Jalan Cinta Halimah

Jalan Cinta Halimah
Episode 32


__ADS_3

"Assalamualaikim Abang.. Apa kabar..? Halimah datang bersama Umi dan Abi.. Kami semua sangat merindukan Abang.. Abang yang tenang ya.. Umi dan Abi juga Halimah sehat disini.. Kami akan selalu mendoakan Abang.. Insyaallah Abang dilapangkan kuburnya.. ditempatkan dalam syurga ALLAH tanpa hisab.. Aamiin" ucapku sambil mengelus lembut batu nisan yang bertuliskan nama almathun suamiku tercinta.


Air mataku perlahan menetes.


Abi mulai memimpin doa untuk dihadiahkan pada Almarhum Abang Hafiz.


Suasana sore yang sepi dengan terpaan angin semilir membuat hatiku semakin perih.


Aku begitu merindukan suamiku.


"Astagfirullah.." ucapku dalam hati.


Selesai berdoa dengan langkah berat Aku perlahan mengikuti jejak kaki Umi dan Abi meninggalkan area pemakaman.


Umi yang seolah tau akan perasaanku saat ini dengan segera memelukku dan menghapus air mataku.


"Masfkan Halimah Umi.." ucapku pelan.


Dia menggeleng kuat.


"Tidak apa sayang.. Umi sangat mengerti perasaan Halimah.. Umi pun juga sangat rindu pada Hafiz.. " jawabnya memengang erat tanganku.


Aku mengangguk kuat dan kembali beristigfar.


Kamipun kemudia kembali pulang ke pondok pesantren.


Malampun kemudian menjelang.

__ADS_1


Damai yang begitu menenangkan setiap kali dapat sholat berjamaah dan mendengarkan tausiah Abi di mesjid pesantren yang cukup besar yang mampu menampung hampir semua anak santri nya.


'Pak Kyai' adalah panggilan yang biasa para santri sebutkan pada Abi ayah mertuaku.


Beliau memang begitu kharismatik, begitu tegas dan sangat berwibawa.


Aku bersyukur memiliki Ayah dan Ibu mertua yang sangat menyayangiku.


Diakhir tauziahnya, iya memimpin doa untuk dikirimkan pada Almarhum Abang Hafiz suamiku yang tidak lain adalah anak kandungnya sendiri.


Aku kembali menangis terisak.


Ibu mertua ku juga.


Kami berpelukan saling menguatkan.


Dialam yang Insyaallah akupun akan menyusulnya.


"Lapangkan kuburnya ya ALLAH.. tempatkan iya diantara orang-orang sholeh pilihanmu.. Aamiin" doaku pula dalam hati.


"Assalamualaikum Kak Halimah apa kabar?"panggil Wati padaku.


Wati adalah salah satu santri senior yang jyga masih sepupu dengan almarhum Abang Hafiz.


Anak yang begitu cantik dan ramah.


"Alhamdulillah kak Halimah sehat sayang... Wati apa kabar?" jawabku pula menyapanya.

__ADS_1


"Wati sehat kak.. Sejak kapan kak Halimah datang?"tanya nya lagi.


"Baru sore kemarin dek.. "jawabku lagi terseyum.


"Wati bahagia sekali liat kak Halimah disini.. Kak kembali tinggal di pondok?"tanyanya.


Aku menggeleng.


"Tidak sayang.. Kak Halimah hanya berkunjung saja.." jawabku.


"Owh.. Wati kira kakak tinggal di sini lagi.. Andai saja kak Halimah lembali tinggal disini, Wati pasti senang sekali.. Biar ada teman lagi.." katanya manja.


Aku kembali tersenyum.


"Belum ada rencana Sayang.. Tapi doakan saja ya.. Mana tau nanti lain waktu kak Halimah kembali kesini tinggal bersama Wati di pondok ini.." jawabku lagi.


"Aamiin.." ucapnya bahagia.


Malam ini Aku menghabiskan waktu untuk berbicang hangat bersama Umi dan Abi.


Ucapan Wati tadi di halaman mesjid sepertinya terdengar oleh Umi, sehingga Umi pun mengusulkan padaku untuk kembali tinggal di pondok dan mengajar disini.


"Halimah perlu bicarakan semua pada Ayah dan Ibu dulu Umi... Insyaallah nanti kalau sudah ada keputusan, Halimah akan segera menghubungin Umi ya.." jawabku sopan.


"Baiklah... Umi dan Abi sangat berharap Halimah mau kembali kepondok nak..Umi tunggu jawaban Halimah ya.." ucapnya lagi mengelusku lembut.


Aku mengangguk terseyum.

__ADS_1


"Selamat malam Umi... Abi.." kataku lagi sebelum meninggalkan mereka untuk pergi kekamar tidur.


__ADS_2