Jalan Cinta Halimah

Jalan Cinta Halimah
Episode 25. Jalani Hidup


__ADS_3

Nasehat Ayah dan kehadiran Abang Hafiz dalam ruang bawah sadarku beberapa hari lalu seolah menyadarkanku dari mimpi panjang yang begitu menyakitkan.


Tidak ada cobaan yang ALLAH berikan melebihi kemampuan hambanya.


Sudah seharusnya Aku bangkit dari keterpurukan ini. Tidak sepantasnya Aku terus larut dalam kesedihan hingga menyusahkan kedua orangtuaku dengan hidupku yang terasa begitu malang.


Dengan semangat baru, Aku berjalan menuju dapur menemui Ibu dan Ayah yang sedang menikmati ubi goreng dan segelas kopi hangat diatas meja.


"Ayah... Ibu..." sapaku pada mereka dengan sopan.


"Ada apa Nak... Kemarilah.." jawab Ibu dengan lambaian tangan nya.


Aku mendekat lalu memeluk Ibu dengan erat.


Lalu memeluk Ayah dan mencium kedua jari tangan mereka.


Wajah mereka tampak heran melihat tingkahku.


"Halimah... Kamu baik-baik saja Nak?" tanya Ayah khawatir.


Aku tersenyum dan mengangguk kuat.


"Ayah, Ibu... Halimah minta maaf karena telah menyusahkan Ayah dan Ibu.. Membuat Ayah dan Ibu khawatir dengan tingkah Halimah yang terlalu larut dalam kesedihan.. Halimah janji, mulai hari ini tidak akan bersikap menyedihkan lagi.. Mulai hari ini, Halimah ingin bangkit kembali.. Kembali menata hidup yang baru dan berjuang bersama Ibu dan Ayah.. Maafkan Halimah ya Ayah.. Ibu.."ucapku penuh semangat.

__ADS_1


Ibu dan Ayah mengangguk kuat dengan wajah terharu.


Tampak dengan jelas air mata Ibu menetes pelan di pipinya sambil mengucapkan "Alhamdulillah" katanya bersyukur.


"Ayah dan Ibu akan selalu ada untukmu Nak.. Akan selalu siap menjadi tempatmu berpijak sampai kapanpun.. Ayah dan Bu sangat menyayangimu Nak.." kata Ayah mengelus kepalaku dengan lembut.


"Terimakasih Ayah, Ibu.."jawabku bahagia.


Pagi ini, Hidupku terasa kembali cerah, semangatku telah pulih kembali.


Selesai sarapan pagi yang penuh haru bersama Ayah dan Ibu, Aku kembali kekamar mengerjakan sholat dhuha lalu memanjatkan segala doa kepada ALLAH SWT meminta pengampunan, kekuatan, ketabahan, kesehatan, rezeki dan kesabaran dalam menghadapi semua cobaan-cobaan hidup yang akan terus datang silih berganti dalam hidupku.


"Buk.. Mulai besok, Halimah bantu Ibu berjualan di pasar ya... Halimah bosan dirumah saja.." kataku pada Ibu yang sedang memasak untuk makan siang.


Aku mengangguk turut bahagia.


"Nanti Halimah temankan Ibu ya.. Kita kewarung nya sama-sama.." kataku lagi pada Ibu.


"Boleh.." jawab ibu singkat dengan seulas senyum termanisnya.


Kami saling berbalas senyum.


Siang harinya, Aku dan Ibu berjalan santai menuju warung yang berada tidak jauh dari rymah untuk membeli beberapa bahan kue.

__ADS_1


Ada sedikit rasa risih, ketika Aku melewati beberapa Ibu- ibu warga yang sedang asik berkumpul di di kursi panjang depan pohon ribdang yang berada tepat di depan warung.


"Siang ibuk-ibuk.." sapa Ibuku dengan sopan pada mereka.


Merekan membalas dengan sapaan pula dan senyuman terbaiknya.


Sementara Aku hanya memberikan sedikit senyuman untuk menyapa mereka.


Dengan jelas sekilas kudengar medeka berbicara tentang nasibku yang menurut mereka cukup malang.


"Kasian ya Halimah.. masih muda sudah janda.. Janda Kembang...hhahaha" kata mereka mengasihani dan menertawakan nasibku.


Ibu yang juga mendengar ucapan mereka memandang kearahku dengan segera.


Memastikan kalau Aku baik-baik saja atas pembicaraan yang tidak pantas dari warga.


"Gakpapa Buk.." jawabku tersenyum pada Ibu.


Ibu mengangguk lalu mengelus pipiku lembut.


"Kuatkan Aku ya ALLAH.."doaku berbisik dalam hati.


Sesungguhnya sangat sulit menyembunyikan sakit hati ini atas semua ucapan mereka tentangku, namun Aku harus kuat dan tegar. Aku tidak boleh kembali larut dalam sedihku.

__ADS_1


__ADS_2