Jalan Cinta Halimah

Jalan Cinta Halimah
Episode 38


__ADS_3

Tanpa terasa waktu terus berjalan sangat cepat.


Sudah lebih dua tahun lama nya Aku tinggal di pondok Pesantren milik orangtua Almarhum suamiku.


Dan status menjandaku pun sudah hampir 5 tahun berjalan.


Masih teringat dengan jelas ketika minggu kemarin tanpa terduga Ustad Ramli datang menemui Umi dan Abi secara pribadi untuk meminta izin melamarku.


Tentu saja Aku tidak kaget.


Karna sudah sangat jelas terlihat Ustad Ramli ada hati padaku.


Hampir setiap hari salam tersampaikan oleh para santri dari ustad Ramli dan bahkan terkadang tidak jarang kuterima berbagai bungkisan darinya.


Entah itu berupa makanan, puisi, dan terkadang beliau mengirimiku bunga yang wangi.


Dia memang cukup romantis. Bahkan bisa dikatana lelaki yang cukup sempurna untuk dijadikan pasangan hidup.


Tapi bagaimana mungkin Aku menerimanya, jika hatiku tidak tergerak sedikitpin atas perhatian yang diberikan olehnya.


"Halimah... Ustad Ramli adalah pria yang baik, Abi rasa Dia cocok untuk Halimah.. Mungkin ada baiknya Halimah mempertimbangkan niat tulus ustad Ramli ya nak.." nasehat Abi padaku minggu kemarin.


"Bawa istikharah nak.. minta petunjuk dari ALLAH.. Toh ustad Ramli tidak mendesak, bahkan dia bilang mau menunggu sampai Halimah siap" ujar Umi pula padaku.

__ADS_1


Aku hanya bisa tersenyum tanpa arti dengan perasaan hati yang bergejolak penuh kebimbangan.


"Tazah Halimah...!!"Teriak seorang anak gadis kecil berlari kearahku yang sedang duduk santai mengerjakan tugas untuk menyambut 17an di depan sekolah bersama Ustazah Wulan.


"Chiaaa..!!"jawabku sembari meraih si anak kecil mungil nan cantik kedalam pelukanku.


"Chia apa kabar sayang?" tanyaku pada si Chia kecil.


"Alhamdulillah tazah.. Chia sehat.. Chia rindu sekali pada tazah.." ungkapnya dengan wajah begitu imut.


"Tazah juga rindu sekali dengan Chia nak..." jawabku sembari kembali memeluknya cukup erat.


Ini adalah perama kali nya kami bertemu lagi setelah Chia tamat bersekolah dk TK ini.


"Sama Eyang.. Chia mau pindah sekolah disini aja, di pondok ini.. Chia tidak suka sekolah di sekolah internasional itu tazah... Sekolah nya banyak anak-anak nakal.. Chia tidak suka.. Mereka suka mengolok Chia.." ceritanya dengan wajah sedih.


Aku kaget mendengar cerita yang keluar dari gadis kecil ini.


Tampak sekali kalau dia begitu merasa tertekan disekolah baru nya itu.


"Assalamualaikum Ustazah.." ucap seseorang wanita paruh baya mendekat kearahku dan Chia.


"Waalaikum salam Ibuk.." jawabku menyalami tangan lembut eyang nya Chia.

__ADS_1


"Tazah sehat?" tanya Eyang padaku.


Aku mengangguk pelan dengan begitu hormat.


"Alhamdulillah Buk.. Ibuk sehat?" ucapku balik bertanya.


"Alhamdulillah seperti yang Ustazah lihat.." jawabnya dengan senyuman hangat.


"Mulai besok Chia akan sekolah SD di pondok ini tazah.. Dia tidak betah sekolah di sekolahnya yang sekarang.. katanya teman-teman nya nakal dan Dia tidak suka dengan guru-guru nya disana. Dan dia bilang Dia juga sangat merindukan tazah Halimah.." ujar Eyang dengan lirikan tajam menggoda kearah cucunya.


Aku dan Chia saling tatap sambil tersenyum.


"Tazah... setelah pulang sekolah, Chia ingin les tambahan dengan tazah boleh? Jadi Eyang jemput Chia sore saja ba'da Ashar.. Boleh ya tazah.." tanya Chia meminta padaku.


Aku kembali tersenyum.


"Kalau Eyang boleh, tazah sih tidak masalah.." jawabku memandang keraarah Eyang nya Chia.


"Apakah tidak akan merepotkan tazah?" tanya Eyang lagi padaku.


"Insyaallah tidak kok... Saya malam sangat bahagia jika Ibuk mengizinkan.." kataku bersungguh-sungguh.


"Baiklah jika memang begitu yang kalian inginkan.." jawab Eyang lagi membuat Chia melompat kegirangan penuh rasa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2