
Akhir nya tanggal pernikahanku dengan Abang Hafiz telah di putuskan.
Kami akan melangsungkan pernikahan pada tanggal 20 Juli bulan depan.
Aku cuma bisa menurutinya tanpa membantah sedikitpun.
Hari ini Ibu dan Ayah mengajakku ke kota untuk membeli beberapa perlengkapan persiapan pernikahan.
Dengan perasaan malas Aku menuruti mereka.
Kami berangkat menggunakan jasa travel yang setiap hari nya berangkat tepat jam 6 pagi.
Jarak antara kampungku dengan kota Sebenarnya tidaklah terlalu jauh.
Hanya memakan waktu kurang lebih 3-4 jam saja.
Kami tiba di kota langsung menuju pusat perbelanjaan.
Ibu sibuk memilih beberapa gamis yang cantik untukku.
Sementara Ayah sibuk dengan telepon genggamnya untuk menghubungi saudara-saudaranya guna memberitahu tentang rencana pernikahanku dengan Abang Hafiz.
"Halimah.. Kamu mau gamis warna apa? " tanya Ibu lagi padaku.
"Terserah Ibu sajalah.. " jawabku malas.
__ADS_1
"Kamu itu, semua terserah Ibu.. Ayah juga sibuk saja dengan HP nya.. " Kata Ibu dengan kesal.
Aku diam tidak menjawab, lalu berjalan kearah luar Toko karena tidak ingin berdebat dengan Ibu.
"Aauuww... " ucapku kesakitan ketika tubuhku tertabrak dengan seorang lelaki yang berlari terburu-buru.
"Sorry.. Sorry" Ucapnya lalu membantuku berdiri.
"Jalan sempit begini kamu malah lari-lari.. Kamu copet ya? " tuduhku padanya.
"Ehh.. Emang Aku punya tampang copet? " tanya nya dengan nada marah karena tuduhanku.
Aku terdiam tidak menjawab.
Pemuda Itu langsung berlari meninggalkanku yang terdiam heran dan bingung.
"Dasar Anak tidak tau diri...!!! Liat saja nanti dirumah ya..!! " Teriak Bapak itu sembari menunjuk kearah sang pemuda.
"Halimah Kamu kenapa? " tanya Ayah mengagetkan lamunanku.
"Tidak apa-apa Yah.. Tadi tidak sengaja tertabrak orang lewat.. Sepertinya kaki Halimah terkilir Yah.. " ucapku menjawab pertanyaan Ayah dengan sedikit meringis menahan ngilu di pergelangan kaki kiriku.
"Makanya kalau jalan hati-hati, lihat ke kanan dan Kiri.. " nasehat Ayah pula padaku.
"Baik Ayah.. " jawabku singkat lalu duduk di kursi depan Toko yang memang di sediakan untuk pengunjung Toko.
__ADS_1
"Sepertinya Aku sudah salah duga, Dia bukan copet tapi Dia pasti anak nakal yang sedang di kejar-kejar oleh Bapak Nya.. " ujarku lagi dalam hati.
"Dasar anak kota emang gakda sopan santunnya" bisikku lagi dalam hati.
Setelah selesai berbelanja, Kamipun segera pulang kerumah karena haripun sudah mulai sore.
Tepat saat azan magrib berkumandang kami tiba di depan rumah di antar oleh supir travel yang cukup ramah pada semua penumpangnya.
Selesai shalat magrib Aku, Ibu dan Ayah kembali memeriksa semua keperluan untuk acara pernikahan.
"Mulai senin besok Ayah rasa kamu tidak perlu mengajar lagi. Kamu cukup fokus untuk persiapan pernikahanmu saja" Ujar Ayah membuat perasaanku semakin sakit.
"Tapi kenapa Yah?? Acara pernikahan kan masih 3 Minggu lagi.. Masih lama Yah.. " jawabku sedikit memelas.
"Sudahlah... Turuti saja ucapan Ayah.. Lagipula nanti setelah kami selesai menikah kamu juga akan Ikut suami mu.." Ujar Ayah lagi tanpa memikirkan perasaan sedihku.
"Kasih Halimah waktu satu minggu lagi Yah.. Biar nanti Halimah carikan guru pengganti Halimah dulu Yah.. Agar murid-murid Halimah tidak ketinggalan belajarnya" bujukku lagi.
"Yasudahlah kalau begitu, minggu depan ya.. " ucap nya lagi dengan tegas.
"Makasih Yah.. " ucapku mengangguk.
Tak terasa air mataku menetes tak terbendung ketika kubaca dengan jelas undangan pernikahan yang menulis namaku dan Abang Hafiz disana.
"Ya ALLAH.. Apakah Aku benar-benar akan menikah?? umurku baru 18 tahun ya ALLAH.. Sejujurnya Aku belum siap.. Kuatkan Aku ya ALLAH.. " bisik hatiku lirih.
__ADS_1