
Berbeda di kediaman ayah Darma,terlihat kehebohan yang di sebabkan oleh Amel.
"Kyaa,ibu,akhirnya nyampe juga."teriak Amel,membuat seisi rumah jengah mendengar nya.
Plak
"Aduhh"suara Amel mengaduh karna kepala nya di geplak oleh ibunya.
"Kamu itu,udah kebiasaan banget,teriak mulu,apa kau tak sakit tenggorokan."omel ibu nya Amel.
"Iih ibu,sakit tau,kenapa sih,ibu suka sekali memukul kepala ku."ucap Amel,sambil mengusap kepala belakang nya.
"Alah,lebay."ucap ibu Amel membuat Amel mengerucutkan bibirnya.
"Yuhuu,penghuni rumah yang durjana,dimana kah kalian berada,yuhuu"teriak ibu Amel.
Bahkan membuat ayah yang berada di ruang kerja nya,harus merasakan sakit di tenggorokan nya akibat tersedak air kopi.
"Astaghfirullah.Dasar emang Tarzan,kenapa ya Allah kau berikan hamba teman purba begitu."keluh ayah sambil mengusap dada nya.
"Ibu,itu apa-apaan sih teriak-teriak di rumah ayah.Apa ibu gak malu diliatin para pelayan."ujar Amel kesal.
"Berisik."ujar ibu Amel ketus.
Mendengar itu Amel hanya mengerucutkan bibirnya.
"Gak tau malu banget ibu itu."gerutu nya kesal.Padahal dia sendiri pun sama ðŸ¤.
Sedangkan di tempat lain,terlihat Alvi tengah berada di sebuah gedung kosong,yang terletak di tengah hutan.
Ia datang kesana,karna akan membereskan sesuatu.
Beberapa jam sebelum nya, Kenan menelpon nya.Bahwa orang yang di cari nya telah ketemu,dan berada di tempat itu.Dan mereka menunggu nya di temapt itu.Ia pergi setelah sang istri tertidur dan di temani oleh orang tua mereka.
Tak lama ia sudah sampai di tempat orang itu di sekap.
Dengan aura memangsa,ia berjalan dengan datar,bahkan anak buah yang menyambutnya,hanya bisa bergidik ngeri.
Sampai lah ia di depan orang itu,ia menarik kursi yang tak jauh dari sana.Ia memperhatikan wajah dari pria tersebut.
"Siram."titah nya dingin.
Tak banyak bicara Bara segera melakukan perintah itu.
Byurr
"Aakh,dingin."teriak nya kedinginan,karna ia di siram dengan air dingin beserta es batu nya.
Semua orang yang di sana hanya melihat dengan tatapan masing-masing.
"Siapa yang berani-beraninya nyiram gue?."tanya nya teriak.
Dug
Seseorang melempar nya mengunakan dengan ember bekas wadah air es tadi.
"Berisik."ujar nya datar.
__ADS_1
Glek
Seketika orang itu menelan saliva nya susah,setelah mendengar suara datar tersebut.
"Siapa kalian?."tanya nya gugup,di tambah air es yang mengguyur nya menyebabkan ia gemetar.
"Lo tanya siapa kita?.Pikir aja sendiri."ledek orang tersebut sinis.
Plak
"sssh,kenapa lo mukul gue sih?"tanya pria tersebut.
"Lo nanya,kenapa mukul lo?.Pikir aja sendiri."ucap orang itu membalikkan pertanyaan pria tersebut.
"Heh,dasar belatung nangka,kenapa lo balikin omongan gu hah.?"tanya nya kesal.
"Jika kalian ingin berdebat lebih baik kalian pulang,gak usah berisik."celetuk orang yang di sana dingin.
Glek
Seketika mereka berdua terdiam,mereka tak ingin mendapat ceramah dari pria dingin tersebut.
"Gimana,lo udah kenal dengan suara mereka?"tanya Alvi dingin ++.
"Kalian.Kenapa kalian bawa gue ke tempat kayak gini,apa salah gue sama kalian semua?"tanya nya ketakutan.
"Salah lo sama gue,eeh bukan maksud gue,salah lo sama istri dan sahabat gue."ujar Rafa sinis.
"Maksud lo?"tanya nya polos.
Bugh
Brak
"Cih,drama."ujar nya dingin,bahkan di dalam gelap pun,mereka seakan merasakan jika mata dari seorang Alvi memancar kan sinar yang begitu menusuk mata.
"Lemah."umpat Bara dingin.
Mendengar umpatan itu membuat pria itu terdiam.Ia merasakan sesuatu yang akan terjadi padanya.
"Lo udah berkali-kali nyakitin istri gue,bahkan sebelum jadi istri gue pun lo udah hampir nge l*c*hin dia.Dan sekarang,yang lebih fatal nya,lo udah buat gue kehilangan bayi gue."ucap Alvi santai namun terdenger seperti sebuah ancaman.
"Keluarkan alatnya."titah nya dingin.
Tak lama,anak buah nya membawa beberapa barang yang di perintahkan bos mereka.
"Ini tuan."ujar salah satu anak.buah nya.
Alvi tak.menjawab,hanya saja Bara mengibaskan tangan nya.Melihat itu mereka pergi dari sana.
Alvi mendekat ke arah meja yang sudab ada alat-alatnya.
"Hmm."gumam Alvi seperti sedang memilih alat tersebut.
Dan pilihan nya jatuh pada pisau kecil,namun jangan salah,pisau tersebut sangat tajam,bahkan yang mereka yang melihat itu bergidik ngeri.
"Apa lo tau,apa yang membuat lo selama ini masih bebas berkeliaran?"tanya Alvi santai,sambil mendekat dan memainkan pisau nya.
__ADS_1
Melihat itu,pria itu sudah ketakutan,bahkan ia sampai gemetar.
"Apa yang akan lo lakuin?"tanya nya gugup dan ketakutan.
"Heh"Alvi hanya tersenyum devil.
"Ternyata lo udah gak sabar yah.Tenang aja,nanti juga kau tau,tapi sekarang kita harus main-main dulu."ujar Alvi dingin,bahkan tatapan nya seketika berubah tajam.
Tanpa basa basi Alvi menggoreskan pisau tersebut ke pipi pria tersebut.
Tanpa rasa gugup atau apa pun itu,ia malah terlihat santai dan lihai.
Bahkan jeritan pria tersebut,malah membuat nya semakin bersemangat.
"Baru tau,mantu gue sadis amat."bisik ayah ke papa Adi.
"Ini belum seberapa.Nanti kau akan lihat dia yang sebenarnya."ujar papa Adi santai,bahkan ia sibuk dengan camilan di tangan nya,termasuk para anak muda di sana.
Mendengar itu,ayah hanya bisa bergidik ngeri,padahal ia sudah sering melihat putri nya begitu,namun melihat menantu nya,ia merasa ngeri sendiri.
"Memang pasangan yang serasi."gumam ayah.
Brak
Mendengar pintu di buka dengan kasar,membuat semua orang melihat ke arah nya.
"Sayang"
"Nayla."panggil mereka bersamaan.
"Gawat,lilith datang."gumam ayah.
"Stop.Biar aku yang lanjutin."ujar nayla dingin.
Mendengar itu,semua orang hanya cengo,namun ayah dan Alvi hanya santai saja.
"Baiklah,ku serahkan dia pada mu sayang."ujar Alvi lembut.
Mendapat izin dari suaminya,ia pun menyeringai kecil,ia berjalan perlahan ke.arah pria tersebut,yang sudah lemas.
Ia mendapat luka sayatan di seluruh badan nya,bahkan kepala nya sudah tak ada kulit sedikit pun.
"Hay,kak Devan.bagaimana kabarmu?"tanya Nayla lembut.
"Oho,tentu saja baik,sangat baik malahan."jawab nya sendiri.
Ya,orang tersebut adalah Devan,dan sekarang ia hanya tinggal menunggu azal nya saja.
"Nayla"panggil nya lemah dan pelan.
"Iya,ini aku.Apa kakak merindukan ku?"tanya Nayla lembut dan tersenyum.
"Ambilkan air garam"titah nya tanpa melihat ke arah siapa pun.
"Ambilkan."ujar Alvi datar.
"Ini nona"ujar anak buah.
__ADS_1
"Terima kasih paman."ucap nya sopan.
Byur