Jalan Cinta Halimah

Jalan Cinta Halimah
Episode 56


__ADS_3

Baru saja rasanya Aku mulai terlena ketika tiba-tiba Aku merasa tubuhku dipeluk dari belakang.


"Halimah... Sudah tidur..?" tanya Abang Zaky dengan suara beratnya tepat di belakang telingaku yang tertutupi oleh rambut.


Tubuhku bergidik merespon perlakuan Abang Zaky.


Segera Aku bangkit duduk untuk melepaskan diri dari pelukannya yang tiba-tiba.


"Ada apa Bang? Abang butuh sesuatu?" tanyaku terbata lalu merapikan rambutku.


Abang Zaky menggeleng kuat lalu ikut duduk tepat disampingku.


"Tumben lepas hijab nya.." katanya bertanya dengan segaris senyuman.


Aku menunduk malu, ini memang kali pertama Aku memperlihatkan rambutku di depan Abang Zaky.


"Kan kita sudah sah, Jadi Halimah rasa tidak salah jika membuka jilbab di depan Abang.. Lagipula bukankan sehalai rambut saja menjadi pahala?" kataku mulai memerah menahan malu.


Dia mengangguk kuat.


"Cantik.." jawabnya lalu mengelus lembut rambutku.


Sebuah ciuman hangatpun mendarat tepat diubun-ubun.


Tubuhku kembali bergetar dibuatnya.


Abang Zaky menganggkat daguku lembut.


Wajah merah meronaku sudah tidak mampu kututupi.


Aku merasa begitu gugup.


Dia tersenyum sangat manis.


Jantungku berdetak sangat kencang.


Diselipkannya anak rambutku kebelakang telinga.

__ADS_1


Lalu dikecupnya pipi kananku dengan lembut.


Aku hanya bisa memejamkan mata.


Membiarkannya menghujani wajahku dengan kecupan-kecupan basah.


Hingga kepucuk bibir.


Lalu turun menjelajahi leher jenjangku.


Terus dan terus bergeriliya melucuti pakaianku didalam selimut.


Dan kemudian Abang Zaky berhasil meluluhkanku dalam malam yang begitu luar biasa.


Aku yang tak berdaya hanya bisa pasrah menikmati permainannya ditengah-tengah gelapnya malam.


"Abang..." kataku terbata tak mampu melanjutkan ucapan ketika perang selimut telah selesai.


Dia hanya tersenyum meraihku dalam pelukannya.


Tidak ada lagi satu katapun yang terucap.


Malam ahkhirnya mengantarku menjadi istri seutuhnya bagi Abang Zaky.


"Ya ALLAH.. Jadikan ini pernikahan terakhirku.. Tumbuhkanlah rasa cinta diantara kami.. Rasa sayang.. Rasa saling memiliki.. Rasa saling menghargai.. Rasa saling menerima kekurangan.. Aamiin" doaku dalam hati sambil menatap lekat kearah Abang Zaky yang telah tertidur pulas.


Mataku tidak mengantuk sedikitpun.


Aku bangkit membersihkan badan lalu sholat dan berzikir.


Fikiranku jauh menerawang dan tidak tenang.


"Mengapa perasaanku sangat sedih? Bukankah seharusnya Aku bahagia karena telah menjadi milik Abang Zaky seutuhnya?" tanyaku dalam hati.


Tapi perasaan sedih, takut, bimbang seolah mengalahkan rasa bahagiaku.


Semua kenangan kembali terbayang di benakku.

__ADS_1


"Bapak.. Ibu... Halimah rindu.." kataku mulai menangis haru mengingat almarhum dan almarhumah kedua orangtuaku.


"Bapak.. Ibuk... Halimah sekarang sudah jadi istri lagi... Halimah sekarang punya keluarga baru.. Bahkan punya anak sambung yang begitu baik dan lucu.. Bapak dan Ibu tenang disana ya... Doakan Halimah agar bisa jadi istri yang baik.." kataku dengan deraian air mata.


"Ibu... Halimah rindu sekali.. Halimah ingin bercerita buk.. Halimah ingin meminta nasehat..." kataku pilu.


"Astagfirullah..." ucapku lagi mengusap wajahku berulang kali.


Memori kemudian membawaku pada almarhum Absng Hafiz suami pertamaku.


Kenangan malam pertama yang begitu syahdu bersamanya kembali terngiag.


Indahnya masa-masa hidup bersama Abang Hafiz seakan membayang satu persatu dipelupuk mataku.


Waktu itu, Aku selalu di bimbing Abang Hafiz untuk sholat berjamaah.


Dengan mesra iya selalu membangunkanku sholat subuh.


Menyiapkan sarapan dan bahkan membatuku menjemur pakaian.


Kehidupan yang sangat sederhana namun penuh rasa syukur bahagia.


Pernikahanku kali ini jauh berbeda.


Aku bahkan belum pernah sekalipun sholat berjamaah bersama Abang Zaky.


Dia terlalu dingin untukku.


Aku hanya bisa berharap semoga setelah apa yang terjadi malam ini, Abang Zaky akan luluh dan mulai mencintaiku.


Sungggu sebenarnya tidak jarang hatiku terasa teriris setiap kali memandang frame-frame foto pernikahan Abang Zaky dengan almarhumah istrinya.


Frame foto yang masih memenuhi hampir sepertiga kamar ini.


Didinding kamar, di nakas, di meja rias dan bahkan di meja kerjanya foto almarhum sang isyri masih bertengger dengan rapihnya.


"Wanita yang sangat cantik dan modis.. Mungkinkah Aku mampu mengalahkannya di hati Abang Zaky? Mustahil rasanya.." bisikku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2