
Kepergian Abang Hafiz masih menyimpan luka yang begitu dalam di hatiku.
Sejak kejadian Aku pingsan tempo hari, Ibu akhirnya memutuskan untuk tidak pergi berjualan dulu sementara waktu.
Ibu menemaniku sempanjang hari.
Memberikan ku semangat dan nasehat-nasehat yang menguatkan diriku.
Akupun mulai bertekad untuk bangkit.
Aku yang masih dalam masa iddah mulai merasa bosan dirumah saja.
Aku duduk termenung di di tepi jendela yang berada di tepat di sebelah kursi tamu.
"Assalamualaikum.." terdengar suara seorang mengucap salam dari arah luar rumah.
"Waalaikumsalam" jawabku sambil segera berdiri membuka pintu.
"Umi.. Abi... "Ujarku kaget ketika melihat kedua mertuaku yang berdiri di depan pintu rumah.
"Assalamualaikum Halimah.." ujar Umi sembari meraihku dalam pelukan nya.
"Waalaikumsalam Umi.." jawabku sambil membalas pelukan hangatnya.
Lama kami saling berpelukan.
Kurasakan dengan jelas tubuh Umi berguncang hebat menahan tangisan nya.
Aku memeluknya lebih erat.
mengelus pundaknya seolah menegaskan padanya kalau Aku sudah baik-baik saja.
Kulirik ke arah Abi, Ayah mertuaku.
Jelas tampak wajah sedih yang tidak mampu iya tutupi.
__ADS_1
ada genangan air yang sedang iya tahan agar tidak menetes di sudut matanya.
"Halimah apa kabar nak?" tanya Umi melepaskan pelukannya.
"Alhamdulillah Umi, Halimah sudah sehat" jawabku lagi sembari mencium tangan nya dan tangan Ayah mertuaku.
"Mari masuk Umi.. Abi.." ajakku pada mereka.
Setelah mempersilahkan mereka duduk di kursi tamu, Aku segera bergegas kedapur memanggil Ibu yang sedang memasak untuk makan siang.
"Buk... Ada Umi dan Abi diluar" ujarku pada Ibu.
"Ohya..??" jawab Ibu agak terkejut.
Aku mengangguk pelan.
"Yaudah kalau gitu Halimah siapkan minum, Ibu pergi ganti pakaian dulu ya.." jawab Ibu lagi bergegas masuk kedalam kamarnya yang terletak tidak jauh dari dapur.
Sembari membuatkan teh hangat kudengar suara Ibu yang menyapa dengan ramah kedua mertuaku yang sedang bertamu.
Mereka begitu perhatian padaku.
Dan Aku tau betul kalau mereka juga begitu terluka atas kepergian Abang Hafiz anak tercintanya.
Setelah menyajikan teh hangat di atas meja tamu, Aku duduk tepat di samping Umi yang sudah kuanggap seperti Ibu ku sendiri.
Dia tersenyum getir memandang kearahku.
mengusap lembut pipi kananku.
Perlahan air matanya kembali menetes.
"Umi rindu Halimah.." ujarnya lembut.
Aku yang tidak mampu membendung air mata segera memeluknya lagi dengan erat.
__ADS_1
"Halimah juga rindu Umi.." jawabku sesungukan.
"Semua terjadi begitu cepat nak.. Begitu menyakitkan.. " ujarnya lagi sambil terus menangis dan memeluk tubuhku.
Aku hanya diam tak mampu bersuara.
"Umi tau Halimah pasti sangat terpukul.. Umi juga begitu sayang.. Umi sangat mencintai Hafiz begitupun Halimah. Umi sudah menganggap Halimah layaknya anak kandung Umi sendiri.. Umi merasa kehilangan sekali nak.. Kehilangan kalian berdua.." ujarnya terus menangis.
"Umi... Maafkan Halimah..." ucapku memeluknya makin erat.
"Halimah belum sanggup untuk pulang ke pesantren Umi.. Terlalu banyak kenangan yang begitu indah bersama Abang Hafiz disana.. Meskipun singkat tapi begitu lekat tak terlupakan.. Halimah tidak kuat Umi.." ujarku membalas nya masih dengan tangisan pula.
"Umi faham Nak.. Tapi percayalah kapanpun Halimah ingin datang ke pesantren, Umi dan Abi slalu ada untuk Halimah ya sayang.. Umi tidak ingin kepergian Hafiz memutus silaturahmi kita sayang... Umi sangat menyayangi Halimah.. " ujar Umi lagi mengelus punggungku dengan sangag lembut.
"Sebenarnya kemarin kami dari nyekar ke makam Hafiz Buk.. Pak.. Cuma maaf tidak mampir ke pesantren soalnya sudah kesorean dan Haljmah sempat pingsan kemaren" kata Ibu ku yang sedari tadi ikut menangis terharu melihatku dan Umi saling berpelukan.
"Tidak apa Buk.. Kami sangat memahaminya.." jawab Ayah mertuaku pula pada Ibu.
"Assalamualaikum.. " terdengar suara Ayah yang baru aaja pulang dari kebun.
"Waalaikumsalam" jawab kami hampir bersalaman.
Ayah segera masuk membersihkan dirinya dan menemui kedua mertuaku.
Dan setelah berbincang singkat kami makan siang bersama dirumah.
Umi dan Abi terlihat cukup bahagia berkumpul dengan kami semua.
"Halimah.. ini barang untuk Halimah.. " ujar Umi lagi sebelum berpamitan pulang.
"Makasih Umi.." jawabku menyambut sebuah kantong berwarna pink keabuan dari Ibu mertuaku.
"Halimah... Semua yang terjadi adalah takdir dari sang pemilik kehidupan.. Percayalah Umi dan Abi mendoakan yang terbaik untuk Halimah.. Rumah Umi dan Abi juga pondok pesantren slalu terbuka untuk Halimah.. Umi dan Abi sangar sayang Halimah.. Halimah tidak sendiri Nak.. Halimah yang kuat dan tegar ua Nak.. " ujar Ayah mertuaku meneduhkan.
Aku mengangguk menyalami san mencium tangan nya.
__ADS_1
"Abi dan Umi sehat-sehat ya.. Halimah sayang Abi dan Umi" ucapku pula lada Abi.