
Di ruangan tempat Nayla di rawat keadaan begitu haru.
Bunda melihat itu pun menitikkan air mata nya.
"Apa kalian akan terus memeluk ayah seperti ini?"celetuk ayah ketus.
Namun itu hanya candaan saja.
Mereka pun melepaskan pelukan nya.
"Aah,ayah mah gak seru"ucap Tia sambil mengusap air mata nya.
Setelah nya mereka pun bercanda bersama.
Berbeda dengan Alvi,ia merasa dunia nya hancur.
Ia tak menyangka gadis nya akan segera menikah,dan lebih miris lagi bukan bersama diri nya.
Kenan melihat itu hanya diam,ia tak mengeluarkan suara nya sedikit pun.
Ia hanya melihat sepupu nya dari kaca spion depan.
Kenan melihat Alvi hanya melamun sedari tadi,kadang terlihat seperti kesal,kecewa,dan marah.Terlihat dari cara ia mengepalkan tangan nya.
Hingga lamunan nya buyar saat suara ponsel nya bergetar.
Dengan malas ia melihat ke arah ponsel nya,sudah melihat siapa yang menelpon nya,ia pun mengabaikan nya.
Bahkan sampai deringan ke tiga baru ia mengangkat nya.
"Ya ma"jawab Alvi tak semangat.
"Kamu dimana?,pulanglah sekarang mama ingin mengatakan hal penting"ucap mama Riska langsung mematikan telpon nya,tanpa mendengar jawaban dari Alvi.
Alvi mendengar itu hanya menghela nafas kasar.
Sebenarnya ia merasa malas untuk pulang,ia ingin menyendiri dan berniat akan pulang ke apartemen nya sendiri.
Tapi apa mau di kata,mama nya menelpon untuk segera pulang.
Dan seperti nya ini memang penting,karna dari nada bicara mama nya begitu serius.
"kita ke mansion"titah Alvi datar.
"siap"ucap Kenan.
"apa lo gak apa apa?"tanya Kenan serius.
"tenang aja,gue baik baik aja"ucap Alvi tenang,padahal hati nya sedang tak baik baik saja.
Setelah itu tak ada pembicaraan lagi,mereka berdua hanya diam dengan pikiran nya masing masing.
Alvi hanya diam,ia sedang tak mau bicara,sampai akhir nya mereka sampai di mansion Pradipta.
"Assalamualaikum"teriak Kenan,membuat Alvi hanya mendengus.
"Wa'alaikumsalam"jawab mama Riska dan papa Adi.
"Udah lama om,Tan?"tanya Kenan dan langsung duduk di sofa kosong.
Sedangkan Alvi hanya duduk dan kembali melamun.
Ia merasa lelah,lelah hati dan pikiran nya.
Orang tua nya melihat itu hanya menggelengkan kepala nya.
Alvi mencoba memejamkan mata nya dan menyandarkan kepala di kepala sofa.
__ADS_1
"Al"panggil papa Adi.
"Hmm"Alvi hanya berdehem karna ia sangat malas,ia hanya menutup mata nya oleh sebelah tangan nya.
"Papa ingin bicara sesuatu yang penting"ucap papa Adi sedikit ragu.
"Hmm"Alvi masih berdehem.
"Al,lihat kami"tegas papa Adi membuat Alvi menuruti perkataan papa nya.
"Kalian mau bicara apa?"tanya Alvi malas.
"Kami sudah menjodohkan mu"ucap mama Riska membuat Alvi melihat ke arah mereka dengan tatapan tak sulit di jelaskan.
"Kami sudah menjodohkan mu sejak kamu masih kecil,dan kemarin keluarga gadis itu menagih janji itu,dan besok kita akan datang dan langsung melamar nya"ucap papa Adi tegas.
Mendengar itu Alvi gak terima,bahkan ia langsung bangkit dari duduk nya.
"Aku gak mau,dan sampai kapan pun aku gak akan menerima perjodohan ini"tegas Alvi dan pergi dari sana.
Papa Adi mendengar itu langsung marah.
"Alvian,kalau kau sampai tak menerima perjodohan ini,jangan harap kau bisa bertemu lagi dengan mama mu lagi"ancam papa Adi terlihat serius.
Mendengar itu Alvi langsung menghentikan langkah nya dan melihat ke arah mereka.
"Terserah"jawab Alvi langsung pergi ke kamar nya.
Brak
Alvi membanting pintu kamar nya dengan penuh emosi.
Ia meluapkan perasaan nya yang sejak tadi ia tahan.
"Aakkh"teriak Alvi,bahkan teriakan nya sampai ke lantai ke bawah.
Mendenagr itu semua orang panik,terutama mama Riska.
Karna tak biasa nya putra nya itu mengamuk seperti itu,dan ini yang pertama kali nya.
Ia sudah takut sesuatu terjadi kepada putra sulung nya itu.
"Pa apa itu gak keterlaluan?"tanya mama Riska khawatir.
"Tenanglah,tak kan terjadi sesuatu,aku yakin putra kita akan baik baik saja,lebih baik sekarang kita harus mempersiapkan segala sesuatu untuk acara besok."ucap papa Adi lembut,dan mama Riska pun mengangguk.
"Oh ya om,apakah besok aku harus ikut?"tanya Kenan sambil menggaruk kepala nya yang tak gatal.
"Tentu saja,bahkan teman kalian yang lain pun harus ikut"ucap papa Adi tegas.
"Baiklah"ucap Kenan semangat.
"Kenapa kau semangat sekali?"tanya papa Adi curiga.
"Gak kok om"ucap Kenan sambil nyengir.
Papa Adi tak membalas ucapan Kenan,ia pergi ke arah kamar putra nya menyusul istri nya.
Sampai nya di depan kamar putra nya,ia heran melihat istri nya sedang menangis.
Dengan segera ia menghampiri nya.
"Kenapa ma?"tanya papa Adi cemas.
Mama Riska hanya menunjuk ke arah kamar Alvi.
Cess
__ADS_1
Seketika papa Adi pun terharu,ia menatap anak nya dengan mata berkaca kaca.
Mereka melihat Alvi sedang terduduk di sudut sofa,terlihat jika ia sedang menangis.
Tak tega melihat nya,mama Riska masuk dan menghampiri nya,dengan perlahan.
Deg
Mama Riska terkejut melihat sesuatu yang di pegang putra sulung nya.
Namun tak lama kemudian ia tersenyum.
Mama Riska melihat sebuah poto seorang gadis yang di kenal nya.
"Kenapa kamu gak mau nunggu aku,padahal aku udah janji sama kamu,tapi kenapa kamu malah sama yang lain?"racau nya membuat mama Riska terharu,dan juga bingung.
Namun mama Riska masih mendengarkan racauan putra nya.
"Dulu kamu udah janji bakal nunggu aku,bahkan selama tiga tahun ini aku selalu setia,dan jaga hati aku buat kamu,tapi kamu..hiks"ucapan Alvi membuat mama Riska mengerti.
Ternyata selama ini,putra nya sudah menjalin hubungan dengan putri sahabat nya.
Bahkan sebelum suami nya mengirim Alvi ke luar negeri.
"sayang"panggil mama Riska lembut.
"ma"sahut Alvi dengan air mata di pipi nya,dan kemudian memeluk mama nya.
Melihat itu mama Riska terenyuh.
Kemudian ia melihat ke poto yang di pegang putra nya.
"Cantik,siapa dia?"puji mama Riska dan bertanya.
Alvi hanya diam ia tak tau harus bicara apa.
Mama Riska tak bertanya lagi,ia hanya memeluk dan mengelus punggung putra nya lembut.
Entah harus bahagia atau sedih,melihat putra nya menangis begini.
Karna ini pertama kali nya,ia melihat putra nya menangis terpuruk.
Papa Adi yang melihat itu dari luar merasa terharu,karna dengan begitu ia menjadi yakin untuk meneruskan perjodohan ini.
Setelah beberapa lama,hanya terjadi keheningan.
Mama Riska yang sudah pegal,ia mencoba melepaskan pelukan putra nya.
"Nak"panggil mama Riska.
Namun tak ada jawaban,saat ia melihat dari cermin,ternyata Alvi sudah tertidur.
"Tidurlah nak,besok pasti akan sangat melelahkan"gumam mama Riska.
Ia pun tersenyum dan segera memanggil suami nya.
"Pa sini"panggil mama Riska dan papa Adi pun segera menghampiri nya.
"kenapa?"tanya papa Adi.
"bantuin"ucap mama Riska pelan,bahkan seperti bisikan.
Papa Adi yang mengerti pun menganggukan kepala nya.
Mereka mencoba memindahkan Alvi ke tempat tidur,walau pun sulit tapi mereka tak menyerah,karna mereka meminta bantuan pada kepala pelayan yang kebetulan melintas.
"Pak Man,bantuin saya"titah papa Adi.
__ADS_1
Tak lama mereka pun sudah memindahkan Alvi,sekarang mereka tenang dan pergi meninggalkan Alvi sendiri.