
Dengan perlahan Aku membuka kantong pemberian Ibu mertuaku.
Sebuah surat, Satu set perhiasan dan Jam tangan couple yang sudah retak.
Jam tangan yang menyisakan luka mendalam bagiku.
Jam tangan yang menjadi saksi pilu kisah tragis yang membawa Abang Hafiz pergi jauh untuk selamanya dari hidupku.
Aku manangis tersedu-sedu mengingat semua memori yang telah lalu.
Saat itu Aku merasa sangat bahagia luar biasa karena dapat menghabiskan waktu seharian bermanja dengan Abang Hafiz.
Jam tangan couple yang kami kenakan di pergelangan tangan kami membuat raut wajah Abang Hafiz begitu tampak bercahaya.
Abang Hafiz begitu tampan sekali hari itu.
Aku menangis tersedu membayangkan semua kenangan kami kembali.
"Mengapa begitu singkat ya ALLAH?" tanyaku pilu dalam hati.
Kenangan yang begitu indah juga begitu menyakitkan untuk ku.
Pernikahan yang begitu singkat.
sangat tragis.
Aku menangis semalaman suntuk hinggal azan subuh membangunkanku.
__ADS_1
Tubuhku terasa sakit semua, mataku juga membengkak dan perih.
"Astagfirullah..." ucapku berulang kali sambil memijit perlahan kepalaku yang pusing.
Aku terbangun dan segera mengerjakan sholat subuh.
Lalu antara sadar dan tidak, Aku merasa dihampiri Abang Hafiz yang duduk tepat disebelah kananki mengenakan pakaian serba putih lengkap dengan kopiah haji dan kain sarung yang melilit begitu rapi di tubuhnya.
"Abang..." ucapku perlahan menatap dalam kearahnya uang tersenyum begitu manis.
Abang Hafiz mengangguk perlahan.
"Tersenyumlah.. Ikhlas.. dan Bersabarlah.." ucapnya terdengar menggema di kupingku dengan jelas.
"Abang..." ucapku lagi lirih dan mulai menangis.
"Halimah....!!!!!!" terdengar suara Ibu memanggilku begitu keras di sisi kiri.
Dengan berat kucoba membuka mata mulitku.
"Buk..." kataku pelan tersadar dari pingsanku.
"Kamu baik-baik saja Nak... ?"tanya Ibu cemas sambil terus mengusapkan minyak kayu putih di ujung hidungku.
Aku mengangguk perlahan.
Kesadaranku mulai pulih.
__ADS_1
Aku mengingat kembali semua yang telah terjadi.
Aku pingsan tepat ketika Aku berdiri untuk membuka mukenaku setelah sholat subuh.
"Ibu..." kataku perlahan meraih lengan Ibu untuk ku peluk.
Aku menangis tersedu-sedu.
Ibu membelaiku penuh kasih sayang.
"Istigfar Halimah.." ujar Ayah yang berada tepat di sebelah ibu.
"Astagfirullah.." kataku lagi berulang kali lalu mencoba untuk menenangkan diriku.
Akupun kemudian menceritakan semua yang baru saja kualami.
Ayah dan Ibu memelukku erat.
Mengusap pundakku, juga ubun-ubunku.
"Halimah.. Sudah waktunya kamu bangkit dari keterpurukan nak.. Jangan biarkan diri kamu terus larut dalam kesedihan.. Hafiz sudah bahagia di sisi sang Khalik.. Kelak, kitapun juga akan menyusulnya kesana.. Tidak ada yang abadi di dunia ini Nak.. Ikhlaskan agar iya pun tenang di alam baka sana.. Bersabarlah.. ALLAH pasti punya rencana yang terbaik untuk mu... Ikhlaskan Nak... Ikhlaskan.." nasehat Ayah masih sambil mengelus ubun-ubunku.
Aku mengangguk perlahan.
"Maafkan Aku ya ALLAH.. Maafkan Aku yang terlalu larut dalam kesedihan.. Maafkan Aku yang telah menyalahkan takdirmu yang kurasa tidak adil untukku.. Maafkan Aku..."ucapku dalam hati.
"Tempatkan Almarhum suamiku di sisi terbaikmu ya ALLAH.. Tempatkan iya dalam syurga firdausmu.. Tempatkam iya bersama orang-orang yang disayang Nabi Muhammad.. Tempatkan iya dalam syurgamu tanpa hisab.. Kini Aku ikhlas ya ALLAH.. Aku ikhlas akan semua ketentuanmu.. Aku ridho akan hodupku yang telah engkau gariskan.. Kuatkan Aku.. Beri Aku petunjukmu.. Ampunkan segala dosa-dosaku.. Beri Aku jalan yang luris dalam keridhoanmu.. Aamiin.." doaku lagi dalam hati yang penuh harap.
__ADS_1
"Maafkan Halimah Yah.. Buk... Halimah sudah membuat Ayah dan Ibu menjadi cemas.. " kataku lalu mencium kedua tangan orangtua ku.
Ayaj dan aibu mengangguk perlahan dan kamipin kemudian saling berbalas senyum haru.