Jalan Cinta Halimah

Jalan Cinta Halimah
Episode 26


__ADS_3

Hari-hariku pun kini sudah mulai kembali produktif. Setiap harinya Aku membantu Ibu berjualan kue di pasar.


Hidupku sudah terasa kembali seperti dulu ketika Aku belum mengenal Abang Hafiz.


"Assalamualaikum Halimah.." Sapa Ibu Susi yang merupakan salah satu langganan tetap kue Ibu.


"Waalaikumsalam Ibu Susi yang semakin cantik.." jawabku sambil menggoda.


"Bisa aja Halimah membuat Ibu tersipu malu.." ucap Ibu Santi pula menimpaliku dengan wajah merona bahagia atas pujianku.


"Beli Kue apa Buk?"tanyaku pula sopan.


"Bolu komojo, Apem dan Serabi masing-masing 5 buah ya!" ujarnya lagi menjawab pertanyaanku.


Dengan mengangguk Aku mengambilkan semua pesanan Buk Susi.


"Halimah, Kamu sudah dengar kabar tentang Rahman belum? Kabarnya lusa dia akan datang dari kota.. Kabar nya lagi kini Dia sudah jadi orang sukses.. Rahman itu mantan kamu kan?" tanya Buk Susi mengagetkanku.


Dadaku tiba-tiba terasa sangat sesak mendengar ucapan Buk Susi tentang rencana kepulangan Rahman esok lusa.


Sudah cukup lama Aku tidak mendengar berita tentangnya lagi.


Aku bahkan hampir lupa kalau dulu pernah mengenal nya.


Lelaki yang sempat datang menemui Ayah dan Ibu untuk melamarku namun ditolak mentah-mentah.

__ADS_1


"Mana mungkin Aku berani untuk menemuinya lagi" ujarku dalam hati.


"Halimah.. Kamu melamun ya? kamu dengar yang barusan Saya tanyakan?" ucap Buk Susi membuyarkan lamunanku.


"Oh.. iya Buk.. Maaf.. Saya belum dengar Buk tentang kedatangan Rahman.. Dan Saya juga bukan mantannya Rahman Buk.. Kita hanya berteman saja kok .. Kalaupun memang Dia sekarang sudah jadi orang sukses, tentu saja Saya turut bahagia mendengarnya Buk.." jawabku dengan seulas senyum yang di paksakan.


Buk Susi hanya mengangguk dan tersenyum mendengar jawabanku.


"Jadi berapa semuanya?"tanya nya lagi menunjuk kearah kue pesanan nya yang sudah Aku bungkuskan.


"Rp.15.000 Buk.." jawabku menyodorkan kuenya.


Buk Susi pun kemudian pergi meninggalkanku setelah membayar kuenya dengan uang pas.


Aku jadi merasa takut dan tidak percaya diri jika harus kembali bertemu dengan Rahman.


"Apa sebaiknya Aku mengurung diri saja dirumah selama Rahman ada dikampung ini?" tanyaku dalam hati.


"Tapi berapa lama Dia di kampung? Mana mungkin Aku sanggup mengurung diri berlama-lama dirumah sendirian.. " ujarku berbicara sendiri.


"Semoga saja Dia tidak berniat untuk menemuiku lagi.. Aamiin"doaku dalam hati.


Aku kemudian mencoba memenangkan diri dengan beristigfar berulang kali. Berharap lusa Rahman tidak jadi pulang ke desa ini.


Masalalu ku dengan Rahman yang tidak baik, membuatku benar-benar merasa tidak nyaman jika harus bertemu kembali dengan nya.

__ADS_1


Rahman pergi meninggalkan kampung ini tepat sehari setelah lamarannya ditolak mentah-mentah oleh Ayahku.


Bahkan Aku tidak sempat mengucapkan maaf padanya waktu itu.


Dia pasti pergi dengan membawa luka dan dendam terhadap ucapan Ayah padanya.


Lalu dengan keadaanku yang saat ini berstatus janda, mana mungkin Aku mampu untuk bertemu lagi dengannya.


Cukuplah kami jadi kenangan masalalu saja.


Mendengarnya kini twlah menjadi seorang yang sukses tentu saja membuatku turut bahagia untuknya.


'Ya ALLAH.. Lindungi Aku.. Semoga kepulangan Rahman tidak menimbulkan masalah untukku dan keluargaku.. Aamiin" doaku dalam hati lagi.


"Halimah....!"


"Halimah...!!"


"Halimah..!!!" teriak Ibu mengagetkanku.


"Astagfirullah.. Buk... Halimah kaget.." jawabku terperanjat dari lamunan panjangku.


"Kamu kenapa? Sakit? Apa yang kamu lamunkan hingga panggilan Ibu yang berulang kali tidak kamu dengar? Apa yang sedang kamu fikirkan?" tanya Ibu beruntun.


"Tidak apa Buk.." jawabku mengfgeleng kuat dengan seulas senyum.

__ADS_1


__ADS_2