
Sontak saja mendengar itu,semua orang tertawa,kecuali Toni,ia hanya diam dan seperti memikirkan sesuatu.
"Wah,garcep juga nyokap Lo"puji Rafa dengan sindiran.
"Selamat Bram,akhir nya salah satu dari keluargamu ada yang akan menggelar acara pernikahan"ujar ayah terkekeh.
"Terimakasih,terima kasih"ujar dokter Bram bahagia.
"Gue bakalan punya istri?"tanya Toni dengan gumaman.
"Iya"teriak mereka yang ada di sana.
Mendengar itu Toni terdiam,sedetik kemudian ia berteriak heboh.
"Yeay,akhirnya gue bakal nikah"teriak Toni mengundang para gadis menghampiri.
"Ada apa sih?Heboh banget"tanya Renata cuek.
"Ini loh,bentar lagi si Toni bakal married"ujar Rafa tertawa.
"Apa?"teriak mereka serempak.
Namun berbeda dengan Tia,ia menatap Toni dengan tatapan sedih nya.
Tapi ia tetap berusaha untuk tersenyum,karna ia tak ingin membuat orang terdekat nya mengetahui kalau ia bersedih.
Dokter bram melihat itu tersenyum samar,hingga ia mendekat ke arah ayah dan berbisik.
"Dar,nanti kirimkan alamat gadis itu,dan juga nomor orang tua nya"bisik dokter Bram dan di angguki oleh ayah.
"Tapi masalah nya,ia tak mempunyai ayah,karna dua tahun yang lalu sudah meninggal"ujar ayah dengan berbisik pula.
"Gak masalah,yang penting anak nya baik"ujar dokter Bram sedikit keras.
"Baiklah,nanti ku kirim kan nomor nya"ujar ayah santai.
"Oh iya,sebelum acara lamaran,om ingin bertemu dengan orang tua nya dulu"ujar dokter Bram santai.
Namun Toni yang mendengar itu,hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kenapa kamu?"tanya dokter. ram menatap heran ke arah Toni.
"Toni gak tau om"ujar nya cengengesan.
Plak
__ADS_1
"Kau itu,bagaimana sih,menjalin hubungan dengan anak nya,tapi kau tidak izin pada orang tua nya,mau ku bedah kau?"geram dokter Bram.
"Bukan gitu om,lagian kan tadi nya itu aku mau bilang dulu sama mama,tapi malah keduluan om yang bilang,jadi nya kan gini,main lamar aja"ujar Toni dengan nada santai nya.
"Alah,alasan sana kau.Ingat nya jika kau berani macam-macam,kau akan berhadapan sama om"ancam dokter Bram serius.
"Iya om"ujar Toni menunduk.
"Kayak nya,adik kamu itu sekarang lagi heboh-heboh nya,nyiapin ini itu,gak kebayang aku"ujar ayah tertawa,dan di balas tawaan lagi oleh dokter Bram dan papa Adi.
Sedangkan wanita paru baya di sebrang sana, merasakan telinga nya berdengung.
"Siapa yang lagi bicarakan aku"gumam nya pelan.
Lalu kemudian ia menelpon suami nya,untuk segera pulang dan tak usah lembur.
"Bi,bibi"teriak nya membuat sang bibi tergopoh menghampiri nya.
"Iya,nyonya"jawab nya sopan.
"Aakh,bibi akhirnya aku akan punya mantu,sebentar lagi rumah ini bakalan sepi lagi,karna aku akan punya anak perempuan"ujar nya senang,bahkan sampai membuat bibi sang asisten rumah tangga nya pusing,karna di buat seperti gangsing.
"Aduh nyonya,sudah bibi sudah pusing ini"keluh bibi,seketika putaran nya berhenti.
"Aakh bibi mah ganggu ajah,aku tuh lagi seneng tau"keluh nya cemberut.
"Gak seru aah,gak nga rame keun bibi mah.Dan satu lagi,bibi gak usah panggil aku nyonya,panggil aja nama,atau apa lah,asal jangan nyonya,ingat nya bi N_Y_O_N_Y_A"ujar nya mengeja di akhir kalimat.
"Baiklah terserah kamu saja"ujar bibi tersenyum.
Ya mereka sangat dekat,karna bibi sudah bekerja padanya orang tua nya sejak ia masih kecil,jadi ia sudah akrab dengan nya.
"Aakh,asal bibi tau,aku tuh bahagia banget,akhirnya putra ku itu sudah dewasa dan sebentar lagi mau menikah,aakh senang nya aku"adu nya pada bibi.
"Bibi ikut seneng denger nya,semoga saja ia tak manja lagi seperti hari biasa nya"ujar bibi dengan terkekeh.
"Iya,bibi benar,entah kapan ia akan dewasa nya jika ia terus bersikap manja terus"ujar nya ikut terkekeh.
"Kania"panggil seseorang yang baru saja datang.
"Eeh,iya mas"ujar nya cengengesan.
"Kamu itu lagi ngapain sih,di panggil-panggil gak nyaut-nyaut,heran aku"keluh nya sambil memeluk istri nya itu.
"Maaf mas,habis nya aku tuh lagi seneng banget"ujar nya senang,mendengar ucapan istri nya membuat ia mengangkat sebelah alis nya.
__ADS_1
"Kamu tau mas,bentar lagi kita bakal punya mantu"teriak nya heboh, bahkan sampai membuat suami nya menutup telinga nya.
"Kamu itu,bisa gak sih kalau gak teriak-teriak"ujar nya lembut namun dengan wajah kesal.
"Kamu itu mas,kayak gak tau aku aja"manyun nya kesal.
"Adudu,istri ku yang cerewet ini merajuk"ujar nya sambil mengecup pipi istri nya.
"Iih,mas kebiasaan deh,malu tau"ujar nya dengan pipi merona.
"Tadi kamu bilang apa?Kita akan punya mantu,emang siapa yang mau nikah?"tanya suami nya heran.
"Anak kita lah,masa anak tetangga"ujar istri nya kesal.
"Anak kita yang mana?"tanya nya masih mau menggoda istri nya.
"Emang nya kita punya berapa anak?Sampai mas tanya,anak yang mana.Heran aku tuh"dumel nya kesal.
"Hehehe,aku kan cuma bertanya,siapa tau aja kan anak nya mas Bram"ujar nya terkekeh.
"Anak kita dong mas,anak kita satu-satunya,siapa lagi kalau bukan Toni Wirawan."ujar nya masih kesal.
"Emang udah punya calon nya? Gadis mana yang membuat nya ingin cepat-cepat menikah?"tanya nya dengan suara kecil.
"Iih,kamu mah,ya udah ada atuh.Bahkan mas Bram yang barusan kasih tau,kalau sekarang itu,tuh anak udah di sana sama gadis nya"jelas nya.
"Kok,mas Bram sih yang duluan tau"keluh suami nya.
"Gak tau,yang jelas dan harus bisa,Minggu depan kita datang ke rumah gadis itu untuk melamar nya,kalau perlu kita nikah kan langsung"ujar nya bersemangat.
"Emang gak terlalu cepet nya?"tanya nya santai.
"Gak atuh,malahan mah terlalu lama"ujar nya santai.
"Baiklah,jangan lupa tanya kan pada mas mu,alamat rumah nya"ujar nya dan berdiri untuk ke kamar membersihkan badan nya.
"Mau kemana?"tanya nya polos.
"Mau ikut?"ajak nya tersenyum.
"Mau"ujar nya bersemangat.
Sedangkan di tempat lain,setelah di usir oleh Arief,sekarang Vita tengah berada di rumah orang tua nya.
Ia pulang dengan marah-marah,bahkan orang tua nya menegur pun tak ia hiraukan.
__ADS_1
"Sampai nya di dalam kamar nya,ia segera membaringkan tubuhnya karna lelah,apa lagi setelah melayani nafsu pria yang di cintai nya,karna mereka melakukan nya sangat lama,bahkan meski sedang sakit,tapi nafsu nya sangat besar,dan itu membuat Vita semakin mencintai nya,meski harus mencintai dalam diam.