku hampa dan terpuruk.
Kehilangan abang Hafiz dan calon bayiku waktu itu sudah cukup membuatku nyaris hancur, lalu kemudian Aku berusaha untuk kembali bangkit.
Kali ini takdir seakan mempermainkanku denan begitu kejam.
Baru saja rasanya Aku mencoba menikmati hiduoku yang baru, namun dengan sesaat kebahagiaanku kembali direnggut dengan begitu tiba-tiba.
Orangtua yang begitu Aku sayang, Aku cintai, tempatku bermanja, tempatku menopangkan bahu, tempatku berkeluh kesah, tempatku merasa tenang, kini telah tiada untuk selama-lamanya.
Mereka pergi begitu saja tanpa berpamitan padaku.
__ADS_1
Meninggalkanku yang kini harus berjalan sendiri tanpa arah lagi.
Rasanya sudah tidak ada gunanya hidup ini.
Ingin sekali rasanya Aku segera menyusul mereka saja.
Berharap setiap malam maut datang menjemputku juga untuk segera bertemu mereka orang-orang terkasih yang sangat Aku rindukan.
Tapi Aku bukan tuhan yang mampu mengatur waktu.
Sekalipun sakit ini terasa hampir membunuhku, tapi tetap saja ragaku masih berpijak kokoh pada bumi ini.
"Sungguh tega kalian membiarkanku sebatangkara di sini.. Kalian pergi tanpa membawaku serta.. mengapa?? Aku ingin ikut Ayah.. Ibu... tolong bawa Aku bersama kalian.." jeritku dalam hati.
"Ayah... Ibu... Halimah rindu... Rindu trramat sangat... Apa yang harus Halimah lakukan kini tanpa kalian??? Sudah tidak ada gunanya lagi Halimah didunia ini Ayah.. Bawa Halimah bersama kalian... Halimah ingin ikut kalian saja... Halimah rindu..." ucapku lagi dengan airmata yang terus saja mengalir tak berhenti.
"Halimah.... Boleh Umi masuk nak??" ucap Umi di depan pintu kamar yang Aku tutup rapat.
__ADS_1
"Masuk Umi..." kataku sambil menyeka airmata dengan segera.
"Halimah... Makan yuk nak.." ajak Umi padaku.
"Halimah masih kenyang Umi..." tolakku.
"Halimah... Apa Halimah tau kalau Umi dan Abi sangat menyayangi Halimah?? Halimah tau kalau Umi dan Abi menganggap Halimah seperti anak kandung kami?? Halimah tau itu kan?" tanya Umi padaku.
Aku mengangguk kuat.
"Halimah... Umi tau perasaan Halimah saat ini.. Umi tidak melarang Halimah menangis dan bersedih karena kehilangan orangtua.. Tapi nak.. Meratapi orang yang telha meninggal sangatlah di larang dalam agama kita nak.." nasehat Umi padaku.
"Halimah harus tau, masih ada Umi dan Abi yang begitu menyayangi Halimah dengan tulus.. Umi dan Abi tidak ingin Halimah terrus larut meratapi kematian Ayah dan Ibu Halimah nak.. Masih ada Umi dan Abi disini nak.. disamping Halimah.. Umi dan Abi kini merasa sangat cemas, bahkan merasa hampir putus Asa melihat keadaan Halimah saat ini nak.." kata umi dengan nada bergetar menahan tangis.
"Sudah 40hari lamanya nak... Sudah saat nya Halimah berdiri tegak dan kembali menata hidup Halimah.. Ada Umi dan Abi disini sayang.. Umi dan Abi yang akan menggantikan posisi orangtua Halimah di dunia ini.. Kami siap untuk menjadi sandaran, tempat Halimah berkeluh kesah, bermanja, meminta, dan bahkan kami siap memberikan nyawa kami untukmu nak.." ucapnya lagi dengan tangisan yang mulai pecah.
"Umi..." jawabku singkat lalu memeluknya erat.
__ADS_1
"Umi menyayangimu nak.. Sangat menyayangimu.. tolong jangan siksa dirimu seperti ini.. Percayalah nak, semua yang terjadi adalah atas kehendak ALLAH semata.. dan ALLAh memberikan cobaan ini pada Halimah, karna ALLAH yakin Halimah mamou menghadapinya.. Masih ada Umi disini nak... Umi yang akan menjaga Halimah sampai nanti tiba giliran Umi pula yang akan dijemputnya.. Percayalah nak.. Ayo bangkit kembali.. Jkir kembali senyuman indahmu.. Semangatmu.. dan semua harapan-harapan masa depanmu.. Umi dan Abi disini.. disisimu yang siap berjuang membantumu melewati setiap rintangan yang ada nak.. Percayalah.." ucap Umi senbari mengelus lembut bagian atas kepalaku.