Jalan Cinta Halimah

Jalan Cinta Halimah
Episode 21. Makam Abang


__ADS_3

Tubuhku bergetar hebat sekali ketika Aku sampai di depan Makam Abang Hafiz.


Nama Abang Hafiz tertulis jelas di batu nisan yang masih sangat baru.


"Suamiku benar-benar telah tiada Buk.." ucapku melabuhkan pelukan pada Ibu.


"Istigfar Halimah.. Kamu pasti kuat.." jawab Ibu sembari mengelus punggungku dengan lembut.


"Astagfirullah.." ucapku berulang kali.


Perlahan Aku mendekat ke batu nisan. "Assalamualaikum Abang.. Halimah datang Bang.. Maaf baru hari ini Halimah datang untuk menjenguk Abang.. Halimah rindu Bang.. Betapa sayang ALLAH terhadap Abang, Dia tidak membiarkan Abang merasa sakit sedikitpun.. Dia mengambil Abang dengan cara nya sendiri.. Maafkan atas semua kesalahan Halimah ya Bang.. Maaf Halimah belum bisa menjadi istri yang baik untuk Abang... Halimah rindu Bang.. Teramat rindu.." Ucapku pelan di depan makam Abang Hafiz.


"Halimah mari kita berdoa untuk Almarhum" ucap Ayah membuyarkan lamunan panjangku.


Aku mengangguk pelan.


Ayah memimpin doa dengan hikmat.


Air mataku terus saja mengalir tak terhenti.


Semua kenangan indah yang begitu singkat menari-nari di pelupuk mataku.


"Astagfirullah.." ucapku dalam hati berulang kali.


Susah payah Aku menyeka air mata yg tak mampu Aku hentikan.


"Halimah rindu Bang.. Teramat rindu.." ujarku lagi dalam hati.


Selesai Berdoa Aku kembali memeluk batu nisan Abang Hafiz.

__ADS_1


"Abang.. Halimah rindu.. Ampunkan semua dosa-dosa Halimah selama menjadi istri Abang ya... Abang adalah suami yang begitu sempurna untuk Halimah.. Meskipun pernikahan kita hanya 3 bulan saja, tapi begitu indah bagi Halimah Bang.. Halimah sayang Abang.. Abang yang tenang ya... Insyaallah Halimah ikhlas atas semua takdir yang ALLAH tuliskan atas kita berdua.." bisikku di batu nisan.


"Ya ALLAH ampunkanlah segala dosa-dosa Abang Hafiz.. Lapangkanlah kuburnya.. Mudahkanlah hisab nya.. Tempatkanlah iya di antara orang-orang yang beriman.. Dan jadikanlah iya penghuni syurga firdausmu ya ALLAH.. Aamiin Yarobbal Alamiin" Ujarku lagi berdoa masih sembari memeluk nisan Abang Hafiz.


"Halimah, mari kita pulang nak..! Hari sudah mulai senja.." ajak Ayah mengangkat kedua bahuku.


Aku mengangguk menuruti perintah Ayah.


Dengan gontai Aku berjalan menjauhi makam Abang Hafiz.


Meninggalkan sepenggal hatiku disana.


Ibu dan Ayah terus mendampingiku berjalan disisi kanan dan kiri.


Merekalah kini alasanku untuk kuat menghadapi kenyataan.


Senja yang mulai datang di iringi gerimis kecil membuat hatiku terasa semakin perih saja.


Kakiku terasa melayang tidak menapak di jalan.


Kepalaku berat sekali seperti tertimpa batu besar.


"Astagfirullah..." ucapku menghentikan langkahku.


Tanganku reflek memwgang erat lengan Ibu diaampingku.


"Kenapa Nak?" tanya Ibu.


"Halimah pusing Buk" jawabku pelan nyaris tak terdengar oleh Ibu.

__ADS_1


Semakin terasa berat.


Pemandanganku berputar-putar.


Lalu semua gelap.


Cuma suara Ibu yang kudengar.


"Halimaahhhhh.....!!!" ujar Ibu memanggil namaku berulang kali.


Aku tidak mampu menjawab panggilan Ibu.


Kepalaku semakin berdenyut kencang.


Akupun tidak sadarkan diri.


"Halimah... Bangun Nak.." kembali kudengaf suara Ibu memanggil namaku.


"Buk.." jawabku pelan dengan suara tercekat.


"Halimah kenapa?" tanyaku berat.


"Halimaj pingsan di jalan pulang tadi Nak.." jawab Ibu lagi.


"Kata dokter Halimah tidak kenapa-kenapa.. Hanya lelah dan tekanan darah rendah.." ujar Ibu lagi menjelaskan padaku.


"Maaf ya Buk.. Lagi-lagi Halimah merepotkan Ibu dan Ayah.." ucapku lagi sedih.


"Tidak ada yang direpotkan sayang.. Kamu adalah tsnggung jawab Ibu dan Ayah.. Kamu harus kuat ya Nak.. Pecayalah tidak satupun cobaan yang ALLAH turunkan pada umat nya diluar dari kemampuannya.. Dan Halimah harus yakin akan ada hikmah dibalik semua peristiwa yang sekarang menimpa Halimah... Ingat masih ada Ibu dan Ayah juga ALLAH yang begitu mencingai Halimah san akan selalu ada disisi Halimah dalam suka dan duka.. Banyak-banyak berdoa dan istigfar ya Nak.. Ibu sangat sayang Halimah Nak.." ujar Ibu lagi menasehatkanku sambil mengely oelan rambutku yang terurai panjang.

__ADS_1


"Halimah sayang Ibu.." ucapku memeluk Ibu lagi.


Ibu membalasku dengan pelukan yang lebih erat dan hangat.


__ADS_2