Jalan Cinta Halimah

Jalan Cinta Halimah
Episode 12. Kampung Harapan Jaya


__ADS_3

Ibu dan Ayah mengantar kami sampai di depan pintu rumah dengan suasana haru biru.


Tak ingin rasanya kulepas pelukan Ibu dan Ayahku.


Aku terus terisak mendengarkan semua nasehat-nasehat dan doa yang mereka panjatkan untukku dan Abang Hafiz.


"Kami pamit Yah.. Buk.." ujar Abang Hafiz untuk yang terakhir kalinya.


Aku melambaikan tangaku dari balik kaca mobil dengan air mata yang masih terus saja mengalir deras.


"Bismillah" ujar Abang Hafiz mulai melajukan mobil nya menjauh dari rumahku.


Toyota Yaris Silver inipun perlahan menjauh dari rumah.


Perlahan ku pejamkan mataku yang  terasa sangat perih dan sembab akibat terlalu banyak menangis tadi.


Aku tidak menghiraukan Abang Hafiz sama sekali.


Perasaanku benar-benar berkecamuk.


Ada rasa takut yang sangat besar membuncah di dalam fikiranku.


"Semoga keluarga Abang Hafiz mampu menerimaku dengan baik.. Semoga Aku mampu dengan cepat menyesuaikan diri di lingkungan baruku.. Bantu Aku ya ALLAH." doaku dalam hati.


Akupun Akhirnya tertidur.


Ketika Aku terbangun, mataku tertuju pada gapura besar bertuliskan ' SELAMAT DATANG DI KAMPUNG HARAPAN JAYA'


"Kita sudah sampai?" tanyaku pada Abang Hafiz yang tetap fokus menyetir.


"Yup.. Selamat datang di kampung Harapan Jaya" jawabnya sambil tersenyum kearahku.


Senyumnya terlihat begitu manis.

__ADS_1


Jantungku tiba-tiba berdetak kencang sekali.


Cukup lama Aku terkesima menatap kearah nya.


"Astagfirullah... Ada apa denganku?" ucapku segera memalingkan wajahku kearah luar jendela mobil.


Kampung Harapan Jaya ini hanya berjarak kurang lebih hampir dua jam dari kampung halamanku.


Meskipun terbilang cukup dekat, sejujurnya ini adalah kali pertama Aku menginjakkan kaki di kampung ini.


Hanya Ayah dan Ibu saja yang sering kemari untuk mengikuti pengajian di pesantren Kyai Rifa'i,  Abi dari Abang Hafiz yang merupakan sahabat lama Ayah.


"Masih jam setengah tiga, dan kita masih ada waktu untuk berkeliling kampung dulu sebelum masuk kepesantren" ujar Abang Hafiz memecah lamunanku.


"Halimah setuju? atau mau langsung ke pesantren saja?" tanya nya padaku lagi.


"Tentu saja Halimah setuju Bang.." jawabku cepat sambil tersenyum sumeringah.


Dia kembali membalas senyumanku dengan manis nya.


Abang Hafiz kemudian menjalankan mobilnya pelan menyusuri jalan perkampungan yang sangat asri dengan pemandangan sawah di kiri dan kanannya.


mobil kemudian berhenti di kaki lereng bukit yang tidak terlalu tinggi.


"Ayo turun" ajaknya padaku.


Abang Hafiz kemudian menggandeng tanganku menyusuri jalan setapak menuju puncak bukit.


"Masyaallah.. Indah sekali Bang.." ujarku terkesima meilhat indahnya pemandangan kampung ini dari atas bukit.


Kampung Harapan Jaya ini berbeda dengan kampung Suka Cita tempat asalku.


Dikampungku jarang sekali terdapat persawahan, karena yang menjadi komoditi dari masyarakat disana adalah pohon karet dan kopi.

__ADS_1


Sementara di kampung Harapan Jaya ini, Padi menjadi komoditas utama yang di tanam di hampir seluruh penjuru kampung.


Sehingga terlihat sangat indah, teratur dan asri.


Pemandangan yang benar-benar memanjakan mata.


"Di sepanjang lereng bukit ini adalah sawah milik pesantren, dan setiap petani yang bekerja di pertanian milik pesantren maka berhak menyekolahkan anaknya di pesantren secara gratis sampai tamat SMA" ujar Abang Hafiz menjelaskannya padaku.


Aku takjub mendengar ceritanya.


Kami kemudian duduk di tepi bukit sambil menikmati semilir angin yang sangat menyejukkan.


" Halimah... Terimakasih" ujarnya meraih kedua tanganku.


Aku terperanjat kaget.


"Terimakasih untuk apa?" ujarku bertanya.


"Abang tau, berpisah dari Ayah dan Ibu pasti sangat sulit untuk Halimah, Namun demi bakti Halimah terhadap Abang, Halimah pun rela meninggalkan mereka untuk turut bersama Abang ke kampung ini.. Abang tau, pasti banyak hal yang sekarang ini sedang berkecamuk didalam fikiran Halimah. Termasuk mungkin rasa takut karena merasa sendirian, Tapi satu hal yang mesti Halimaah ingat, Abanglah sekarang yang bertanggung jawab seutuhnya atas diri Halimah.  Abang tidak bisa menjanjikan apapun.. Tapi Insyaallah Abang akan berusaha menjadi suami terbaik untuk Halimah dan keluarga kecil kita.. Halimah percaya sama Abang ya.." ucapnya menatap dalam kearah mataku.


Aku mengangguk pelan tanpa menjawab.


Perlahan tangan kanannya membelai lembut pipiku yang memerah karena malu.


Dia kembali tersenyum sangat manis.


aku menunduk tidak mampu menatapnya.


Perlahan Dia mendekat lalu mencium keningku.


Lama.


Tubuhku kaku tak bergeming sedikitpun.

__ADS_1


Ada rasa bahagia bercampur haru yang menenangkan.


"Apakah Aku mulai mencintai nya?" bisikku dalam hati.


__ADS_2