Jalan Cinta Halimah

Jalan Cinta Halimah
Episode 14. Home sweet Home


__ADS_3

Setelah shalat subuh, Aku bergegas kedapur untuk membuat nasi goreng sesuai permintaan Abang Hafiz tadi malam.


Ternyata di dapur sudah ada Ibu mertuaku sedang memasak air untuk membuat kopi kesukaan Kyai Rifa'i


"Jadi mau buat nasi goreng kampung nya?" tanya Umi padaku.


"Jadi Umi.." jawabku singkat sambil tersenyum.


"Bahan nya apa saja?" tanya Umi lagi padaku


"Seperti nasi goreng biasa kok Umi.. " jawabku sembari mengambil pisau untuk mulai mengupasi kulit bawang dan di bantu oleh Ibu mertuaku.


"Halimah terbiasa memasak di dapur?" tanya nya lagi padaku.


"Halimah sering bantu Ibu membuat kue, Umi.. Ibu kan setiap hari jualan kue di pasar, jadi Halimah selalu bantu-bantu beliau" jawabku sambil terus mempersiapkan bahan nasi goreng.


"Suykurlah.. Meskipun umur kamu masih terbilang muda tapi prilaku kamu sudah cukup dewasa.. Umi jadi tenang melepaskan kalian untuk membina sendiri rumah tangga kalian.. Hafiz itu anaknya agak manjaan, Dia paling suka di perhatiin.. Semoga dengan sikap kedewasaan Halimah dapat menjadikan rumahtangga kalian sakinah, mawaddah dan warohmah.. Amiin" ucap Umi sambil mengelus bahuku dengan penuh kasih sayang.


"Aamiin.. Makasih Umi.." jawabku tersenyum bahagia karena merasa begitu disayang oleh mertuaku.


Kami menikmati sarapan dengan begitu hangat.


Abi dan Umi tidak segan saling berbalas memuji nasi goreng buatanku.


Abang Hafizpun demikian, Dia begitu semangat memuji masakan ku dan ibu di depan orangtua nya.


Aku tersipu malu.


Selesai sarapan, Aku dan Abang Hafiz berjalan kaki menyusuri jalan pesantren menuju rumah yang akan kami tempati.

__ADS_1


Rumah yang akan kami tempati adalah salah satu rumah petak yang terletak tidak jauh dari rumah orangtua nya, tepatnya di bagian belakang jalan.


Perumahan yang memang dipersiapkan untuk para karyawan Pondok Pesantren.


Terdapat kurang lebih ada sekitar 12 susun rumah berdampingan dengan bentuk yang serupa dan warna cat yang sama.


Berwarna hijau daun.


Abang Hafiz membimbingku kebagian rumah yang paling belakang di sebelah kiri.


Dia kemudian mengambil kunci yang terdapat disaku celananya dan membuka pintunya.


"Assalamualaikum.. " ucapnya pelan.


"Selamat datang dirumah kita.. " ujarnya sambil tersenyum kepadaku.


"Hanya sebuah rumah petak, Tapi semoga bisa menjadi surga untuk rumahtangga kita ya.. Semoga Halimah betah disini.. " ujarnya lagi padaku dengan tatapan penuh arti.


"Insyaallah rumahku surgaku.." jawabku tersenyum.


"Aamiin.. Agak berdebu.. masih harus kita bersihkan dulu.. " ujarnya lagi.


"Kita bersihkan sama-sama Bang.." jawabku lagi


Dia mengangguk.


"Apa mesti minta bantuan beberapa santri?" tanya nya lagi.


"TIdak perlu Bang.. Kita aja yang bersihin nya.. Lagi pula tidak terlalu kotor kok.." jawabku menggeleng.

__ADS_1


"Baiklah.." jawabnya lagi lalu memulai menyodorkan sebuah sapu kepadaku sambil tersenyum.


Senyuman yang mulai melelehkan hatiku.


Kami membersihkan rumah sambil bercerita banyak hal.


Abang Hafiz menceritakan semua tentang Pondok Pesantren yang Aku tinggali sekarang.


Dia juga bercerita tentang masa-masa kuliahnya dan masa kecilnya yang memang dibesarkan di pondok pesantren ini.


Diapun bercerita tentang rumah yang kami tinggali ini sebenarnya memang telah cukup lama iya tempati, sejak iya mulai mengajar di pesantren ini dengan tujuan ingin lebih mandiri.


"Lusa kita pergi beli perabot di kota ya.. Halimah list keperluan apa saja yang harus kita beli ya.." ujarnya lagi padaku.


Aku mengangguk pelan.


Semua pekerjaan bersih-bersih selesai tepat ketika Azan Dzuhur berkumandang.


"Selesai shalat kita makan siang di kantin saja ya.. Halimah hari ini tidak perlu masak dulu.. " jawabnya penuh pengertian.


"OK" jawabku pula.


Dia tersenyum lalu dengan gemas mencubit hidungku.


"Abang mandi dulu ya.." ujarnya lagi berlalu ke kamar mandi meninggalkanku yang terpaku bahagia.


 


 

__ADS_1


__ADS_2