Janda Virgin Milik Tuan Muda

Janda Virgin Milik Tuan Muda
Kesedihan


__ADS_3

Semua orang yang ada di sana terkejut,mendengar dobrakan pintu yang begitu keras.


"Buset,kaget gue."celetuk Rafa.


"Untung aja,jantung gue gak pindah ke ginjal."timpal Toni sambil mengusap dada nya.


Ya,mereka bertiga sudah berada di sana,termasuk Bara.


Hingga suara deheman seseorang,membuat suasana hening,bahkan aura nya terasa dingin,membuat suasana begitu mencekam.


Brug


Brug


Brug


"Anj*r,ngeri gue"bisik Toni,pada Rafa.


"Gue baru liat dia begini,dan gue bakal kayak gitu,kalau orang tersayang kita di celakai,apalagi,ini sampai kehilangan bayi yang masih kecil."ungkap Bara dingin,dengan tatapan melihat ke arah Alvi yang sedang mengamuk.


"Br*ngs*k,lo udah nyelakain istri gue,bahkan gue sampai kehilangan anak yang ada di perut istri gue."marah Alvi,bahkan tanpa menghentikan pukulan nya.


Melihat itu,semua orang hanya diam,meski orang tersebut udah tak berdaya,tapi mereka tak berani mendekat.


Karena mereka tau,tak ada yang bisa menghentikan amarah Alvi,bahkan orang tua nya pun tak ada yang berani.


"Hahaha,gue seneng denger nya,namun lebih bagus lagi,kalau lo juga kehilangan istri lo itu."ucap orang itu dengan suara lemah.


Entah kenapa tak ada rasa takut ,meski ia sudah tak berdaya.Mendengar itu,emosi Alvi,semakin besar,bahakn ia tak segan-segan menembak paha orang itu.


Dor


Glek


Semua orang menelan ludah nya,apa lagi ayah,ia tak menyangka,jika menantu nya sangat kejam.


"Coba ngomong lo sekali lagi."perintah Alvi denagn suara pelan,namun penuh ancaman.


Belum sempat orang itu menjawab,suara ponsel mengalihkan perhatian mereka.


Ternyata,itu ponsel milik ayah,seketika ayah melohat ponsel nya,dan ia melotot ketika siapa yang memanggil,bahkan telpon nya sudah tersambung.


"Siapa?"tanya papa berbisik.


"Nayla."jawab ayah berbisik pula.


"Loadspeaker"pinta papa Adi.


"Hallo,nak"jawab ayah gugup.


"Ayah,apa suami ku ada bersama ayah?,kalau ada,aku ingin bicara."pinta Nayla di sebrang sana.


Mendengar itu,mereka semua gugup,dan saling pandang,serempak mereka melihat ke arah Alvi.


Sadar semua orang menatap nya,alvi pun melepaskan orang itu,dan memberi kode pada anak buah nya,untuk mengurus orang itu.


Setelah itu,ia mendekat ke arah ayah,dan mengambil ponsel nya.

__ADS_1


"Sayang"panggil Alvi lembut.


Semua orang melongo,melihat perubahan itu,bahkan belum ada lima menit,ia seperti singa yang ingin menerkam mangsa nya,namun,sekarang sudah kembali seperti anak kucing yang lemah.


"Buset,udah jadi kucing manis aja dia."ucap Toni.


"Maklum,pawang nya."celetuk Rafa,membuat nya di lempari pistol yang tadi di gunakan Alvi.Dan pelakunya Alvi sendiri.


"Baiklah,aku akan pulang,bye."ujar alvi langsung memutuskan sambungan nya.


"Kalian,urus orang itu,bawa dia ke tempat charlie."ujar Alvi dingin,tanpa menunggu lama,ia pun pergi dari sana, tanpa mengajak orang tua.


Mereka pun pergi dari sana,namun di perjalanan,Bara seperti melihat seseorang yang tak asing.


Bahkan,ia sengaja memutar mobil nya,untuk mengikuti orang itu,dan beruntung nya,orang itu tak mengetahui kalau ia di buntuti.


Setelah hampir 30 menit mengikuti orang itu,ia sampai di sebuah rumah yang cukup kecil dan sederhana.


Ia melihat orang itu keluar dari mobilnya,sedangkan ia menunggu orang itu dari dalam mobil.


Namun,sesaat ia terkejut,saat melihat siapa yang didatangi orang tersebut.


"Devan."gumam nya pelan.


Karna penasaran,ia pun keluar,ia berjalan dengan mengendap-endap.


Dan untuk berjaga-jaga,ia mengirimkan sinyal pada sahabatnya.Karna ia merasa,akan ada sesuatu yang besar yang akan terjadi.


Ia berjalan pelan,sampai ia berhenti di depan pintu yang belum tertutup rapat.


Namun,hal mengejutkan terjadi,ia mendengar pembicaraan tersebut.


Karna tak ingin ketahuan,ia segera pergi dari sana.Dan segera pergi dari sana.


Di perjalanan ia menelpon Kenan,ia menyuruh mereka untuk menunggu nya di tempat mereka biasa berkumpul.


Sedangkan di sisi lain,Devan,ia sedang merayakan keberhasilan nya,karna ia berhasil membuat seorang Alvian putra Pradipta merasa hancur walau sedikit,bisa di bilang itu peringatan kecil untuk nya.


Tanpa ia tau,kalau hidup nya sedang terancam,bahkan mungkin ia tak akan akan sanggup untuk hidup di dunia ini.


"Gue yakin,sekarang dia gak akan tinggal diam,karna gue yakin si Rio pasri udah ketangkap,dan gue juga yakin,kalau dia gak sebodoh itu."ujar nya merasa senang,karna merasa rencana nya berhasil.


Keadaan di rumah sakit,terdengar riuh,karna para pria sudah datang,bahkan tuan Baskoro dan tuan Seno kakek dari Renata pun datang.Tak ketinggalan paman Andi.


"Gak nyangka,kita bisa bertemu lagi setelah sekian windu tak bertemu."ujar tuan Seno pada tuan Baskoro.


"Lebay.kau"ketus paman Andi.


"Cih,dasar kabel."cibir balik tuan Seno.


"Dari pada kau,knal pot."ucap paman Andi,membuat semua orang menggelengkan kepala nya.


"Ya ampun,mulai lagi."gumam ayah Darma.


Ya,sedari mereka bertemu,sampai sekarang,mereka tak berhenti nya saling mencibir,bahkan sikap mereka sudah seperti anak-anak tk.


Karna pusing mendengar mereka berdebat, Alvi yang sedari tadi diam duduk di samping istrinya,berbicara dengan dingin.

__ADS_1


"DIAM."ujar Alvi dingin,dan tentu saja mereka langsung diam,tak ada yang berani berbicara.


Glek


"Bocah ini sungguh dingin,bahkan tatapan nya begitu tajam,aku sampai bergidik melihat nya."gumam tuan Seno.


"Bagus,lebih baik kalian semua pulang,biarkan istri ku istirahat."ujar Alvi dingin,namun tatapan nya mengarah pada istrinya,yang sedang ia suapi buah.


"Hmm,iya,lebih baik kita pulang dulu,besok kita bisa kembali lagi."timpal bunda segera beranjak dari duduk nya.Dan mendekat ke arah brankar tempat Nayla berbaring untuk berpamitan.


Tak lama,ruangan itu sudah hening kembali.Hanya ada Alvi dan Nayla saja.


"Sayang"panggil Nayla pelan.


"Hmm,kenapa?"tanya Alvi masih memeluk Nayla sambil berbaring.


"Maaf."ujar Nayla dengan suara serak menahan tangis.


Mendengar istri nya seperti akan menangis, membuat Alvi melonggarkan pelukan nya,dan menatap wajah istrinya,yang sudah basah dengan air mata.


"Sutt,kenapa hm?,apa ada yang sakit?"tanya Alvi lembut sambil mengusap air mata istrinya.


"Maaf,aku gak bisa jaga anak kita,hiks,,aku udah buat dia pergi,bahkan sebelum kita melihatnya,,hiks,,hiks."ujar Nayla sudah menangis sesegukan.


"Sstt,sayang,ini bukan salah kamu.Mungkin, Tuhan lebih sayang padanya,jadi dia mengambil nya kembali."ujar Alvi mencoba menenangkan.


"Tapi,,,aku merasa kehilangan,meski baru beberapa minggu,aku sudah merasa bahwa ia sudah sangat lama di perut ku,hiks,aku merasa sakit di sini."ujar Nayla sambil menunjuk dada nya sendiri.


"Gak apa-apa,mungkin dengan kejadian ini,kita bisa lebih hati-hati lagi,dan juga,bisa saja nanti tuhan akan mengganti nya,dengan yang lebih banyak lagi."ujar Alvi dengan sedikit candaan.


"Maksud kamu?"tanya Nayla.


"Iya,bisa saja,nanti bila kamu mengandung lagi,anak kita jadi dua, tiga atau empat."ujar Alvi tersenyum.


"Maka dari itu,setelah kamu pulih,kita bisa buat lagi yang sering,kalau perlu,setiap jam kita buat."ujar Alvi,dan malah mendapat cubitan dari Nayla.


"Dasar mesum."ucap Nayla tersenyum kecil.


"Nah,gitu donk,kamu harus senyum,masa istri ku yang cantik ini sedih begitu,kan gak lucu."ujar Alvi.


"Kamu,iih."


"Makasih"ujar Nayla memeluk kembali Alvi.


"Untuk?"tanya Alvi.


"Semuanya."jawab Nayla,mendongakkan kapala nya.


Cup


Karna gemas, Alvi mengecup bibir Nayla ,namun Nayla menahan nya,jadilah ci*man panas pun terjadi,hingga beberapa menit.


"Nakal"ujar Alvi setelah mereka melepas pagu*an tersebut.


"Sudah,jangan menggoda ku terus,tidurlah"ujar Alvi memeluk Nayla dan mengecup kepala Nayla sayang.


"Aku juga sedih,namun,aku harus tegar,karna aku gak mau kamu semakin sedih."batin Alvi,dan tak lama ia pun menyusul Nayla,yang sudah tertidur pulas.

__ADS_1


__ADS_2