Jalan Cinta Halimah

Jalan Cinta Halimah
Episode 46


__ADS_3

Pernihakan Ustad Ramli dan istrinya diadakan di sebuah gedung serbaguna yang cukup besar ukurannya.


Dari cerita yang kudengan, istrinya Ustad Ramli adalah anak dari salah satu kepala desa di kampung sebelah.


"Masyaallah... Acaranya meriah ya Umi.." kataku pelan memuji dekorasi yang cukuo indah dipandang mata.


"Iya.. Alhamdulillah... Ustad Ramli juga terlihat sangat cocok dengan istrinya.." puji Umi pula sambil melihat kedua mempelai yang sedang bersanding di pelaminan.


Sambil menikmati makanan yang disajikan mataku terus saja melihat ke kanan dan kekiri mencari orang-orang yang mungkin Aku kenal dalam jamuan pernikahan Ustad Ramli ini.


"Kak Wulan dan Kak nita kok gak keliatan ya.. Mereka sudah datang atau belum ya?" tanyaku dalam hati sambil kembali menyuap nasi.


Yang terlihat olehku hanyalah kolega-kolega Abi saja.


Abi memang cukup terkenal dan punya banyak kenalan sehingga rasanya hampir separuh tamu undangan di pesta ini menyapa Abi dan mengajaknya berbicara meskipun sekedar basa basi.


"Ustazaaaahh...." teriak Chia mengagetkanku.


"Chiaa...??! Kok kamu ada disini?" tanyaku pada gadia kecil yang mengenakan gaun pink layaknya seorang princess.


"Chia sama Eyang uti, Eyang Akung dan Deddy" jawabnya mungil.


"Ohya?? Tres mereka semua dimana? Kok kamu sendiri?" tanyaku lagi pada Chia.


"Itu.. Disana..." tunjuknya mengarah kesebalah kanan depanku.


Barulah tampak olehku Eyang Chia yang sedang berbicara akrab bersama Umi dan Abi.


Sungguh tidak kusadari ternyata Aku sudah duduk sendirian di meja makan sedari tadi.

__ADS_1


Entah kapan Umi menjnggalkan kursinya dan berbicara berdiri di sana bersama Abi dan yang lainnya.


"Yang itu Daddy Chia Ustazah.." tunjuk Chia pula mengarah kesebah kiri ujung dekat pintu.


Aku melihatnya sekilas.


Lelaki gagah dengan setelan Jas metalik yang tampak cuek duduk santai memainkan Hp yang ada ditangannya.


"Owh.. Itu Daddy Chia..." jawabku singkat lalu meraihnya untuk duduk disampjngku.


"Chia udah makan nak?" tanyaku lagi.


Dia menggeleng kuat.


"Chia tidak lapar Tazah.." jawabnya singkat.


Dia masih menggeleng.


"Kalau gitu makan buah aja mau gak? Ustazah ambil buat Chia ya..?" tanyaku lagi.


"Boleh deh.." jawabnya sedikit berfikir.


Aku tersenyum melihat tingkah lucunya.


Kuambilkan iya beberapa potong buah, lalu kami makan bersama sambil bercerita banyak hal.


Aku lebih banyak diam dan menjadi pendengar setianya yang bercerita tentang hidupnya bersama Eyang dan Daddy nya.


Sesekali kuelus lembut kepalanya dengan gemas.

__ADS_1


"Kok kamu lucu banget sih... Imut... Princess cantik ustazah..." kataku memujinya.


Dia tersenyum bahagia.


"Chia kan emang cantik dari lahir..." jawabnya melucu.


Kamipun tertawa bersama.


Kami larut dalam cerita berdua, sehingga melupakan jamuan pesta yang sedang kami hadiri.


Aku bahkan sampai lupa mencari keberadaan kak Nita dan Kak Wulan di dalam jamuan ini.


"Halimah apa kabar?" tanya Eyang Uti Chia padaku.


"Alhamdulillah sehat Eyang.. "Jawabku dengan senyuman termanis yang kumiliki.


Dia membalas senyumaku lalu mengenalkanku pada suaminya Prof. Hamdan yang namanya cukup tersohor sebagai donatur utama di pondok pesantren.


Eyang Uti juga memperkenalkanku pada Daddy nya Chia yang dipangginya dengan nama Zaky.


"Pria yang sangat dingin..." bisikku dalam hati.


"Bahkan untuk sskedar tersenyumpun iya enggan" kataku lagi.


"Mengapa sikapnya tampak angkuh? Jauh berbeda dengan kedua orangtuanya yang begitu ramah sekali pada semua orang.. Syukurnya Chia tidak seperti Daddy nya.." lagi kataku dalam hati.


"Astagfriullah.... " Segera Aku beristigfar ketika menyadari semua ucapan burukku dalam hati.


"Astagfirullah.. Astagfirullah..." kataku lagi.

__ADS_1


__ADS_2