
Berminggu-minggu lamanya Aku larut dalam rasa bingung.
Bingung antara keinginan hati yang begitu besar untuk kembali tinggal di pondok bersama mertuaku atau tetap di kampung menemani Ayah dan Ibu menghabiskan masa tua mereka.
"Hey... Halimah... Pesanan Saya sudah selesai?" tanya seorang pelanggan memecah lamunan panjangku.
"Astagfirullah... Maaf kak.. iya, ini pesanan nya sudah.. totalnya Rp.25.000 kak.." jawabku gagagp.
"Ini duitnya... Mau jualan atau melamun?" jawab si pembeli dengan kesal.
"Makasih kak.. Maaf ya.. " kataku sekali lagi sambil menundukkan kepala.
"Hmmm.." ucapnya pelan lalu berlalu pergi.
"Halimah... Kamu kenapa nak? beberapa hari ini Ibu perhatikan kamu sering melamun.. Kamu sakit? atau ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari Ibu?" tanya Ibu mendekat kearahku.
Aku menggeleng kuat.
"Maafkan Halimah Buk" jawabku singkat.
"Halimah... Ceritakan saja jika memang ada yang membuatmu merasa tidak nyaman!" ujar Ibu lagi padaku.
__ADS_1
Aku masih mwnggeleng dengan seulas senyum.
"Kamu sedih karena omongan warga tentang status mu yang sekarang?" tanya Ibu lagi menyinggung omongan warga yang menggosipkan nasib malangku yang kini menjadi janda di umur yang masih cukup muda.
"Tidak Buk... Halimah tidak perdulj dengan ucapan mereka Buk... Apapun yang ingin mereka bicarakan tentang Halimah, bagi Halimah itu tidak perlu ditanggapi... Halimah pasrakahan pada ALLAH yang maha mengetahui dan maha merencanakan atas segala apa yang ada dihidup Halimah Buk.. Yang penting bagi Halimah, Ibu, Bapak sehat... Dan selalu menyayangi Halimah.." jawabku memeluk Ibu tercinta.
"Tentu saja sayang... Ayah dan Ibu pasti akan selalu menyayangimu.. dan selalu mendoakan yang terbaik untuk putri semata wayang kami tercinta.." jawab Ibu meneduhkan hatiku.
"Halimah sayang ibu..." ucapku lagi sambil menghujani pipi keriputnya dengan ciuman manja.
Lalu kami tertawa bersama.
"Kamu belum punya rencana untuk kedepan Halimah?" tanya Ayah padaku.
"Maksud Ayah apa?" ucapku balik bertanya.
"Rencanamu kedepan bagaimana?? Bagaimana kalau kamu kuliah nak??" tanya ayah pula mengagetkanku.
Bagaimana mungkin Aku tidak kaget dengan pertanuaannya. Bukankah dulu Beliaulah yang begitu keras menolak keinginanku untuk melanjutkan kuliah.. Dengan begitu keras beliau memaksaku untuk menikah dengan lelaki pilihannya.. Beliau pula yang mengatakan kalau wanita itu tidak membutuhkan sekolah yang tinggi.. cukup bisa membaca, menulis dan berhitung saja untuk bekal mengajar anak² nya kelak.. Karna bagaimanapun menurut beliau kodratnya perempuan itu adalah dirumah.
Dan sekarang, Beliau jelals bertanya dan bahkan menyarankankj untuk kuliah? ada apa dengan nya?? Fikirku aneh.
__ADS_1
"Kuliah?" tanyaku balik lagi.
Dia mengangguk kuat.
" Ayah merasa berdosa atas apa yang terjadi padamu sekarang Nak.. Ayah terlalu arogan.. Terlalu munafik.. Seandainya saja Ayah membiarkanmu melanjutkan sekolah mu waktu itu, mungkin saat ini kamu sudah sesukses Rahman.. Atau bahkan lebih.. Bukan menjanda diusia muda seperti saat ini... Maafkan Ayah Nak.." ujar Ayah pelan dengan nada sedih.
Aku masih sangat tidak percaya dengan ucapannya.
Aku cuma bisa diam meresapi kata demi kata penyesalan yang Ayah lontarkan dari mulutnya.
"Sekarang Ayah ingin mewujudkan impianmu Nak.. Semuanya belum terlambat bukan? Ayah akan berjuang keras untuk membantumu mewujudkan semua cita-citamu... Kejarlah semua mimpi mu Nak.. Ayah dan Ibu pasti mendukungmu.." ujar Ayah lagi dan kali ini diiringi dengan isak tangis Ibu yang duduk tepat disampingku.
Aku masih tidak mengeluarkan satu katapun.
Dengan gemetar Aku duduk kebawah lalu sujud di kaki Ayah.
Ayah segera mengangkatku dan memelukku erat.
Ibu mendekat.
Kami berpelukan dalam malam yang haru tanpa ada pembicaraan lagi.
__ADS_1