
Nasehat Umi dan perhatian yang begitu tulus padaku membuatku berfikir panjang dalam malam yang pekat.
"Astagfirullah..." ucapku ribuan kali.
"Ampunkan Aku ya ALLAH... Ampunkan Aku yang sempat menyalahkanmu... Yang sempat berputus asa atas hidupku saat ini... Ampunkan Aku ya ALLAH.. Betapa lemah dan tipisnya iman ini, hingga ujianmu yang berat ini membuatku begitu goyah dan rapuh ya ALLAH... Aku terpuruk terlalu dalam rasanya.. Sampai Aku lupa kalau semua adalah ketentuan yang sudah seharusnya Aku jalani dengan ikhlas.. Bukankah semua yang bernyawa pasti akan kembali padamu.. Aku hanya perlu berjuang dan terus berusaha untuk lebih dekat padamu..?!" ucapku berbicara sendiri.
"Astagfirullah... Ampunkan dosa kedua orangtua hamba ya ALLAH.. tempatkan mereka dalam syurgamu tanpa hisab.. Kuatkan hati ini.. Tabahkan.. Bimbing ya ALLAH..." kataku lirih dengan tangisan lagi.
"Masih banyak orang yang menyayangiku.. Aku tidaklah sendiri di dunia ini... Tidak ada yang harus Aku takutkan... Bukankah ALLAH tempatku berlindung sesungguhnya?? Bumi ini hanyalah persinggahan... Tiada apapun yang perlu Aku risaukan.. Kuatkan Aku ya ALLAH.. Ikhlaskan hati ini menghadapi semua dugaan-dugaanmu.. Aku mohon ya ALLAH..." doaku lagi dalam sepertiga malamku.
"Aamiin... Aamiin ya robbal alamiin.."
Doa panjang yang menjadi cerminanku akhirnya membuatku untuk memutuskan kembali menata hati dan semangat hidupku.
Masih ada Umi, Abi, Kak Wulan, Kak Mirna dan para santri yang susah seperti keluarga dekatku. Tidak ada yang perlu Aku sesali terus menerus.
Jalanku masih sangat panjang, Aku harus bangkit kembali.
Kembali menata hidup, menjalani kehidupan yang bahagia dan penuh warna bersama orang-orang sekitarku.
__ADS_1
Aku harus yakin bahwa ALLAH pasti memberikan yang terbaik untuk hamba-hambanya.
"Bismillah... Semangat Halimah...!!" ucapku sendiri menyemangati diri sebelum berangkat ke sekolah untuk mengajar setelah 40 hari lebih satu minggu Aku sudah libur bekerja dan bahkan menutup diri dari semua orang.
Sambil berjalan gontai Aku mulai kembali tersenyum menyapa pagi yang cerah.
Sebagian para santri yang sedang asik dengan kegiatan mereka masing-masing, menyapaku yang lewat di asrama mereka dengan ramah.
Aku coba memberikan senyuman termanisku pada mereka.
"Kak Halimaah..." teriak wati dengan suara khas seraknya berlari kearahku.
"Wati..." kataku berdiri tegak menunggunya datang mendekat.
"Alhamdulillah... Maafkan kakak ya dek.." ucapku meraih tangan nya.
Dia menggeleng kuat.
"Wati mengerti kok kak.. Wati juga mungkin akan berbuat demikian jika Wati diposisi kak Halimah.." jawabnya dengan tersenyum.
__ADS_1
Aku meraihnya dalam pelukanku.
Lama kami berpelukan saling melepaskan beban.
Aku sangat bersyukur memiliki Wati yang sudah Aku anggap seperti adikku sendiri.
Dia sangat tulus menyayangiku layaknya kakak kandung nya sendiri.
"Yasudah, Kak Halimah mau ke sekolah dulu ya dek.. Takut telat.. Sudah lama sekali tidak masuk mengajar, Kak Halkmah harus bertemu dengan tazah Mirna dan Wulan dulu intjk meminta maaf" pamitku pada wati setelah melonggarkan pelukan kami.
Wati kembali mengangguk kuat.
"Sampai ketemu lagi ya kak.." ujarnya menyalamiku dan lalu membiarkanku pergi menjauh.
Dengan langkah gontai kususuri setapak demi setapak jalan menuju sekolah tempatku mengajar yang letaknya tidaklah terlalu jauh.
Aku kembali membayangkan wajah Umi dan Abi yang begitu berbinar bahagia ketika ku ucapkan maaf dan meluahkan semua persaaanku pada mereka subuh tadi.
Bahkan Umi mengantarku hingga pekarangan rumah ketika Aku akan berangkat ke sekolah oagi ini.
__ADS_1
Umi begitu bahagia melihatku kembali bersemangat menjalani hidup.
"Terimakasih ya ALLAH.. Engkau jadikan Umi dan Abi sebagai pengganti Ayah dan Ibuku.. Sehatkan mereka selalu ya ALLAH.. Aamiin" doaku dalam hati sambil masih berjalan pelan menuju sekolah.