Jalan Cinta Halimah

Jalan Cinta Halimah
Episode 64


__ADS_3

"Halimah... Ayo bangun.. Sudah subuh.." bisik Abang Zaky lembut membangunkan tidurku yang lena.


Suara iwamah di mesjid samar-samar terdengar ditelingaku.


"Abang... sudah sholat?" tanyaku padanya sambil membangunkan badan.


"Belum... Mari kita berjamaah..." ajaknya membuatku kaget mendengar ucapannya.


"Mimpi apa si Mr. Zaky ini?? Kok tiba-tiba ngajakin sholat berjamaah?" tanyaku dalam hati, lalu menganggu kuat dan bangkit membersihkan diri dan wudhu.


Sepanjang kami mengerjakan sholat subuh, hatiku terasa begitu bergetar hebat.


Entahlah mengapa.


Selesai sholat, Abang Zaky masih memipinku dalam zikir dan doa.


Tentram sekali rasanya.


Dan ketika iya berpaling menyodorkan tangannya untuk kusalami, Aku tak kuasa menahan rasa haru bahagia.


Lama Aku membenamkan wajah di telapak tangan kokohnya.


"Ya ALLAH... Izinkan tangan ini terus menjadi pembimbingku menuju jannahmu yang hakiki.. Izinkan tangan ini menjadi berkah untuk mendampingiku meraih karuniamu.. Izinkan tangan ini terus memegangku hingga Aku kuat menghadapi segala dugaan-dugaanmu... Hadiahkan cinta diantara kami dalam ridhomu ya ALLAH... Aamiin" ucapku dalam hati sembari terus membiarkan wajahku ditelapaknya.


"Halimah... " tanya nya kebingungan melihat tingkahku.


Segera kuangkat kepalaku dan menyeka sedikit air mata yang sempat menetes.


"Kamu menangis? Kenapa?" tanya Abang Zaky risau.


Aku menggeleng kuat.


"Ini untuk pertama kalinya Abang menjadi imam sholat Halimah... Halimah sangat bahagia dan terharu.. Makasih Abang.." ucapku jujur.


Dia mengangguk tersenyum.


"Maafkan Abang karena telah egois ya.. Insyaallah kita akan selalu seperti inj sampai kapanpun.." jawab Abang Zaky sungguh-sungguh.


"Aamiin..." jawabku membalas senyumnya dengan wajah sumeringah.

__ADS_1


"Masih subuh..." katanya lagi melihat kearah jam.


Aku mengangguk membenarkan ucapannya.


Dia kembali tersenyum agak nakal.


Meraihku dalam sekejap mata.


Kami kemudian berbagi saliva.


Sekujur tubuhku merinding tidak karuan menghadapi serangan yang tiba-tiba.


"Halimah... I want You..." ucapnya lalu menggendongku naik keatas tempat tidur.


Perlahan tapi pasti, subuh ini terasa begitu hangat, meskipun suhu AC di kamar cukup rendah dan suara rintik gerimis masih terdengar gemericik diluar sana.


"Halimah... Sepertinya Aku mulai menyukaimu.." bisik Abang Zaky tepat dikuping kiriku.


Aku memandangnya lekat.


Kami saling bertatap mata.


"Abang..." jawabku malu-malu namun bahagia.


Kami kembali saling berpelukan.


Menghabiskan subuh dibawah selimut tanpa sehelai benangpun.


Membiarkan burung diluar sana berkucau memberi tanda pagi yang mulai menjelang.


"Aku tidak ingin bangun.... Mari kita twrus berpelukan saja..." ujar Abang Zaky dengan wajah manja.


Aku tertawa lucu melihatnya.


"Ngawur..." kataku lalu melepaskan diri dari pelukan hangatnya lalu beranjak untuk mandi.


"Assalamualaikum... Pagi semua.." sapaku dengan wajah sumeringah bahagia.


"Maaf Eyang.. Halimah kesiangan" katakh lagi malu-malu.

__ADS_1


Kedua mertuaku hanya mengangguk tersenyum saling pandang seakan mengerti yang telah terjadi pagi ini.


"Chia sarapan apa Nak?" tanyaku mencoba mengalihkan diri.


"Roti bakar bunda.." jawab Chia dengan mungilnya.


"Pintar..." kataku pula, lalu duduk disamping Chia.


"Mana suamimu Halimah?" tanya Ayah mertuaku.


"Diatas Eyang.. Sebentar lagi mungkin turun.." jawabku singkat.


Dan benarlah ucapanku barusan.


Abang Zaky kemudian turun dan memilih duduk tepat disampingku dan Chia.


"Abang mau sarapan apa?" tanyaku pada suami.


"Roti saja.." jawabnya singkat.


Dengan perasaan sangat senang, kualayani suamiku di meja makan.


Lalu ikut serta menikmati sarapan bersama keluargaku yang baru ini.


"Alhamdulillah... Terimakasih ya ALLAH..." ucapkj dalam hati sambil meneguk secangkir teh hangat.


Dan kebahagiaanku semakin bertambah, ketika Abang Zaky memberikan ciuman hangatny dikeningku sebelum iya berangkat kerja.


"I Love You Bang.." bisikku pula malu-malu.


Dia tersenyum sumeringah menatapku dalam.


Lalu kembali menciumku.


Tapi tidak lagi dibagian kening, melainkan turun dibagian bibir merahku.


Lama kami saling pangut seakan tidak mau terlepas.


Dan untungnya ada Chia yang menyadarkan kami berdua.

__ADS_1


"Bundaaaa...." teriak Chia memanggilku dari dalam rumah.


__ADS_2