
Tak lama ia tersadar ada yang mengetuk pintu ruangan nya,ia segera merapikan penampilan nya,dan ia mengusap wajah nya,tanpa sengaja ia memegang ujung mata nya yang basah.
"****"umpat nya geram,bagaimana bisa ia menangis hanya karna wanita.
Tok tok tok
"Masuk"titah nya dengan suara datar.
"Permisi tuan,apa tuan memanggil saya?"tanya seseorang dengan suara lembut.
Deg
"Suara itu"batin nya.
"Tidak mungkin"gumam nya namun masih di dengar oleh seseorang yang sudah ada di depan meja nya.
Mendengar gumaman itu membuat orang itu mengerutkan kening nya.
Karna atasan nya ini malah sibuk dengan laptop di depan nya,tanpa menjawab bahkan melihat ke arah nya.
"Maaf tuan,ada yang bisa saya bantu?"tanya nya sekali lagi,dengan suara lembut dan sopan nya.
Pemasaran dengan pemilik suara itu,akhir nya ia mengangkat kepala nya,dan tatapan nya bertemu dengan orang itu.
Deg
Deg
Deg
"Nayla"gumam nya,karna masih tak percaya dengan yang di lihat nya.
Membuat wanita itu mengerutkan kening nya heran,bagaimana atasan nya ini tau nama nya,bahkan aku belum memperkenalkan diri.Mungkin mbak Tina sudah memberitahu nya,pikir nya.
"Bagaimana tuan tau nama saya,bahkan saya sendiri belum memperkenalkan diri?"tanya Nayla dengan polos nya.
Jawaban itu seketika membuat Alvi memegang dada nya,jantung nya semakin berdetak cepat.
Khawatir dengan keadaan atasan nya,orang itu segera memberikan air minum dengan sigap,bahkan tangan nya bersentuhan dengan tangan atasan nya,membuat jantung kedua nya berdetak kencang,sampai kencang nya,membuat kedua nya takut,takut terdengar oleh orang itu.
Melihat pandangan atasan nya,membuat orang itu gugup,dan segera melepaskan tangan nya dari gelas,namun naas,gelas itu malah jatuh dan air nya membasahi kemeja yang di pakai Alvi.
"Ma,,,maaf"dengan gugup ia meraih tisu dan mengelap kemeja yang terkena air.
Alvi belum merespon apa pun,ia masih sibuk dengan keterkejutan nya,sampai ia sadar saat seseorang menyentuh dada nya,bukan menyentuh lebih tepat nya meraba.
Tersadar dari lamunan nya,ia tetap membiarkan wanita itu membersihkan kemeja nya,ia belum berbicara sedikit pun,ia ingin melihat respon yang di berikan oleh wanita tersebut saat melihat nya.
__ADS_1
"Ma,,maaf tuan,saya tidak sengaja"ucap Nayla gugup,sambil menundukkan wajah nya.
"Angkat wajah mu"titah nya dengan suara datar.
Mendengar perintah tersebut membuat nya melakukan apa yang di minta atasan nya,ia mengangkat nya sedikit sedikit,karna masih sangat gugup.
Sampai akhir nya pandangan nya bertemu,membuat jantung nya kembali berdetak,dan segera menundukkan kembali pandangan nya,karna tak sanggup melihat tatapan sendu itu.
Sampai suara lembut atasan nya,membuat ia mengangkat lagi pandangan nya.
"Kamu tak mengenal ku?"tanya Alvi dengan tatapan penuh rindu.
Mendengar pertanyaan itu membuat nya menganggukan kepala nya yakin.
"Siapa?"tanya Alvi lagi.
"Atasan saya di kantor"ucap nya polos membuat Alvi bingung.
"Selain itu?"tanya Alvi lagi.
Menggeleng,Nayla menggeleng lagi,karna memang ia tak ingat.
"Maaf tuan,saya tak ingat"ucap nya sendu,membuat Alvi merasa ada yang aneh.
"Apa mungkin aku salah orang?"batin nya membuat ia bingung.
Tak ingin kebingungan itu menguasai nya,ia segera membuka galeri di ponsel nya.
"Kau pasti bohong, bagaimana mungkin kau tak mengenalku,ck,,kau pasti mengerjai ku kan?"ucap Alvi dengan nada kecewa,dan tersenyum miris.
Tak mengerti yang di kata kan atasan nya,membuat Nayla itu menggeleng heran.
"Benar tuan saya..."ucapan Nayla terpotong karna Alvi sudah memeluk nya,dan berbisik.
"Aku merindukan mu,sangat merindukan mu"bisik Alvi membuat Nayla mematung dan jantung nya berdetak semakin cepat.
Nayla tak dapat mencerna apa yang terjadi,hingga akhir nya ia hanya terdiam dan tak merespon apa pun.
Sampai akhir nya kesadaran nya kembali,ia segera mendorong dada Alvi membuat Alvi melepaskan pelukan nya.
"Lepas,tuan lepaskan"ucap Nayla yang terus meronta.
"Dasar atasan mesum"ucap Nayla,sedangkan yang di maki tak mendengar ia hanya sibuk dengan penglihatan nya.
Setelah terlepas pelukan nya,Alvi melihat wajah Nayla dengan seksama,tak ada yang berubah,hanya saja malah semakin cantik dan semakin dewasa.
Ia telusuri wajah cantik Nayla,sampai tatapan nya terkunci pada bibir tipis milik Nayla,ia tersenyum melihat bibir itu tak berhenti mengoceh,ia merindukan omelan itu,dan sekarang ia bisa mendengar nya lagi.
__ADS_1
Saking intens nya melihat itu,membuat pikiran Alvi berubah menjadi kotor,bagaimana kalau gue men***m nya,pasti akan terasa sangat manis,dan sedikit men***m nya,pasti akan menggairahkan sekali.pikir nya...
Sampai ia tersadar karna sebuah tangan melambai di depan wajah nya.
"Ya Alloh,kalau aku punya atasan seperti dia,lama lama aku bisa ikutan gila,lihat saja,ia sampai senyam senyum sendiri"omel nya masih belum selesai.
"Aakh,lebih baik aku keluar,dari pada di sini bisa ikutan lebih gila"baru saja akan berbalik,tangan nya sudah di cekal oleh Alvi dan tiba tiba saja.
Cup
Kecupan tersebut membuat Nayla mematung,pikiran nya tiba tiba kosong.
Melihat tak ada respon dari wanita nya,ia kembali mendekatkan wajah nya,namun belum sampai,teriakan menggema di ruangan itu.
"Aakh,dasar tuan mesum"teriak Nayla,setelah mendapatkan kesadaran nya,dan segera pergi dari ruangan atasan gila nya,sambil mengomel.
"Dasar tuan mesum,ia telah mencuri ciuman pertama ku,aakh aku kesal"omel nya sepanjang akan keluar dari ruangan itu.
Mendengar itu membuat Alvi tersenyum sambil memegang bibir nya yang lancang yang dengan berani men****p bibir tipis itu.
"Manis"
"Sangat menggemaskan"
Senyuman itu tak bertahan lama,setelah ia ingat kalau gadis itu sudah menikah,kenyataan itu membuat ia merasakan sakit yang teramat.
Tapi ia penasaran kenapa dia tak mengingat ku,sampai akhir nya ia kembali membuka berkas yang di depan.
Tak lama di bibir nya tersungging senyum lebar,ia tak menyangka kalau takdir nya begitu indah.
"Aku akan berusaha dari awal lagi,dan aku tidak akan pernah melepaskan mu lagi,walau pun kau belum resmi bercerai,tapi aku yakin suatu saat nanti itu akan terjadi"
"Aku akan mendapatkan mu"teriak nya bahagia.
Sedangkan di luar tepat nya di depan ruangan itu,seorang sekertaris bergidik ngeri mendengar teriakan atasan nya itu.
"Dasar gila"umpat nya karna masih kesal.
Namun seketika ia memegang bibir nya,dan senyum kecil terbit di sudut bibir nya.
Seseorang yang melihat itu dari sudut tembok hanya tersenyum,ia yakin telah terjadi sesuatu di dalam sana.
Ia merasa bahagia melihat wajah bahagia sahabat nya,walau pun ia menggerutu,tapi raut wajah nya tak bisa berbohong,ia terlihat bahagia.
Apa pun yang terjadi,ia pasti akan membantu hubungan mereka,ia akan menghalangi siapa pun yang ingin merusak hubungan kakak dan sahabat nya.
Meski masih abu abu,tapi ia berharap itu akan terlihat jelas.
__ADS_1
Seketika ia teringat dengan kalung yang di pakai Nayla dan juga yang selalu di bawa oleh kakak nya kemana pun.
Setelah pulang kerja nanti,ia akan menanyakan itu pada kakak nya.