
Tepat saat jam makan siang,para orang tua baru keluar dari kamar mereka.
Alvi yang melihat itu hanya mendengus kasar,sedangkan Nayla hanya menggelengkan kepalanya.
"Seger banget tuh muka,apa lagi sampe senyam senyum gitu"sindir Alvi pada papa dan ayah mertuanya.
"Tentu saja,kayak kamu gak ngalamin aja"celetuk ayah santai.
"Siapa bilang.Tapi ingat donk,ini tuh rumah siapa?.Udah pagi-pagi bikin kehebohan,eeh,tau-tau nya hanya numpang olahraga ranjang"gerutu Alvi tanpa filter.
"Masalah?"tanya papa Adi.
"Masalah lah,kalian sudah mengganggu pekerjaan di mansion ini,dengan suara erangan kalian"celetuk Alvi membuat ayah dan papa saling pandang.
"Serius kamu?"tanya ayah panik.
"Tentu saja,kalau tak percaya tanya saja pada bibi,bukan hanya bibi tapi pada semua pelayan di sini"ujar Alvi tersenyum sinis.
Glek
Mendengar itu membuat mereka malu,bahkan para istri mereka sudah menundukkan wajah nya.
Sedangkan Nayla hanya tersenyum geli,ia tau apa maksud dari suaminya ini,dan ia tak berusaha untuk menimpali.
Melihat ketegangan di antara mereka,bunda segera memecah ketegangan itu.
"Nay,kapan kamu akan periksa kandungan kamu lagi?"tanya bunda lembut.
"Masih dua Minggu lagi Bun.Kenapa Bun?"tanya Nayla.
"Ya udah,kalau mau periksa ajak bunda sekalian,bunda kan pengen liat cucu pertama bunda"ujar bunda antusias.
"Iya,mama juga pengen liat"ujar mama tak kalah antusias.
"Baiklah,dua Minggu lagi kita pergi ke rumah sakit"putus papa Adi semangat.
Mendengar itu semua orang bahagia,berbeda dengan Alvi yang menatap mereka sebal.
"Kak,kenapa?"tanya Nayla lembut.
"Aku kesal,karna mereka mau ikut ke rumah sakit,mereka pikir kita akan piknik apa,sampai semau nya ingin ikut"gerutu Alvi membuat Nayla menghela nafas.
"Kan lebih bagus"ujar Nayla tersenyum.
__ADS_1
"Bagus apa nya,yang ada kita akan jadi tontonan orang-orang"ujar Alvi kesal.
Bahkan ia semakin kesal,mendengar celetukan mama nya.
"Aku sudah tak sabar melihat cucu kita.Bagaimana reaksi orang-orang bila melihat kita.Yang pasti mereka akan seperti melihat film di bioskop"celetuk mama Riska.
"Wah,aku udah gak sabar menanti itu"timpal bunda antusias.
"Norak"celetuk Alvi kesal lalu pergi ke ruang kerja nya.
"Kenapa anak itu?"tanya ayah heran.
"Huft,dia itu terkena sindrom couvade,jadi nya gitu"jawab mama Riska santai.
"Beneran?"tanya ayah melihat kearah Nayla.
"Iya"ujar Nayla cuek.
"Kasihan,yang sabar ya,kamu jangan ambil hati,nanti juga normal kembali"ujar ayah menatap Nayla lembut.
"Huft,kalau boleh ngomong,aku tuh sebenernya kesel,kalau udah liat dia moodyan."curhat Nayla.
"Yang sabar ya sayang,itu tandanya dia begitu mencintai mu"ujar mama Riska menenangkan.
Mereka pun berlanjut berbincang,namun teriakan Alvi membuat mereka terkejut.
Mereka pun segera berlari ke arah ruang kerja.
"Ada apa Al?"tanya papa Adi dengan nafas ngos-ngosan.
"Pa,liat deh,kayak nya enak banget"ujar Alvi menunjukkan ponsel nya ke.arah papa Adi.
Mendengar itu,papa Adi pun melihat ponsel,dan mengerutkan kening nya.
"Apa itu?"tanya papa Adi.
Melihat papa nya tak merespon membuat Alvi kesal,bahkan ia menjauhkan ponselnya dengan kasar.
"Sayang,liat deh,enak kan?"tanya Alvi setelah melihat istrinya.
"Mau?"tanya Nayla lembut,membuat Alvi berbinar,dan mengangguk senang.
"Boleh?"tanya Alvi balik.
__ADS_1
"Tentu saja"jawab Nayla tersenyum.
"Yeay,ayo kita cari"ajak Alvi menggandeng tangan istrinya.
"Sekalian kalian semua harus ikut"ajak Alvi tegas tak ingin di bantah.
Mereka pun pergi dari sana,mengikuti Alvi di belakang.
"Emang apa sih?"tanya ayah penasaran.
"Gak tau,aku juga baru liat"jawab papa Adi mengendikkan bahunya.
"Nay,apa?"tanya ayah masih penasaran.
"Seblak, Yah"jawab Nayla santai.
"Oh"jawab mereka serempak.
Sedangkan Alvi terlihat senang,bahkan ia terus tersenyum,karna sebentar lagi keinginan nya akan terpenuhi.
Sedangkan di tempat lain,seseorang telah memantau keadaan sekitar,bahkan ia tak segan-segan memantau kediaman Alvi sejak tadi pagi.
"Akhirnya,kalian keluar juga"gumam nya dengan senyum smirk nya.
"Aku pastikan,Lo bakal tak lama lagi"ujar nya masih dengan tatapan tajam nya.
Ia pun mengikuti kemana keluarga Alvi pergi,bahkan ia sengaja menjalankan mobil nya dengan pelan,agar tidak ketahuan.
Terlihat keluarga Alvi berhenti di sebuah kedai sederhana,dia pun segera menghentikan laju mobil nya.
"Ternyata selera nya tak pernah berubah, bahkan ia membawa seluruh keluarga nya.Ini kesempatan bagus."ujar nya semakin membuatnya bersemangat.
Ia terus memperhatikan mereka,bahkan tak sedetikpun luput dari perhatian nya.
Udah dulu nya sedikit aja dulu,lagi gak bisa mikir,soal nya pikiran nya lagi gak bisa berpikir jauh.
Apa lagi setelah beberapa hari yang lalu adik aku meninggal,jadi gak semangat buat ngapa-ngapain,di tambah lagi di bawa puasa,langsung blank seketika.
Jadi maaf nya,karna lama gak update,maklum ya,gimana sih di tinggalin adik se ibu itu,apa lagi dari kecil kita bareng-bareng,hanya saja setelah berumah tangga,kami udah beberapa tahun gak ketemu,sekali nya ketemu,aku malah liat adik aku sakit,dan setelah beberapa waktu langsung ninggalin gitu aja.
Meski banyak saudara,tapi itu beda,gak kayak sama saudara kandung.
Jadi,sekali lagi maaf.Semoga aja gak bosen nungguin kelanjutan nya.
__ADS_1