Jalan Cinta Halimah

Jalan Cinta Halimah
Episode 58


__ADS_3

Seminggu sudah Abang Zaky bersikap dingin padaku.


Yup... Sejak malam yang luar biasa itu, hingga malam ini, Dia begitu dingin, kaku dan sangat beku.


Terus dan terus mendiamkanku tanpa sebab yang kutahu.


Hebatnya, Dia selalu bersikap seperti biasa saja di depan keluarganya.


Beberapa kali Dia menyempatkan untuk makan pagi bersama- sama.


Membiarkanku menyajikan sarapan pagi untuknya.


Berpamita, memeluk Chia dan membiarkanku mencium tangan nya sebelum iya berangkat kerja.


Tapi malangnya, setiap di dalam kamar kami seperti sedang perang dingin.


Dia tidak sedikitpun menyapaku.


Apa lagi untuk mengajakku bercerita banyak.


Padahal betapa Aku ingin iya berbagi cerita disetiap malam sebelum kami tidur.


Bahkan terkadang Dia lebih memilih untuk tidur di sofa panjang yang berada tepat disebelah kanan meja kerjanya.


"Abang.. Malam ini Halimah tidur di kamar Chia ya.. Chia kurang sehat.. Tadi siang badannya agak hangat.." kataku izin lalu meeninggalkannya tanpa menunggu jawaban lagi.

__ADS_1


Aku terlalu kesal dengan sikapnya.


Jadi Aku memilih untuk tidur di kamar anak sambungku malam ini.


"Bundaa...." teriak Chia yang melihatkj masuk kedalam kamarnya.


"Chiah minum obat ya? Tadi siang kan badan Chia agak hangat sayang..." kataku membawakan nya obat turun panas.


Dia mengangguk membiarkanku membantunya untuk meminum obat.


"Chia tidur ya nak... Insyaallah besok segera sembuh.. Aamiin" kataku sambil berbaring tepat di sisi sebelahnya.


"Aamiin..." jawabnya pula lalu membaca doa sebelum tidur.


Aku mengusapnya lembut.


"Ya ALLAH... Kalau bukan karena anak mungil ini, pernikahan ini tidak akan terjadi.. Dan Aku tidak akan terjerat di dalam psrnikahan yang rumit ini.. Sakit sekali rasa nya ya ALLAH.. Harus bersikap seakan semua baik-baik saja.. Berusaha mengumbar senyum sementara hatiku terus teriris luka.. Sampai kapan Aku kuat ya ALLAH.. " bisikku perih dalam hati.


Air mata yang seminggu ini tertahan akhirnya membuncah pelan membuat sesak yang teramat sangat di dalam dadaku.


Aku tidak ingin Chia terbangun mendengar isak tangisku.


Dengan pelan Aku berjalan menuju kamar mandi.


Membuncahkan semua tangisanku di antara kran air yang mengalir.

__ADS_1


"Sakit sekali ya ALLAH..." katakucsembari memegang dada.


"Sampai hati iya memperlakukanku seperti ini... Betapa tega nya iya padaku... Aku ini istri nya... Apakan iya menyadari itu?? Sampai kapan hubungan tidak sehat ini harus kujalani? Aku tidak kuat harus selalu bersikap seolah tidak terjadi apapun.. Padahal Aku luka ya ALLAH.." tangisku pilu.


"Astagfirullah... Astagfirullah.. Astagfirullah.." ucapku ribuan kali sambil berusaha menyeka air mata.


"Kuat Halimah... Kuat... Tidak ada satupun ujian yang ALLAH berikan diluar kemampuan hambanya... Kuat.. Kuat..." kataku pula menyemangati diriku sendiri.


Aku kemudian kembali berbaring di sebelah Chia setelah merasa lebih tenang.


Kupeluk anak sambung kesayanganku.


Kuhujani iya beberapa ciuman kasih sayang.


"Bunda sayang Chia nak... Insyaallah Bunda kuat demi Chia.." bisikku memeluknya lagi.


Malam ini kuhabiskan waktu menangisi hiduoku yang kinickembali suram.


Betapa Aku merindukan masa lalu.


Merindukan Ibu, Ayah, Abang Hafiz, Umi, Abi dan kehidupanku yang dulu bebas.


Kini semua terasa sulit.


Aku terkekang dalam pernikahan yang tidak jelas kemana arahnya.

__ADS_1


"Sampai kapan ya ALLAH... Mampukah Aku memoertahankan pernikahan ini?? Mungkinkah ada peluang untuk ku dan Abang Zaky menjadi sepasang suami istri yang sesungguhnya.. Bisakah kami menjadi keluarga yang Sakinah, mawaddah dan warohmah sebagaimana doa-doa para tamu yang mereka ucapkan untuk pernikahan ini... Terlalu sulit rasanya bagiku ya ALLAH.." perihku lirih dalam hati.


__ADS_2