
Mendengar ancaman bunda,ayah meneguk saliva nya susah,bahkan ia menatap tak percaya pada bunda.
Karna dengan tega nya berkata seperti itu,bahkan mungkin ini pertama kalinya berbicara seperti itu.
Mereka pun pergi meninggalkan ayah sendiri,namun segera tersadar dan mengejar mereka.
Tanpa di sadari,macan di belakang nya ikut berlari,membuat ayah berteriak-teriak karna ketakutan.
Sedangkan semua orang tertawa melihat itu.
Bahkan tak ad ayang membantu nya,mereka malah asyik menonton adegan di depan nya.
*****
Tak terasa waktu cepat berlalu,hari sudah beranjak sore.
Suasana begitu ramai,karna teman-teman Nayla dan Alvi berada di sana,termasuk papa Adi dan mama Riska.
Ayah mendengus kesal,karna ia merasa sendiri,bahkan anak-anak gadis tak ada yang menyapa nya,bahkan terkesan cuek dan tak peduli,seolah keberadaan nya tak terlihat.
"Nit,kenapa gak sekalian aja kau tembak kepala nya,biar gak bikin rusuh.Apa-apaan lagi,dia pake rencanain mau bunuh om Bas,demi harta pula"gerutu mama Riska.
"Aku gak nyangka kalau dia jadi sejahat itu"timpal papa Adi menggelengkan kepala nya.
Ayah yang mendengar percakapan itu merasa kesal,karna tak ada yang mempercayai nya,bahkan istri nya sendiri.
Bahkan tanpa ia sadari,ayah malah melamun,sampai akhir nya,ayah di kagetkan dengan teriakan seseorang.
"Happy birthday"ujar Tia keras...
Mendengar itu ayah malah melongo,karna terkejut.Hingga akhirnya Adnan kesal sendiri karna ayah nya hanya diam.
Bahkan suasana yang tadi ricuh,seketika hening,karna melihat ayah yang terdiam.
"Ayah"teriak Adnan di telinga ayah,sampai membuat ayah terkejut dan tiba-tiba secara reflek memukul Adnan.
Plak
"Aduh,kenapa ayah memukul ku?"tanya Adnan.
"Kau itu tak ada sopan-sopan nya,sama orang tua"kesal ayah menatap Adnan tajam.
Sedangkan Adnan hanya menyengir tak bersalah.
"Apa ayah tidak suka kejutan nya?"tanya Amel sendu.
"Iya,padahal kami merencanakan ini sudah jauh-jauh hari,bahkan aku rela meninggalkan meeting penting dengan klien ku"ujar Renata sedih.
Mendengar itu,ayah tersadar,dan terharu dan segera menghampiri para gadis.
"Ini untuk ayah?"tanya ayah menyakinkan.
"Tentu saja,karna hari ini kan ulang tahun ayah"ujar Tia semangat.
"Terima kasih,ayah sangat terharu"ujar ayah memeluk mereka.
__ADS_1
"Mas"panggil bunda lembut.
"Bun"panggil kembali ayah.
"Selamat ulang tahun,semoga panjang umur,dan sehat selalu"ujar bunda membuat ayah berkaca-kaca.
"Bunda gak marah?"tanya ayah polos.
"Marah kenapa?"tanya balik bunda.
"Benarkah,bunda gak marah?"tanya ayah lagi.
"Gak donk,mana bisa bunda marah"ujar bunda membuat ayah memeluk bunda.
"Ku kira bunda marah,karna masalah tadi"ungkap ayah.
"Itu semua rencana putri mu"ujar bunda tersenyum.
"Eeh"
"Iya"ujar bunda melihat putri nya,yang sedang berbincang dengan teman-temannya.
Mendengar itu ayah berbalik dan melihat putri nya.
Merasa ada yang melihat ke arah nya,Nayla pun melihat sekitar nya.
Tatapan nya melihat ke arah ayah,di sana terlihat ayah menatap nya tajam,bahkan tak ada senyum sedikit pun.
Membuat Nayla hanya menyengir tanpa dosa,dan menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.
"Jangan ikut campur, mending kau diam saja"ketus ayah kesal.
"Hey Darma,kau sudah tua jangan selalu marah-marah,nanti cepat mati"ujar dokter Bram meledek Darma.
"Kau?"tunjuk ayah.
"Iya aku"ujar dokter Bram santai.
"Kenapa kau di sini?"tanya ayah menghampiri sahabat nya itu.
"Melayad"celetuk dokter Bram,membuatnya harus mendapatkan cubitan di paha nya.
"Aduh Dek,kenapa nyubit sih,sakit tau"protes dokter Bram,pada istri nya.
"Habis nya mas itu kalau bicara suka ngasal"kesal Tante Tania istri dari dokter Bram.
"Gak asyik kamu mah"keluh dokter Bram,tapi malah mendapatkan tatapan ancaman.
"Baiklah,mas akan diam"ujar dokter Bram lembut.
"Dasar bucin"ucap papa Adi dan ayah kompak.
"Gak ngerasa nya?Bahkan kalian berdua pun sama"ujar dokter Bram santai.
Akhir nya mereka para pria berkumpul,baik yang muda atau yang tua,mereka biasa bicara soal bisnis.
__ADS_1
Dan para perempuan hanya membahas masalah rumah tangga dan suami nya.
Sedangkan yang belum menikah hanya menyimak saja.
"Al, gimana dengan kepala pelayan itu?"tanya papa Adi serius.
"Sudah di urus sama anak buah ku,besok kita temuin dia di tempat biasa"ujar Alvi datar.
"Hmm"ujar papa Adi santai.
"Kepala pelayan siapa?"tanya dokter Bram penasaran.
"Kepala pelayan di rumah ini"ujar ayah santai.
"Kenapa?"tanya dokter Bram polos.
"Gak usah pura-pura polos"ujar papa Adi datar,membuat dokter Bram hanya cengengesan.
"Aakh,kau ini tak bisa di ajak bercanda"ujar dokter Bram santai.
"Kau itu,kan memang hidup mu selalu penuh candaan,tak pernah serius"celetuk ayah membuat dokter Bram melihat ke arah nya.
"Kau itu sembarangan saja,kalau aku tak serius,mana mungkin sampai saat ini istri ku masih bertahan"ujar dokter Bram tak terima.
"Aku yakin,itu hanya terpaksa"celetuk Toni membuat semua orang menatap ke arah nya.
"Hey,bocah,nyambung-nyambung aja deh kamu anak nya siapa sih?"tanya dokter Bram gemas.
"Anak nya tuan dan nyonya Wirawan"ujar Toni dengan bangga.
"Pede sekali anda.Apa anda yakin dengan itu?"tanya dokter Bram serius.
"Tentu saja"ujar Toni heran.
"Baiklah,kalau begitu,om akan telpon ibu mu"ujar dokter Bram sambil mengeluarkan ponsel nya.
"Hallo"ujar dokter Bram setelah sambungan terhubung.
"Ada apa kak?"tanya orang itu dengan suara lembut.
"Kau yakin putra sulung mu,adalah anak kandung mu?"tanya dokter Bram,membuat Toni mendelik.
"Yakin lah,orang aku yang mengandung dan nge borojolin nya"ujar perempuan itu.
"Ku kira bukan,karna apa?Karna ia sudah menjalin hubungan dengan seorang gadis,tanpa memberitahu kita sebagai keluarga nya"ujar dokter Bram santai,membuat perempuan di sebrang sana berteriak,berbeda dengan Toni hanya melotot tak percaya.
"APA?"teriak di sebrang sana.
"Berani-beraninya dia.Awas saja aku akan memberi nya pelajaran."ujar perempuan di sebrang sana.
"Hmm,itu harus"ujar dokter Bram santai,sedangkan Toni sudah menelan salivanya kasar.
"Baiklah,kakak bilang pada hari itu, keluarga kita akan datang ke rumah nya Minggu depan"ujar perempuan di sana semangat.
"Mau ngapain?"teriak Toni.
__ADS_1
"Melamar"ujar nya santai dan langsung menutup sambungan telpon nya.