Jalan Cinta Halimah

Jalan Cinta Halimah
Episode 20. Kenyataan Pahit


__ADS_3

18 hari lamanya Aku dirawat dirumah sakit.


Hari ini akhirnya dokter mengizinkan Aku untuk pulang kerumah.


Setelah berbagai pengobatan Aku jalani, termasuk menemui dokter psikolog yang menangani kejiwaanku yang tergoncang hebat akibat dari trauma akan kecelakaan yang merenggut suamiku tercinta.


Aku dibawa pulang kerumah orangtuaku.


Tidak kepesantren.


Aku yang meminta nya, Aku merasa tidak sanggup jika harus kembali ke pesantren dan melihat smua kenangan yang terpatri selama tiga bulan bersama Abang Hafiz di sana.


"Buk.. Besok Halimah ingin melihat makam Abang.."ujarku pelan setelah makan malam bersama Ibu dan Ayah.


"Besok Ibu dan Ayah antar ya.." jawab ibu mengangguk pelan.


"Apa kamu yakin nak?? Kamu sudah kuat??" tanya ibu pula padaku.


"Insyaallah Buk.." jawabku dengan getir.


"Baiklah kalau begitu besok sore kita pergi ya.. Ini obat nya diminum dulu, setelah itu Halimah istirahat ya.. " jawab Ibu lagi padaku.


Aku mengangguk dan menuruti perintah Ibu.


Selesai minum obat Aku segera membersihkan diriku lalu mengambil air wudhu untuk mengerjakan shalat isya.


Kulihat kearah Ibu sekilas yang kembali meneteskan air matanya melihat keadaanku sekarang ini.

__ADS_1


Aku tau betul betapa iya berusaha untuk tegar di hadapanku.


Aku mencoba tersenyum lagi kearah nya.


Getir.


Aku mengerjakan shalat isya di bawah temaram lampu kamar 5 watt.


Hampa sekali rasanya.


Tidak satu rakaatpun terlepas dari air mata yang terus saja bercucuran.


Berulang kali Aku beristigfar diantara tiap bacaan shalat ku.


Aku tak kuasa menahan sesak di bagian dadaku.


"Aku sakit ya ALLAH... Aku sakit...!!!" teriakku dalam hati.


"Kuatkan Aku ya ALLAH... Kuatkan Aku..." bisikku lagi memohon dalam sepi.


Aku terus menangis hingga mataku terasa lelah dan mengantuk.


Efek obat yang kuminum tadi sepertinya mulai bereaksi.


Aku pun tertidur dalam dekapan mukena yang masih berbalut.


Diantara air mata yang masih terus mengalir di bawah alam sadarku.

__ADS_1


Aku tertidur sampai suara Azan subuh mengagetkanku.


"Astagfirullah..." ucapku berulang kali sebelum beranjak untuk kembali mengambil air wudhu.


Selesai shalat subuh, Aku keluar kamar menuju dapur.


Aku tersenyum melihat Ibu yang sedang sibuk menyiapkan kue-kue dagangan nya.


"Ibu pasti repot sekali selama tiga bulan ini kan?" tanyaku sembari mendekat untuk membantunya.


"Tidak kok.. Ibu udah biasa. Awal-awal kamu pergi dulu memang terasa agak repot karena biasanya ada kamu yang bantu Ibu.. Tapi setelah terbiasa udah gak terasa repot lagi kok.. Lagi pula ada Ayah kamu yang kadang bantu Ibu kalau lagi banyak pesanan kue.." jawab Ibu sambil tersenyum begitu hangat.


"Mulai hari ini Halimah akan kembali bantu Ibu ya.." ujarku lagi.


Ibu hanya mengangguk dan tersenyum mebalas ucapanku.


"Ibu berangkat ke toko dulu ya.. Kamu dirumah hati-hati ya.. Jangan lupa minum obat ya.." ujar Ibu bwrpamitan setelah kue-kue nya siap untuk di bawa kepasar.


"Oke Buk... Ayah kemana? sudah berangkat ke kebun?" tanyaku lagi.


"Sudah.. Ayah berangkat lebih awal biar bisa pulang lebih cepat katanya.." jawab Ibu lagi padaku sambil mengangkat nampan ke atas kepala nya dan menjinjing satu keranjang lagi di bagian tangan kirinya.


"Ibu pergi ya.. Pintu di kunci.. Assalamualaikum" ucap Ibu lagi sebelum pergi meninggalkanku sendirian di rumah.


"Waalaikumsalam.." jawabku pelan.


"Aku harus kuat demi mereka.. Aku masih punya mereka yang begitu mencintaiku.. Ibu.. Ayah.. Halimah sayang kalian.. "Bisik ku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2