
Suara Adzan Dzuhur yang berkumandang menandakan siang sudah didepan mata.
Aku dan Ibu bergegas mengemas toko dan bersiap untuk pulang.
"Masih ada kue yang tersisa sedikit Buk.. 10 potong lagi.. Halimah bagikan sama anak-anak jalanan di depan ya buk.." kataku meminta izin pada Ibu.
"Boleh.." jawab Ibu singkat.
Aku tersenyum bahagia mendengarnya.
Setelelah menutup toko, Ibu pulang kerumah lebih awal di jemput Ayah. Sementara Aku berjalan kaki sendiri dengan santai menuju ujung parkiran untuk menemui anak-anak pengamen lalu membagikan kue pada mereka.
Aku sangat bersyukur atas hidupku yang ALLAH berikan dibandingkan nasib malang anak-anak jalanan ini yang sebagian dari mereka telah kehilangan salah satu orangtuanya dan bahkan ada yang telah kehilangan keduanya.
Mereka setiap harinya harus mengamen, menjadi kuli angkut dan juga ada yang menjadi tukang bersih pasar agar bisa mengisi perut mereka tiap harinya.
Mereka tidak lagi bersekolah karena untuk makan saja mereka susah payah.
__ADS_1
Umur mereka masih cukup muda. Tapi kenyataan hidup membuat mereka memikul tanggung jawab yang begitu besar dalam hidup.
Nasib malang yang menimpaku ketika kehilangan suamiku, seakan hanyalah masalah kecil jika di bandingkan dengan masalah yang menimpa anak-anak jalanan ini.
Aku bahagia sekali ketika melihat mereka dengan senyum bahagia melahap kue yang Aku bawakan untuk mereka.
"Kak Halimah, terimakasih ya.." ujar ujang salah satu anak jalanan yang duduk yepat disisi kiriku.
Aku mengangguk terseyum kepadanya, juga kepada yang lainnya.
senyuman tulus mereka seakan tidak ada beban yang perlu mereka fikirkan.
Selesai bercengkrama dengan anak-anak jalanan, Aku kembali pulang kerumah dengan perasaan senang sambil berdendang salawat dengan pelan.
"Assalamualaikum Halimah.." Sapa seorang wanita separuh baya menghentikan langkah kakiku.
"Waalaikumsalam Buk.." jawabku pelan menoleh kearah nya.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum padaku.
Senyum yang seolah mengolokku.
"Apa kabar Buk?" tanyaku pada wanita yang tentu tidak asing sama sekali.
"Baik.. Bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya.. Kamu tau.. Lusa Rahman akan datang, Dia datang dengan membawa kehormatan untuk kami keluarganya.. Dia sudah menjadi seorang yang sukses di kota, bekerja sebagai asisten pribadi dari seorangpemilik perusahaan terbesar di kota. Bahkan Dia bahkan telah berhasil menyelesaikan kuliahnya berkat bantuan Bos nya yang begitu baik.. Lusa Dia akan pulang.. Ibuk sangat tidak sabar untuk melihat putra tercinta Ibu kembali kepangkuan Ibuk.. Rahman telah membuktikan ucapannya atas hinaan orangtuamu dulu.. Sekarang roda berbalik.. Semoga Rahman telah mengubur rasa cinta nya padamu.. Karna Saya pasti tidak akan pernah restu jika Rahman menikahi janda sepertimu.." ucap Ibu Rahman penuh keangkuhan.
Aku terdiam tanpa bisa berucap apapun.
Keadaan memang telah berubah.
Air mataku perlahan menetes.
"Halimah minta maaf atas segala yang telah terjadi di masa lalu itu Buk... Halimah turut bahagia atas keberhasilan Rahman.. Dan Insyaallah hubungan Halimah dan Rahman sebagai teman tidak akan pernah berubah sampai kapanpun.. Ibuk tenang saja, Halimah tidak akan memanfaatkan keadaan Halimah untuk menarik perhatian Rahman.. Halimah janji Buk.." ucapku tegas.
"Sykurlah kalau begitu.. Baiklah.. Ibuk pamit ya.. Assalamualaikum.." ujarnya lagi meninggalkanku yang masih terdiam menahan sakit yang teramat perih di ulu hatiku.
__ADS_1
"Astagfirullah.." kataku berulang kali menenangkan hati.