Janda Virgin Milik Tuan Muda

Janda Virgin Milik Tuan Muda
Episode 74


__ADS_3

Sore hari nya, Nayla sudah berada di rumah nya dengan suaminya.Teman-teman nya sudah pulang dari satu jam yang lalu.


Sekarang ia berada didalam kamarnya,dengan di temani Alvi suaminya.


Ia menyandarkan kepalanya di dada Alvi,dengan tangan melingkar di pinggang alvi,begitu pun dengan Alvi,ia mendekap lembut badan Nayla.


"Yang?"panggil Nayla.


"Hmm"jawab Alvi dengan deheman.


"Maaf,karna aku udah teledor,dan mengakibatkan bayi kita keguguran."ujar Nayla dengan suara parau menahan tangisnya.


"Sst,kamu gak usah merasa bersalah,mungkin DIA lebih sayang sama anak kita,dan mungkin kita belum sanggup menjadi orang tua.Kita berdoa saja,supaya kita di berikan dengan yang lebih baik lagi."ujar Alvi menenangkan.


"Tapi..."


"Gak ada tapi-tapian.lebih baik sekarang,kita mandi karna waktu hampir petang."ajak Alvi,dan tanpa persetujuan istrinya,ia bangkit dan langsung menggendong Nayla secara bridal style.


Reflek, Nayla berteriak karna ia terkejut,bahkan hampir saja ia jatuh,kalau tidak segera berpegangan.


Dan di sisi lain,tepatnya di kediaman Rafa,terjadi kehebohan,karna nyonya pemilik rumah itu tak berhenti nya berteriak histeris.


"Aaakhhhh,AKHIRNYA."teriak membuat semua pelayan yang ada di sana tak berani keluar.


"Uhuyyy, sebentar lagi,mantuku akan datang,aku udah gak sabar menantikan itu.Hufft,AAAKHH aku udah gak sabar."


Sedangkan dua orang pria dewasa berbeda umur,hanya bisa menghela nafas berat,bahkan sesekali mereka menutup telinga mereka.


"Hey bocah,rasanya telinga ku hampir pecah,mendengar ia berteriak."keluh pria paru baya.


"Bukan hanya papi saja,bahkan aku pun sama."timpal pria yang lebih muda.


"Huft,untung sayang.Aku berharap menantu ku nanti tak seperti istriku."tawarnya sedikit pelan.


"Hufft,sayang sekali,harapan anda tak terkabul.Bahkan mungkin gadisku akan sama gila nya."ujar Rafa sambil berbisik.


"Huft,sayang sekali."keluh nya menyandarkan kepala nya di bantalan sofa.


"Mi,apakah tenggorokan mu tidak sakit?.Perasaan aku tuh udah sakit ini telinga,mendengar suara cempreng mu itu,yang berteriak tak karuan."ujar Rafa santai.


Puk


"Dasar anak durjana,sama maminya sendiri aja,kalau ngomong suka seenaknya saja."jawab Tante Mutia kesal.

__ADS_1


"Ya habisnya,dari tadi loh itu.Gimana kalau calon aku tuh malah jadi gak mau sama aku,karna liat tingkah mami kayak gitu.Emang nya mami mau putra tampan,sexy,dan hot ini gak laku,karna tingkah mami?."tanya Rafa serius.


Mendengar pertanyaan Rafa,tante Mutia pun seketika diam dan menatap ke arah Rafa intens.


Melihat itu, Rafa yang di tatap mami nya gugup.


"Ng,,ngapain mami liatin aku begitu?"tanya Rafa gugup.


"Beneran?"tanya mami Mutia.


"Beneran apanya?"tanya balik Rafa.


"Ish,dasar anak Yuda.Gak usah pura-pura gak tau dech."ketus mami Mutia.


"Pura-pura apa sih mami,emang apasih yang beneran itu?"tanya Rafa dengan wajah di buat serius.


"Itu loh calon mantu mami."ujar nya tak sabar.


"Ooh, Amel,emang kenapa Mi?"tanya Rafa santai.


"Beneran?.Aakh akhirnya.Mantu ku i'm coming."teriak nya heboh.


"Tapi..."ujar Rafa sengaja menjeda ucapan nya.


"Dia itu kalem dan gak suka orang yang cerewet."ujar Rafa mencoba mengerjai maminya.


"Yah,terus gimana donk,kamu kan tau mami itu gak bisa diem dan banyak omong.Terus nanti kalau dia gak suka sama mami,nanti kamu gak jadi nikah,dan pastinya mami bakal lama lagi dapet mantu."keluh mami Mutia lesu.


Melihat wajah lesu mami nya, Rafa semakin gencar mengerjai nya.


"Iya,bahkan nih ya,calon ku itu kalem loh,gak pecicilan kayak mami."ujar Rafa dengan suara pelan di akhir.


"Terus...Eeh bentar,kamu bilang apa? pecicilan?.Kyaa mami gak gitu ya,mami itu cuma terlalu aktif aja."protes nya tak terima.


Mendengar itu, Rafa hanya memutar bola matanya malas.


"Sama aja mami,itu-itu juga."ketus Rafa.


"Terus mami harus gimana donk?"tanya mami Mutia lesu bahkan wajah nya menjadi muram.


Melihat wajah mami nya,membuat Rafa menahan tawa nya.Sedangkan suami dan papi mereka hanya menyimak pembicaraan mereka.


"Gini aja,gimana kalau mami mulai sekarang belajar,untuk bersikap anggun saja,dan mami kurangi ke bar-bar an mami itu."celetuk papi Yuda.

__ADS_1


"Emang nya selama ini mami kurang anggun gitu?.Papi kok tega-teganya ngomong gitu sama mami."ujar mami Mutia kesal.


Mendengar ucapan istrinya,membuat papi Yuda spontan bicara.


"Iya."celetuk nya, seketika ia mendapat pelototan dan cubitan di paha nya.


"APA?"teriak nya membuat mereka menutup telinga nya.


Baru saja akan menyerang suami nya, Rafa seketika berbicara.


"Stop,bisa tidak sih kalian itu sehari aja gak ribut.Kalau begini terus,pasti Amel bakal nolak aku."keluh Rafa dengan wajah di buat sesedih mungkin.


"Eeh,gak boleh,ia gak boleh nolak anak Yuda.Pokok nya dia harus jadi mantu di keluarga ini."tekad mami Mutia.


"Huft,seperti nya tak ada cara lain,mami harus mengurangi kebar-bar an mami.Mami gak mau kalau harus nunggu lebih lama lagi."ujar nya dengan tekad.


Sedangkan pria yang berbeda usia hanya mengedipkan mata mereka.Dan mungkin mereka akan sedikit tenang untuk satu hari tanpa teriakan nyonya di rumah ini.


"Baiklah,besok kita akan melamar ke rumah orang tua gadis itu.Dan kamu anak Yuda,bersiap lah."ujar mami Mutia dengan suara di buat sekalem mungkin.


"Dan untuk papi,besok libur dulu,besok bantu mami menyiapkan segala sesuatu yang di perlukan.Tak ada BANTAHAN."sambung nya dengan suara yang di tekan di akhir.


"Baik mi"ucap ayah dan anak itu serentak.


"Huft,ternyata belajar kalem itu berat."keluh nya dengan menghela nafas panjang.


Berbeda dengan pria berbeda usia itu,mereka mati-matian menahan tawa mereka.


"Baiklah mi,aku ke kamar dulu,aku mau istirahat dulu."pamit Rafa.


"Ya sudah sana anak Yuda."ujar mami Mutia.


"Ck,mi,bisa gak kalau manggil itu nama aku.Kenapa harus manggil gitu?"tanya Rafa sedikit kesal.


"Ya mana mungkin mami manggil kamu anak Parjo,kan gak mungkin."ujar mami mutia sinis.


"Iya aku tau,tapi kan masa nanti di hadapan calon istri ku mami manggil gitu,kan gak enak di dengar nya."keluh Rafa.


"Kamu itu kenapa sih protes mulu dech,ya wajar lah mami manggil gitu,kan kamu emang anak nya Yuda.Ya kan pi?"ucap nya,dan bertanya pada suaminya.


"Iya,kamu kan anak papi.Masa ia kamu lupa nama papi kamu sendiri."ucap papi Yuda santai.


"Kalian sama saja.Baiklah tuan dan nyonya Kurniawan,saya pamit ke kamar dulu."ujar Rafa sinis.Dan ia pun segera pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2