
Sampai detik ini jantungku masih saja terasa berdetak kencang tidak karuan.
Makan malam yang begitu canggung masih sangat membekas diingatanku.
Aku terlalu gugup sehingga menjatuhkan gelas minum yang kupegang.
Malu sekali rasanya.
Untung nya Abang Zaky begitu mengerti keadaanku.
Dengan sigap memanggil Bik Minah untuk membersihkan beling kaca yang berserakan dilantai.
Lalu memberikanku air minumnya sendiri.
"Memalukan sekali" kataku berbicara sendiri.
"Bunda kenapa?" tanya Chia yang sedang berbaring tepat disampinku.
"Tidak kenapa-kenapa sayang..." kataku salah tingkah mengelus rambut lembut.
"Bunda besok sekolah?" tanya nya lagi.
"Iya nak... Besok kita kesekolahnya sama-sama ya.. Sekarang waktunya anak bunda tercinta ini untuk tidur..." kataku mencium kening Chia belyrang kali.
"Oke..." jawabnya singkat.
"Bunda.... Chia bahagia sekali karena sekarang sudah punya mama.. Makasih ya sudah mau jadi mamanya Chia... Chia sayang bunda.." ucapnya membenamkan tubuh mungilnya diatas dadaku.
"Masyaallah nak.... Bunda juga sayang sekali sama Chia.." jawabku bahagia memeluknya dengan erat.
Lalu kami saling tatap bahagia.
__ADS_1
"Insyaallah Bunda akan berusaha jadi mama yang terbaik untuk Chia.. dan Chia juga harus janji untuk jadi anak yang baik.. Anak yang penurut.. Dan anak yang sholeha ya.. Aamiin.." kataku memandang lurus kemata nya.
Dia mengangguk kuat, lalu kembali memelukku.
" Chia.. Halimah.. Lagi pada ngapain?" tanya Eyang yang tiba-tiba sudah berdiri tepat diatas ranjang yang kami tiduri.
"Eyang...." kata Chia segera bangkit turun dari kasurnya.
"Kok belum tidur? Besok kan sekolah.." kata Eyang pada Chia.
"Ini Chia mau tidur.. Eyang.. Chka bahagiaaa sekali... Karena mulai sekarang Chia udah pjnya Bunda...." ucap Chia pula pada Eyang nya.
Eyang pun mengangguk tersenyum mengelus rambut chia yang lurus.
" Sekarang Chia tidur.. Besok berangkat sekolah bareng Bunda kan?" tanya Eyang membujuk Chia untuk pergi tidur.
"Oke... Selaamt malam Eyang... Selamat malam Bunda.." jawabnya lalu mencium pipiku dan pipi Eyang satu persatu.
"Halimah... Terimakasih ya nak... Eyang juga sangat bahagia dengan kehadiran Halimah dirumah ini... Eyang titip Chia dan Zaky ya.." ujar Eyang sambil memengang lembut kedua tanganku.
Aku mengangguk memberikan senyuman tulus padanya.
"Bimbing Halimah ya Eyang... Bantu Halimah agar bisa jadi ibu, istri serta menantu yang baik untuk keluarga ini.." jawabku lembut.
"Insyaaallah.." jawab Eyang mengelus pipiku lalu memberikan ksyarat untuk ku masuk kedalam kamar untuk tidur.
"Assalamualaikum" ujarku dengan gugup membuka pintu kamar.
"Waalaikumsalam..." jawab Abang Zaky yang ternyata masih duduk di meja kerjanya yang berada tepat di sebelah kiri bagian kamar yang hanya disekat oleh lemari berukuran besar.
"Chia sudah tidur?" tanya nya tanpa bergeming dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Sudah.." jawabku singkat berdiri mematung di depan pintu kamar.
"owh.. Baguslah.." jawabnya lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Aku hanya mengangguk, memperhatikannya sebentar dari jarak jauh lalu pergi menuju toilet untuk bersih-bersih badan dan mengambil air wudhu untuk sholat isya.
Selesai sholat Isya, Aku perlahan dan dengan gugup mencoba mendekati Abang Zaky.
Selangkah demi selangkah.
Sangat pelan.
Lalu terdiam.
"Gak ah... Ntr dikiran Aku perempuan gatal.." bisikku dalam hati lalu memutar badan.
"Tapi kan Aku sekarang sudah jadi istri sah nya.. Cuma sekedar melihatnya sebentar dan mengucapkan selamat tidur boleh dong?" kataku lagi berperang dengan perasaan.
Lalu Aku kembali berjalan menuju meja kerja Abang Zaky.
Tapi langkahku terdiam takmampu kulanjutkan.
Hanya sebatas tepat disamping lemari pembatas.
Kepalaku kusodorkan agak maju mengintip.
"Ada apa?" tanya nya melihat tingkah anehku.
Aku segera menggeleng kuat dengan perasaan gugup.
"Halimah tidur duluan ya... Selamat malam Abang.." kataku lalu berlari melompat keatas tempat tidur meninggalkan Abang Zaky yang masih sibuk dengan dunia kerjanya.
__ADS_1
"Hmmm..." kataku agak kesal, lalu menarik selimut dan mencoba untuk tidur.