
Tuutt..tutt..
Sebuah pesan singkat masuk kedalam telepon genggamku.
Sebuah pesan dari Rahman yang baru saja kami jumpai tadi.
"Jadi ini alasan sesungguhnya mengapa kamu menolakku? Karna Mr. Zaky adalah Boss ku? Tidak kusangka wanita sholeha sepertimu bisa begitu licik dan bermuka dua.." isi pesan Rahman begitu menyakitkan hatiku.
"Astagfirullah..." kataku menghela nafas panjang menahan rasa kesal di dadaku.
"Ada apa Halimah?" tanya Abang Zaky yang melihat ku gelisah.
"Tidak Bang.. Tidak apa-apa kok.." jawabku terbata memperbaiki posisi dudukku di dalam mobil.
Tuutt... Tutt..
Sebuah pesan dari Rahman kembali masuk.
"Aku memang tidak sekaya Mr. Zaky, Halimah... Tapi Aku tulus mencintai kamu dan berniat untuk bertanggung jawab atas dirimu.. Tapi tidak kusangka kalau ketulusanku kalah dengan gemilau harta yang dimiliki keluarga Mr. Zaky... Sungguh tidak kusangka kalau kamu tidak ada bedanya dengan para wanita-wanita diluaran sana yang silau akan harta dan tahta, sehingga lupa dan mengabaikan orang yang tulus untuk mu.. Sungguh menyedihkan.." Kata Rahman lagi didalam pesan nya.
Aku semakin merasa sedih dan bersalah karena tidak mengundangnya dalam penikahanku.
Seharusnya Aku mengundangnya.
__ADS_1
Menceritakan semua yang sebenarnya terjadi sehingga iya tidak akan salah paham padaku.
Tapi terlambat.
Apalah lagi gunanya kini? Bagaimanapun Aku menjelaskan padanya, pasti tidaklah ada gunanya.
"Phufff.... Astagfirullah.." kataku lagi menghela nafas panjang.
Tutt.. Tutt... Tut..
Sebuah pesan kembali masuk dilayar kaca Hpku.
"Betapa bencinya kah kamu padaku? Begitu dendam kah kamu padaku? Padahal Aku benar-benar menyesali atas apa yang pernah terjadi pada kita dimasa lalu.. Kuhapuskan semua dendamku, kebencianku, kesalku dan kulakukan ribuan bujuk rayu memohon pada Ibu agar iya mau merestui kita Halimah.. Aku sangat mencintaimu.. Tapi ini balasanmu?? Bahkan pernikahanmupun kamu sembunyikan dariku.. Luar biasa... Terimakasih untuk luka yang teramat pedih ini.. Selamat atas pernikahanmu dengan Mr. Zaky.. Aku memang tidak ada bandingannya jika disanding dengan suamimu yang kaya raya, berpendidikan, tampan dan memiliki segalanya.. Semoga kalian bahagia... Selamat tinggal Halimah.." Ujar Rahman dalam pesan terakhirnya.
Mataku mulai terasa panas.
Tubuhku gemetar menahan rasa sakit setelah membaca semua pesan Rahman.
"Maafkan Aku Rahman... Aku telah menghancurkan hatimu... Mengabaikan kebaikanmu.. Bahkan melupakanmu.." ucapku dalam hati yang semakin terluka.
"Halimah... Are you OK?" tanya Abang Zaky lagi sembari membuka pintu mobil untukku.
"Oowwhh... Iya.. its Ok.. Mungkin Halimah terlalu capek saja.."jawabku asal pada Abang Zaky lalu segera berpaling dan menyeka air mata yang nyaris membuncah dihadapan Abang Zaky.
__ADS_1
Dia mengangguk, lalu menggandengku masuk kedalam rumah.
"Bundaa..." teriak Chia kecil kesayanganku.
"Chia rindu..." katanya lari kedalam pelukanku.
"Bunda juga rindu sayang.. Maaf ya Bunda kemarin tidak pulang, Bunda temani Daddy kerja.." kataku mengelus pipi mungil nya.
"Iya Bund... Gakpapa.." jawabnya.
"Ini oleh-oleh untuk putri cantik Daddy" ujar Abang Zaky menyodorkan sebuah kantong berwarna putih pada gadis kesayangannya.
"Waah... Terimakasih Daddy.." peluk Chia pada Daddy nya tercinta.
Selesai bercengkrama sebentar, Aku masuk kedalam kamar untuk membersihkan diri.
Fikiranku jauh menerawang, mengingat kembali semua pesan- pesan yang telah Rahman kirim untukku.
Aku tau Dia begitu kecewa padaku.
Aku paham itu.
Tapi Aku sungguh merasa sedih atas pemikirannya yang begitu dangkal tentang ku.
__ADS_1
"Maafkan Aku Rahman..." kataku lagi didalam hati.