Jalan Cinta Halimah

Jalan Cinta Halimah
Episode 11.Pamit


__ADS_3

Setelah satu minggu pernikahan kami, akhirnya malam ini Abang Hafiz membranikan diri meminta izin pada Ayah dan Ibu untuk memboyongku kepesantren bersamanya.


"Ayah, Ibu.. Hafiz ingin memita izin pada Ayah dan Ibu untuk kembali pulang kepesantren besok ba'da zuhur bersama Halimah" ujarnya pelan dan ragu-ragu.


Ayan yang tadinya sedang asik menikmati ubi goreng sambil menonton berita di tv segera berpaling kearah Abang Hafiz yang menyeruput kopi nya dengan wajah yang terlihat cukup pucat dan gugup.


"Hafiz cuma dapat cuti kerja satu minggu, Jadi lusa Hafiz sudah harus kembali masuk mengajar di pesantren. Meskipun pesantren adalah milik Abi tapi tetap saja Hafiz adalah karyawan yang harus menaati peraturan pesantren Yah, Buk.." ujarnya lagi menjelaskan panjang lebar kepada Ayah dan Ibu.


Ayah menganggukkan kepala tanda mengerti dengan penjelasan Abang Hafiz.


"Tentu saja boleh.. Halimah sekarang adalah istri mu.. Tanggugn jawab kami sebagai orangtua sudah selesai.. Dia sekarang adalah tanggung jawabmu.. dan Dia wajib untuk selalu ada mendampingimu dalam suka dan duka.. Ayah dan Ibu akan mendoakan untuk kebahagaiaan rumahtangga kalian berdua" jawab ayah dengan senyuman tulusnya.


"Terimakah Ayah" ujar Abang Hafiz lagi dengan lega.


Sedangkan Aku yang mendengar ucapan Abang Hafiz langsung menangis memeluk Ibu yang duduk tepat disampingku.

__ADS_1


"Halimah belum siap jauh dari Ayah dan Ibu.." isakku membenamkan wajah di dada Ibu.


Ibu membelai kepalaku yang tertutup kerudung dengan lembut.


"Halimah... Istri yang sholeha adalah istri yang selalu berada disamping suaminya.. Halimah sekarang punya tanggung jawab baru sebagai seorang istri.. Ibu dan Ayah akan selalu mendoakan untuk kebahagiaan kalian berdua.. Ibu dan Ayah janji akan sering-sering main kepesantren untuk menjenguk kalian.. oke?!" bujuk Ibu pula padaku.


Aku terus saja menangis tak menhiraukan ucapan Ibu.


"Sudah malam.. pergilan beristriahat.. Ayah juga sudah lelah.. Hafiz, bawalah istrimu kedalam kamar " ujar Ayah kemudian.


Abang Hafiz kemudian membimbing tangaku masuk kedalam kamar hingga sampai di depan ranjang tidur kami.


Aku menggeleng kuat diantara linangan air mata.


"Halimah ikut Abang besok" jawabku singkat lalu beranjak meninggalkannya menuju kamar mandi.

__ADS_1


Aku kembali menangis sejadi-jadinya di dalam kamar mandi.


Meluahkan perasaan pilu dan takut yang berkecamuk di dalam hati dan fikiranku.


"Ya ALLAH..." lirihku dalam tangis.


Lama Aku menangisi nasibku di dalam kamar mandi.


Ketika Aku keluar kulihat Abang Hafiz telah tertidur pulas di atas tempat tidur.


Kupandangi dengan lekat wajahnya.


"Ya ALLAH.. besok Aku akan memulai hidup sesungguhnya bersama Dia.. Cuma Dia yang kumiliki di sana.. Kuatkan Aku ya ALLAH.. " ujarku dalam hati lalu beranjak mengerjakan shalat isya.


"Ya ALLAH.. ini semua adalah suratan takdirmu yang tidak bisa Aku elakkan sedikitpun.. Kini Aku telah menjadi istri yang sah bagi Abang Hafiz.. Tumbuhkanlah kasih sayang diantara kami berdua.. Yakinkan Aku ya ALLAH bahwa Dia adalah lelaki pilihan yang engkau kirimkan untuk menjadi imamku.." ucapku dalam doa setelah selesai shalat isya.

__ADS_1


"Besok Aku akan pergi meninggalkan Ayah dan Ibu untuk berbakti kepada suamiku ya ALLAH.. di sana AKu tidak mengenal siapapun.. Kuatkan Aku ya ALLAH untuk menghadapi semua dugaan-dugaan yang akan hadir nantinya.. Jaga Ayah dan Ibuku ya ALLAH.. Sehatkan mereka selalu.. " ujarku lagi hanyut dalam panjangnya doa.


"Bantu Aku ya ALLAH..Amiin"


__ADS_2