
Kuarasakan seluruh tubuhku teramat sakit.
Mataku berat sekali untuk ku buka.
Kepalaku berdenyut begitu kuat.
Aku seperti mendengar suara tangisan yang berisik sekali.
Kepalaku berdenyut begitu kuat.
Tiba-tiba saja mataku merasa silau sekali, telingaku berdengung kencang sekali.
Terbayang kembali olehku kejadian yang twlah menimpaku dan Abang Hafiz.
Kecelakaan itu.
Abang Hafiz menabrak mobil sedan hitam di depannya.
"Abang...!!!!!" teriakku tertahan.
"Ya ALLAH... Abang!!!" Ucapku lagi mengingat kejadian itu.
Dadaku terasa sesak sekali.
Kupaksakan membuka mata semampuku.
Samar-samar kulihat kedua mertuaku berdiri tepat di depanku.
Dibagian ujung ranjang tempatku berbaring.
Kupalingkan wajahku kearah kanan.
Ada Ayah dan Ibu pula disana.
"Buk.." ucapku dengan berat seakan tidak mampu terucap keluar dari bibirku.
"Halimah.. Kamu sudah sadar nak?" jawab Ibu pelan berbisik.
Kemudia terdengar Ayah dengan lantang memanggil perawat dan Dokter yang setengah berlari kearahku yang terbaring lemah.
"Abang mana?" tanyaku lagi.
__ADS_1
Ibu hanya menggeleng sembari menangis tanpa menjawabku sedikitpun.
Dokter kemudian memeriksa tubuhku dan memberikan beberapa pertanyaan aneh.
"Sebaiknya Ibu Halimah istirahat lagi dulu ya.. Ibu baru saja sadar, jadi masih harus istirahat dulu ya.." ucap sang dokter pula padaku.
Aku menggeleng kuat.
"Abang Hafiz Mana? Suami saya mana Dok?" tanyaku seketika setelah ku ingat apa yang telah menimpa kami berdua.
Tidak ada jawaban dari dokter.
"Ibu istirahat dulu aja ya.." ujarnya lagi.
Aku kembali menggeleng.
"Abang Hafiz mana?" tanyaku lagi dengan pandangan beralih ke arah Ibu dan Ayahku.
Semua diam tak menjawab.
Perasaanku berkecamuk hebat.
Kulihat mertuaku saling berpelukan.
Ibu menangis dalam pelukan Ayah.
"Buk...!!??" ujarku lagi dengan nada lebih tinggi dan semakin panik.
"Ibu Halimah tenang ya.. istirahat dulu aja ya.." jawab perawat pula menenangkanku.
Aku menggeleng kuat dan mulai menangis sejadi-jadinya.
Ibu memelukku erat sekali.
"Abang Hafiz mana Buk?" tanyaku lagi dalam tangisan.
Tidak ada jawaban yang kuterima.
Ibu cuma terus memelukku sangat erat sambil menangis tersedu
"Abang....!!!!!!" teriakku menggeleng kuat.
__ADS_1
"Abang...?!!?" ucapku lagi berulang kali sampai kemudian tubuhku merasa ringan dan gamang.
Aku kembali tidak sadarkan diri.
Dokter kembali memberikanku obat penenang setelah Aku kembali mengamuk sejadi-jadinya.
Aku benar-benar tidak bisa menerima kenyataan kalau Abang Hafiz meninggal karena kecelakaan yang telah menimpa kami.
Tiap kali Aku sadarkan diri, Aku selalu berteriak memanggil nama Abang Hafiz, meronta-ronta sampai tubuhku benar-benar tidak berdaya.
Aku kembali pingsan.
Kejadian yang hampir terulang selama 5 hari lama nya.
Aku bahkan tidak mau makan dan minum sama sekali.
Mencoba mencabut selang infus yg menempel di bagian lengan kiriku.
Menolak tiap obat yang diberikan perawat untuk Aku minum.
"Halimah tidak ingin sembuh Buk... Halimah mau mati saja... Halimah mau ikut Abang Hafiz Buk...!!!" ujarku dengan sisa tenaga yang kumiliki.
Ibu terus menangisiku.
Mertuaku juga sama.
Tak satupun dari mereka yang Aku indahkan.
Aku membenci takdir yang mempermainkanku.
Bagaimana mungkin Aku bisa selamat dari kecelakaan itu, Bahkan hanya dengan kondisi luka memar di bagian dada kananku. Sementara maut merenggut suami tercintaku.
Takdir benar-benar mempermainkanku.
Dulu Aku menentang begitu hebat perjodohanku dengan Abang Hafiz, Namun takdir memaksaku untuk tetap menjalani pernikahan yang semula dilakukan dengan keterpaksaan.
Dan saat cinta itu telah berakar, Takdir kembali merenggutnya dengan mudah.
Menyisakan luka yang teramat sakit di hidupku yang tak berguna lagi.
"Mengapa ya ALLAH??? Aku tidak kuat menjalani takdirmu yang begitu menyakitkan ini ya ALLAH.. 3 bulan ya ALLAH... Pernikahan kami baru berjalan 3 bulan.. Kini Aku menyandang status janda di umurku yang masih 18 tahun ya ALLAH.. Tak ada yang bersisa selain sakit tak tertanggung.. Bawa saja Aku ya ALLAH... Bawa saja Aku bersama Abang Hafiz...!!!!!" celotehku dalam hati sambil menangis tersedu di ranjang rumah sakit.
__ADS_1
"Abaaangggg...!!!" teriakku lagi sebelum kembali pingsan tidak sadarkan diri.