Janda Virgin Milik Tuan Muda

Janda Virgin Milik Tuan Muda
Menuju malam pertama


__ADS_3

Di kediaman tuan Baskoro masih ramai oleh mereka yang masih setia stay di sana.


Bahkan waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam,saat nya tuan Baskoro untuk kembali masuk ke kamar nya,karna ia sudah pegal duduk di atas kursi roda nya.


Ia masuk bersama ayah,karna ia berniat berbicara berdua dengan putra nya.


Sampai nya di dalam kamar,tuan Baskoro langsung berdiri dari duduk nya,setelah menutup pintu dan menguncinya.


Ayah melihat itu terkejut,ia menatap ayah nya curiga.


Sedangkan tuan Baskoro yang di tatap begitu,hanya bisa tersenyum lembut pada putra nya.


"Apa ini ayah?"tanya ayah bingung.


"Duduk lah"ujar tuan Baskoro menyuruh ayah untuk duduk di pinggir ranjang.


Ayah pun menurut,karna ia belum mencerna kenyataan ini,sedangkan tuan Baskoro,ia pergi ke sebuah lemari yang ada di sana,dan membuka lalu mengeluarkan sesuatu di dalam nya.


"Lihatlah"tuan Baskoro menyodorkan sebuah berkas ke hadapan ayah.


Meski ia sendiri bingung,namun ia tetap menuruti perintah ayah nya.


Dengan perlahan ia membuka setiap lembar kertas satu persatu.


Ia masih mengamati,bahkan terkadang dengan kening berkerut,mata memerah karna ingin menangis,dan terakhir dengan tangan mengepal erat,sampai kertas yang di pegang nya kusut.


Dengan nafas memburu,ia melihat ke arah ayah nya,terlihat ayah nya memejamkan mata nya,dengan di tutup oleh lengan nya,sambil bersandar di kepala ranjang.


Melihat itu,ayah Darma menjadi iba,karna selama berpuluh-puluh tahun,ayah nya harus melawan orang-orang yang ingin sengaja mencelakakan keluarga nya.


Bahkan sampai sekarang harus berpura-pura lumpuh untuk mengelabui musuh di sekitarnya.


"Ayah"panggil ayah Darma lirih.


"Hmm"tuan Baskoro hanya berdehem.


"Terima kasih"ujar ayah Darma dengan lirih.


Mendengar itu tuan Baskoro segera membuka mata nya,ia melihat wajah putra nya sendu.


"Kau tau nak,dulu waktu ibu mu mengandung mu,ia sangat menjaga diri mu yang ada di dalam perut nya,bahkan meski mual,dan muntah-muntah,ia selalu memaksa makan,meski ia harus kembali muntah-muntah,ia selalu menjaga pola makan nya,bahkan ia sampai merengek meminta dokter pribadi,karna ia ingin ada yang mengawasi makanan nya setiap waktu"ujar tuan Baskoro menjeda kalimat nya.


"Ayah ingat sekali,waktu ibu mu akan melahirkan,ia meminta ayah untuk memilih kamu,karna apa?.Karna itu adalah hadiah terakhir dari nya untuk ayah"ujar tuan Baskoro dengan mata berkaca-kaca.


Mendengar cerita ayah nya,ayah Darma hanya diam mendengarkan.


"Sakit,menerima itu semua,tapi ibu mu memaksa,karna meski pun ayah memilih ibu mu,ibu mu tak akan bertahan lama,karna penyakit nya sudah menyebar,bahkan dengan mengandung diri mu,ia harus merasakan sakit yang teramat sakit."ujar tuan Baskoro menyambung kalimat nya.

__ADS_1


"Namun ayah senang,saat kau di lahirkan ayah masih bisa melihat senyum ibu mu,bahkan ia bertahan sampai usia mu menginjak usia 16 tahun,dan ayah bahagia dengan itu"ujar tuan Baskoro tanpa terasa air mata nya menetes.


"Terakhir,sebelum ibu mu meninggal,ia meminta sesuatu pada ayah,kau tau apa itu?""ujar tuan Baskoro melihat ke arah putra nya,dan ayah Darma menggeleng.


"Ia meminta ku untuk selalu menjaga dan menyayangi mu,bahkan ia juga meminta ku untuk melakukan apa pun untuk melindungi mu,meski harus melalui jalan yang menyakitkan sekali pun,asal kau bisa terlindungi"ujar tuan Baskoro tersenyum kecil.


"Ayah"panggil ayah Darma sendu.


"Ayah melakukan itu semua untuk kebaikan dan keselamatan mu,dan sekarang usaha ayah tak sia-sia,karna kamu baik-baik saja,ayah tak menyesal melakukan itu,meski ayah harus mengusir mu dan membidan ayah sudah tenang jika ayah harus menyusul ibu mu sekarang"ujar tuan Baskoro parau.


Mendengar itu ayah Darma segera memeluk ayah nya.


"Ayah jangan bicara seperti itu,ayah pasti akan panjang umur,apa ayah tak ingin melihat cicit ayah lahir?"ujar ayah Darma terisak.


Mendengar itu,tuan Baskoro tersenyum,dan berkata.


"Tentu saja,ayah pasti akan menunggu waktu itu tiba"ujar tuan Baskoro tersenyum.


Sesaat mereka saling diam,sampai suara ayah Darma memecah keheningan.


"Ayah,lalu bagaimana rencana kita untuk orang itu?"tanya ayah serius.


"Entahlah,tapi ayah merasa cucu perempuan ayah yang akan menangani nya"ujar tuan Baskoro yakin.


Mendengar ucapan ayah nya membuat ayah Darma mengereyitkan kan kening nya,tanda tak paham.


"Besok kau akan tau,sekarang kembali lah ke kamar mu,kasian menantu ayah menunggu mu"ujar tuan Baskoro terkekeh,dan ayah pun keluar dari kamar tuan Baskoro.


Saat mereka memasuki kamar tersebut,mereka melongo tak percaya,bahkan mereka saling pandang dan seketika juga menundukkan wajah mereka.


"Siapa yang membuat ini?"gumam Nayla merasa malu.


Berbeda dengan Alvi,ia senyum-senyum sendiri,karna ia tak perlu bersusah payah untuk mengurusnya.


"Bagus"gumam Alvi sambil melihat ke sekeliling nya.


"A..aku mau mandi dulu"ujar Nayla gugup,tanpa mendengar jawaban Alvi ia langsung saja masuk ke kamar mandi.


Brak


"Ya ampun,jantung tolong jangan berdetak seperti ini,aku merasa sangat gugup"ujar nayla bermonolog sendiri,sambil memegang dadanya.


Entah kenapa ia merasa sangat gugup sekali,bahkan ia merasa malu saat melihat ke arah suaminya.


"Apakah harus malam ini?"tanya nya sendiri,dengan wajah memerah.


Sedangkan Alvi yang tau istri nya tengah gugup,hanya tersenyum geli.

__ADS_1


"Menggemaskan"gumam nya tersenyum.


"Akhirnya,aku bisa menepati janji itu"ujar Alvi sambil duduk di sisi ranjang,dan mata nya melihat ke pintu kamar mandi.


Sambil menunggu istri nya,ia berkeliling di dalam kamar itu,ia melihat-melihat sekeliling kamar itu,tak ada yang menarik,seperti kamar biasa nya.


Ada single sofa,ranjang ukuran king size,meja rias dan terakhir nakas untuk menyimpan barang.


Lalu ia beralih ke dalam ruangan ganti,di sana ia melihat,banyak lemari kosong belum terisi oleh pakaian.


Saat ia sedang melihat-lihat,terdengar suara pintu di ketuk.


Segera ia melihat siapa itu,ternyata ayah mertua nya.


Ia melihat ayah mertuanya membawa beberapa paper bag.


"Nak,ini pakaian untuk kalian,tadi kakek mertua mu yang memesankan nya"ujar ayah santai.


"Terima kasih,Yah"ujar Alvi sambil menerima paper bag itu.


Terlihat ayah masih di sana dan celingak-celinguk seperti mencari sesuatu.


"Ayah mencari apa?"tanya Alvi polos.


Mendengar pertanyaan Alvi membuat ayah menggaruk tengkuk nya.


"Hehehe,tidak"ujar ayah terkekeh.


"Jangan lupa kunci pintu nya,dan ya,kamar ini kedap suara,jadi meski berteriak kencang pun tak akan ada yang mendengar nya"ujar ayah tersenyum jail.


Alvi yang tak mengerti mengerutkan kening nya.


"Maksud ayah,berteriak bagaimana?"tanya Alvi polos.


"Kau itu,masa tidak tau sih"gerutu ayah kesal.


"Memang apa?"tanya Alvi polos,belum juga menjawab,bunda sudah berteriak memanggil ayah.


"Iya,sebentar"teriak ayah menimpali bunda.


Melihat itu Alvi masih berdiam diri di sana,ia masih penasaran dengan kata ayah tadi.


"Aish,sudahlah nanti juga kau tau"ujar ayah dan berlalu pergi dari sana.


"Aneh"ujar Alvi heran,lalu ia masuk ke dalam kamar tersebut.


Terlihat Nayla sudah selesai dengan acara mandi nya,ia keluar menggunakan bathrobe dengan kepala di bungkus dengan handuk.

__ADS_1


Alvi yang melihat itu menelan saliva nya kasar.


Entah kenapa pemandangan itu terlihat begitu indah dan sexy.


__ADS_2