
"Assalamualaikum.. Halimah.. Bangunlah.. Ayo makan, ini Abang bawa makan malam untuk kita.. " ujar Abang Hafiz dengan lembut membangunkan ku yang tertidur di sofa panjang dengan mukena yang masih berbalut.
"Astagfirullah.. Abang.. Maaf, Halimah ketiduran.. Tadi selesai shalat magrib, Halimah Coba tadarrus sebentar, tapi ngantuk sekali, sampai ketiduran.. Maaf ya.. " ucapku pada Abang Hafiz yang baru saja pulang dari masjid.
Abang Hafiz membalas penjelasanku dengan senyuman manis nya.
Lagi..
Aku terpaku dan terpukau dengan senyuman yang begitu tulus itu.
"Ayo..!" ucapnya membuyarkan lamunanku.
Kami menikmati nasi goreng hangat yang di bawa Abang hafiz bersama teh hangat yang dituang nya kedalam sebuah gelas berukuran besar yang kami minum bersama.
Selesai makan, Abang Hafiz membantuku membereskan sisa-sisa makanan kami.
Aku yang mencuci piring dan Dia mengelap meja makan.
Aku tersenyum bahagia melihat nya.
Dia benar-benar mulai membuatku jatuh cinta pada nya.
Perlakuannya terhadapku membuatku luluh untuk jatuh hati padanya.
Dia begitu perhatian dan pengertian.
Dia tidak sungkan membantu meringankan setiap pekerjaanku.
Dia bahkan tidak pernah memaksaku untuk melakukan sesuatu hal yang dia inginkan.
Dan bahkan sampai saat ini , Dia tidak pernah protes dengan sikapku yang masih tertutup dan terkadang seolah mengabaikan nya.
"Halimah, kita shalat isya berjamaah yuk.. Setelah itu kita istirahat ya.. Kamu pasti lelah sekali kan..? Abang juga.." ucapnya lagi sembari mendekat padaku yang baru saja selesai mencuci piring.
Aku menjawabnya dengan anggukan pelan.
Kamipun mengerjakan shalat isya berjamaah.
Hatiku kembali bergetar hebat ketika bersalaman dengan nya.
Seperti ada aliran listrik yang begitu besar mengalir di tubuhku ketika bibir nya yang dingin menyentuh bagian keningku cukup lama.
"Ayo beristirahat.." ajaknya kemudian sambil tersenyum.
Dan Aku kembali menjawab ajakannya dengan anggukan pelan.
Dia berbaring pelan dengan sedikit mengeluhkan suaranya dqn membenarkan posisi tidurnya agar lebih nyaman.
Sementara Aku dengan gugup berbaring membelakanginya yang memejamkan mata sambil memijit lembut kening nya dengan mata yang menatap kearah langit-langit kamar.
"Halimah.. Boleh tolong pijitkan kepala Abang? Rasa nya sakit sekali" ujarnya meminta padaku.
Aku segera duduk bersandar di tepi ranjang.
Perlahan kupijitkan kepalanya dengan kedua tanganku yang dingin karena gugup.
Dia memejamkan matanya menikmati pijitanku.
Aku terus memijit kepalanya sampai iya tertidur.
Perlahan Akupun tertidur karena lelah.
Tiba-tiba Aku terbangun kaget ketika kurasakan tubuhku disentuh oleh tangan yang kokoh
Aku terperanjat kaget.
Hampir saja Aku lompat turun dari tempat tidur.
__ADS_1
"Maaf.. Abang cuma ingin memperbaiki tidur Halimah.." ujarnya segera menjauhkan tangan nya dari tubuhku.
Dengan kikuk Aku mengangguk pelan.
Dia beranjak bangun dari tempat tidur.
"Abang mau kemana?" tanyaku padanya.
"Mau sholat malam.." jawabnya singkat sambil tersenyum.
"Halimah ikut ya!" pintaku
Dia mengangguk.
Kamipun melaksanakan sholat malam bersama.
Setelah sholat Aku duduk di sisi nya mendengarkan iya melantunkan surah Al-mulk dengan indahnya.
Dan entah kekuatan apa yang membawaku tanpa sengaja berbaring manja di pangkuan nya.
Mungkin karena suara merdu nya mengaji.
Dengan lembut dibelainya keningku yang masih tertutup mukena.
Tiba-tiba Aku merasa bersalah.
"Dia adalah suamiku, Aku adalah istrinya.. Sudah seharusnya Aku memenuhi kewajibanku sebagai istri yang sesungguhnya untuknya..." bisikku dalam hati.
Selesai mengaji, Abang Hafiz diam menatap dalam kearah mataku.
Aku menjadi salah tingkah.
Setengah berlari Aku keluar kamar menuju kamar mandi.
Aku gugup sekali.
Mencoba menenangkan diriku dan membulatkan tekadku.
Lalu perlahan Aku kembali masuk kedalam kamar.
Kulihat Abang Hafiz sudah berbaring kembali ketempat tidur dengan mata nanar menatap langit kamar.
Perlahan kubuka mukenaku lalu kulipat seadanya dan meletakkannya diatas sajadah.
Aku duduk di meja rias yang berada tepat di samping tempat tidur.
"Bismillah.." ucapku dalam hati, lalu membuka jilbabku perlahan.
Dengan gugup kusisir pelan rambutku yang menjuntai sepinggang.
Aku sangat gugup.
Ini untuk pertama kali nya Aku memperlihatkan rambut indahku pada orang lain selain kedua orangtuaku.
Lalu kusemprotkan sedikit parfum di bagian-bagian sensitifku.
Wangi parfumku mengalihkan pandangan Abang Hafiz.
Dia memandang kearahku yang duduk terpaku di meja rias menahan malu.
Dia bangun dan mendekat.
Aku semakin gugup.
"Halimah.. Kamu cantik sekali.." ucapnya yang berdiri tegak di belakangku.
Dia meraih sisir di tanganku.
__ADS_1
Lalu mulai menyisir lembut rambutku yang lurus.
Kemudian di kecupnya ubun-ubunku.
Kami saling tatap melalu cermin rias.
Dia tersenyum lembut.
"Kamu sudah siap?" tanya nya padaku.
Aku mengangguk pelan.
Dia tersenyum lagi.
Perlahan diangkatnya bahuku memberi tanda agar Aku bangkit dari kursi meja rias.
Aku bediri menurutinya.
Sekarang kami saling berhadapan.
Dengan lembut dibelainya pipiku yang merona karena salah tingkah.
Aku menunduk malu.
Dia mengangkat daguku lembut.
Lalu dengan sigap dikecupnya bibirku.
Aku kaget.
Diam tidak membalas tidak pula mengelak.
Aku memejamkan mataku.
Aku mulai menikmatinya.
Dia kemudian menggendong tubuh mungilku menuju kasur.
Perlahan dibaringkan nya tubuhku.
Aku terdiam kaku.
Dia mulai mendekat.
Aku semakin gugup dan takut.
Dia mengecup perlahan keningku.
"Bismillah.. Kita berdoa bersama ya.." ujarnya berbisik dengan bibir menempel di telinga kananku.
Aku bergidik geli.
Lalu perlahan Dia kembali mendekat kewajahku.
mulai mengecup setiap sudut wajahku.
Aku memejamkan mata.
Kurasakan tangannya mulai meraih kancing piyamaku.
Aku terpaku diam tak bergerak.
Aku membiarkan nya melepas satu persatu yg membalut tubuhku.
Dan malampun kemudian menjadi saksi ketika kami saling menyatu sebagai suami dan istri seutuhnya.
"Bismillah.. Semoga ALLAH memberikan kami keturunan yang sholeh/sholeha dari cinta yang mulai kami pupuk atas rahmat dan keridhoan dari nya. Aamiin" Bisikku dalam hati diantara perih dan nikmat yang menjalar diseluruh titik tubuhku tanpa terkecuali.
__ADS_1