
Nama lengkapnya adalah Muhammad Zaky Hamdani, S.E., M.B.A Bin Prof Hamdan Abdullah, S.E., M.B.A.
Lelaki yang kini telah sah menjadi pasangan hidupku.
Pernikahan kami berlangsung sederhana.
Akad dan resepsi semua di gelar di pondok pesantren.
Tidak ada pesta yang meriah.
Hanya para penghuni pondok serta family saja yang kami undang.
Sejujurnya Aku bahkan belum pernah berbicara sekalipun pada suami sampai detik ini.
Detik dimana malam mengantarkanku pada kamar pengantin yang penuh dengan aroma bunga lavender.
Tubuhku gemetar, panas dingin.
Wajahku pucat pasi.
Aku gugup sekali.
Kubaringkan tubuhku mengarah pada dinding kamar yang kini dipenuhi dengan tirai putih bersandingkan bunga-bunga warna warni.
Kucoba pejamkan mata yang sedikitpun tak mampu lena.
"Astagfirullah..." dzikirku terus berulang untuk menenangkan hati.
Kudengar auara pintu kamar dibuka pelan.
Sebuah langkah kaki pelan bergerak kearahku.
Aku tidak berani berpaling untuk melihatnya.
Tubuhku semakin bergetar menahan rasa gugup yang luar biasa.
"Hai... " katanya menyapaku dengan suara seraknya.
Aku diam tidak menjawab, pura-pura tidur.
__ADS_1
Kurasakan tubuhnya berada tepat disebalahku.
Dia tidak berbaring, tapi bersandar pada dinding kasur.
"Aku tau kamu belum tidurkan?" tanya nya membuatku serba salah.
Tapi Aku benar-benar tidak berani bergeming.
"Aku minta maaf atas keegoisan orangtuaku.. Mereka terlalu menyayangi Chia.." katanya memulai pembicaraan.
Ucapannya membuatku perlahan berpaling, duduk menunduk menghadapnya.
Entah kekuatan dari mana yang tiba-tiba datang merasukiku hingga tanpa sadar Akupun berani membalas ucapannya.
"Tidak perlu meminta maaf.. Aku melakukan ini semua ikhlas.. Aku melakukan nya tulus karena Aku menyayangi Chia dan Eyang.. Tidak sedikitpun ada keterpaksaan yang Eyang lakukan padaku.." jawabku masih menunduk tidak berani memandangnya.
" Terimakasih karena telah sudi menjadi Ibu sambung bagi Chia.." ucapnya lagi sambil memegang tanganku.
Aku terperanjat kaget dibuatnya.
Tanpa sadar mata kami saling berpautan.
Jantungku dibuatnya berdebar sangat kencang.
"Halimah..." katanya dengan lembut memanggil namaku.
Suara khas nya yang berat benar-benar meluluhkan hatiku.
Aku masih diam tak bergeming membiarkannya terus memengang kedua tanganku dan mengusap-usapnya lembut.
"Pernikahan ini terjadi terlalu cepat.. Kita bahkan belum saling menyapa sebelumnya.. Pernikahan ini terjadi semua demi Chia.. Aku tidak akan memaksamu.. Mari kita lakukan semua dari awal.. Belajar saling memahami dan menerima.. Saling mengenal karakter masing-masing.. Dan mencoba untuk saling terbuka.." katanya lagi padaku.
Aku tidak menjawab ucapannya.
Mataku merunduk tertuju pada tanganku yang masih terus di elus nya.
"Terimakasih karena telah sudi menjadi istriku... Terimakasih karena sudi menjadi Ibu sambung bagi Chia.." ucapnya lagi dengan tulus.
Aku mengangguk perlahan.
__ADS_1
Ucapan nya ini membuatku merasa haru.
Entahlah mengapa.
Tiba-tiba saja air mataku menetes tepat di atas tangannya yang masih menggenggam erat tanganku.
"Halimah... " tanya nya kaget melihatku menangis.
Aku segera menyeka airmataku.
Lalu mencoba tersenyum memandang kearahnya.
"Maaf... Aku terharu mendengar ucapan yang begitu tulus untukku... "Kataku segera padanya.
"Abang..." ucapku pelan.
"Boleh Halimah memanggil dengan panggilan Abang?" tanyaku padanya.
Dia mengangguk tersenyum setuju.
"Terimkaasih karena sudi menjadikan Halimah sebagai istri Abang.. Halimah janji, akan berusaha untuk menjadi istri dan Ibu yang baik bagi Abang dan Chia.. Bimbing Halimah ya.." kataku memandang nya penuh kasih.
Dia kembali mengangguk dan tersenyum.
Dengan lembut di elusnya kepalaku.
Akupun merasakan ketulusannya.
"Tidurlah.. sudah terlalu malam..." ujarnya kemudian menyuruhku untuk tidur.
Aku mengangguk kuat.
Kembali merasa canggung.
Kubaringkan tubuhku dengan posisi semula menghadap dinding memunggungi tubuhnya.
Perlahan kucoba pejamkan mata yang masih saja enggan untuk tidur.
"Selamat malam Abang.." kataku sedikit memalingkan wajahku padanya.
__ADS_1
"Selamat malam Halimah..." jawabnya sambil memperbaiki bantal guling yang menjadi penyekat diantara kami berdua.