Jalan Cinta Halimah

Jalan Cinta Halimah
Episode 6. Merasa Bersalah


__ADS_3

Dua hari sudah sejak kejadian lamarannya yang ditolak, Rahman tidak pernah lagi tampak sedikitpun olehku.


Aku sudah mencoba untuk menghubunginya nya berulang kali.


Telepon ku tidak pernah sekalipun di angkat olehnya.


SMS yang ku kirimpun tidak pernah di balasnya sekalipun.


Aku tau Dia pasti marah besar dan sangat Kecewa atas sikap keluargaku.


Aku ingin sekali meminta maaf atas perlakuan Ayah yang kurang sopan kepadanya.


Hari ini setelah selesai dari membantu Ibu di pasar, Aku bertekad untuk datang langsung kerumahnya untuk berkunjung dan meminta maaf kepadanya juga kepada kedua orangtuanya.


"Assalamualaikum" ucapku sembari mengatuk pintu rumah Rahman beberapa kali.


"Waalaikumsalam" terdengar jawaban dari Ibu Rahman didalam rumah.


"Halimah? " Ucapnya seakan kaget melihat kedatanganku.


Aku mengangguk pelan dan mencoba memberikan senyuman untuk menutupi rasa gugupku.


"Rahman ada Buk? " tanyaku pada Ibu Rahman.


"Masuklah.. " ajaknya kepadaku untuk duduk di ruang tamu bersamanya.

__ADS_1


Aku menuruti perintah.


"Rahman sudah berangkat ke kota pagi tadi diantar oleh Ayahnya" ucap Ibu nya mengagetkanku.


"Kenapa Buk? Rahman jadi kuliah?" tanyaku penasaran.


" Karena merasa malu dengan hinaan yang diberikan Ayahmu kepada nya. Dia bertekad untuk melanjutkan kuliah nya di kota agar dapat membuktikan pada keluargamu bahwa iya adalah anak yang bertanggung jawab. Dan kami sebagai orangtua tentu saja hanya bisa mendukung dan mendoakannya semoga Dia berhasil dan mampu pulang dengan membawa kehormatan bagi kami orangtuanya agar tidak lagi di hina dan di rendahkan oleh orang-orang yang sok terpandang di kampung ini. terutama oleh Ayah mu!" ujar Ibu Rahman cukup berapi-api.


Aku kaget dan merasa sangat menyesal atas kejadian kemarin.


"Maafkan Ayah Halimah Buk... Maafkan keluarga Halimah.. " ujarku meminta Maaf sembari mencium kedua tangan Ibu Rahman dan menangis.


"Sudahlah Halimah... Pulanglah.. Tidak ada guna nya lagi kamu meminta maaf.. Doakan Rahman berhasil dalam perantauan nya" Ujar Ibu Rahman lagi sembari berdiri memintaku untuk keluar dari rumahnya.


Aku berdiri menyalami tangan beliau lagi lalu pergi meninggalkan rumah Rahman dengan perasaan bersalah.


Terdengar jelas nada telepon tersambung namun tak di angkat oleh nya.


Dia benar-bensr pergi membawa kemarahan tanpa pamit sedikitpun padaku.


Padahal Aku adalah sahabat dekatnya.


"Tut.. tut.. tut.. " Suara HP ku bergetar.


Satu buah pesan SMS dari Rahman masuk kedalam HP ku.

__ADS_1


"Assalamualaikum Halimah.. Maaf Aku pergi tanpa pamit terlebih dahulu. Aku kekota untuk merantau mengadu nasib. Akan Ku tunjuukan pada orangtuamu bahwa Aku mampu menjadi lelaki bertanggung jawab dan terhormat sehingga keluargamu akan menyesal karena telah menghinaku dan keluargaku. Semoga kamu Bahagia bersama lelaki pilihan orantua mu.. "


Aku benar-benar tidak Percaya dengan SMS yang barusan Aku baca dari Rahman.


Aku tidak mengangkatnya Rahman akan benar-benar marah dan sedang terhadap keluargaku.


Aku cuma bisa menyesal dan menangis dengan semua yang telah terjadi saat ini.


Aku kini kehilangan Rahman, sahabat terbaikku yang begitu Aku sayang.


Sudah tidak akan ada lagi sosok yang membelaku ketika Aku Di bully oleh teman-teman yang membenciku.


Sudah tidak akan ada lagi sosok yang mampu menghiburku ketika Aku menangis karena di marah oleh Ayah.


Sudah tidak akan ada lagi sosok Rahman yang begitu menyayangiku.


Kini yang ada hanyalah kenangan kami bersama-sama.


Masa-masa bahagia diwaktu sekolah telah berakhir.


Aku kini tinggal menunggu waktu untuk Merubah statusku menjadi seorang istri.


Sekalipun Aku tidak siap.


Aku menangis tersedu-sedu di dalam kamar.

__ADS_1


Meluahkan perasaan sakit hatiku dalam sepinya kamar.


"Kuatkan Aku ya ALLAH" Teriak hati kecilku.


__ADS_2