
Keesokan pagi nya,mereka semua sudah berkumpul di meja makan.
Mereka sarapan dengan hening,tak lama mereka sudah selesai,dan mereka pun berbincang sedikit di sana.
"Son,kapan kau akan masuk perusahaan lagi?"tanya papa Adi santai.
"Besok"ujar Alvi cuek.
"Kau yakin?"tanya papa Adi kembali.
"Kenapa?"balik tanya Alvi.
"Apa kau tak berniat untuk bulan madu?"tanya papa Adi dengan senyum menggoda.
Melihat senyum itu membuat Alvi mendengus.
"Gak sekarang,karna pekerjaan di kantor sudah menumpuk,dan mungkin kalau ada waktu kosong,atau bisa di handle oleh Kenan,baru kami akan pergi"jelas Alvi panjang lebar.
Sedangkan semua orang di sana hanya mendengarkan pembicaraan mereka.
"Nak,lalu kamu akan tetap bekerja,atau berhenti?"tanya mama Riska pada Nayla.
Nayla yang di tanya,menjawab cepat dengan yakin.
"Tetap bekerja,Ma,karna belum ada pengganti untuk ku"jawab Nayla.
"Huft,baiklah"ujar mama Riska sendu.
"Tenang saja,mama jangan sedih gitu,kalau ada sesuatu atau apa pun itu,mama bisa telpon Nayla"ujar Alvi menyenangkan mama nya.
"Benarkah?"tanya mama Riska memastikan.
"Iya"jawab Alvi singkat.
"Yeay"teriak mama Riska senang.
"Kau dengar itu Pah"sombong mama Riska.
"Iya,dengar"ujar papa Adi tersenyum paksa.
Sedangkan Nayla dan Alvi saling pandang,namun Alvi hanya tersenyum ,dan Nayla pun ikut tersenyum.
Setelah itu,papa Adi dan mama Riska pulang,sedangkan ayah dan bunda duduk di ruang keluarga,di ikuti tuan Baskoro, Nayla dan Alvi.
Nayla berinisiatif untuk ke dapur membuat kan minuman dan membawa camilan.Sampai nya di dapur,ia melihat pak Min sedang bertelponan dengan cara berbisik-bisik.
Itu membuat Nayla curiga,Nayla mencoba menguping.
"Baiklah,apa gak akan ketahuan?Karna di sini sedang banyak orang,bahkan anak,menantu, cucu dan cucu menantu nya ada di sini"ujar pak Min yang terdengar oleh Nayla.
__ADS_1
"Baiklah"ujarnya lalu menutup telpon,dan melihat itu Nayla langsung berbalik pura-pura baru datang ke sana.
"Pak Min"panggil Nayla lembut.
Pak Min melihat ada Nayla di sana sangat gugup.
"Nona sudah lama?"tanya pak Min mencoba tenang.
"Baru saja"jawab Nayla santai.
Setelah itu pak Min pergi dari sana,dan Nayla sibuk dengan tujuan nya.
Sampai nya di ruang keluarga,Nayla meletakkan cangkir gelas di meja yang di sana,dia pun berbisik kepada Alvi,Alvi yang mengerti pun mengangguk kan kepala nya.
Terlihat pak Min berjalan ke sana,dan Alvi pun langsung merogoh ponsel di saku celana nya.
"Hallo"ujar Alvi pura-pura dengan wajah datar dan tatapan tajam mengarah ke pak Min.Karna ia melihat pak Min berjalan mendekat.
"Habisi dia,kalau perlu kalian tangkap dia di kediaman kakek istri ku,karna saya tak ingin parasit hinggap di sini"ujar Alvi dengan menatap pak Min tajam.
Pak Min yang di tatap begitu,menelan saliva nya susah,apa lagi setelah mendengar ucapan Alvi berikut nya.
"Dia berusaha meracuni kakek istri ku?Langsung habisi dia,dan bawa dia ke Charli,biarkan dia yang melakukan tugas terakhir nya."ujar Alvi tajam.
Setelah berkata begitu,Alvi menutup telpon nya, dengan mata masih menatap tajam pada pak Min.
Namun,sebelum beranjak jauh,Nayla sengaja bertanya pada Alvi.
"Kak, Charli itu siapa?"tanya Nayla keras dan juga penasaran.
"Kamu mau melihat nya?"tanya Alvi dan di angguki oleh Nayla.
"Baiklah,aku akan suruh anak buah ku untuk membawa nya ke sini"ujar Alvi dengan segera mengambil ponsel nya.
"Bawa Charli ke sini,saya tunggu sepuluh menit"ujar Alvi datar dan langsung mematikan sambungan nya.
Sedangkan di sebrang sana,seseorang sedang mengumpat.
"Dasar bos kampret"umpat nya kesal,namun dengan segera ke taman belakang untuk membawa Charli.
Tak memerlukan waktu 10 menit,anak buah Alvi sudah datang dengan mobil besar.
Langsung saja ia masuk dengan membawa Charli yang dengan santai berjalan,sedangkan yang melihat itu ketakutan,bahkan pelayan yang tak sengaja melihat nya malah pingsan.
"Bos ini"ujar Jack santai.
"Aakh"teriak Nayla dan bunda,sedangkan ayah dan tuan Baskoro menelan saliva nya susah.
"Ssst sayang tenang,jangan takut,ia sudah jinak kok"ujar Alvi santai.
__ADS_1
Bahkan ia menghampiri Charli yang sedari tadi menatap ke arah nya.
"Charli"panggil Alvi,seketika Charli berlari ke arah nya,membuat Alvi hampir terhuyung ke belakang.
"Sekarang kau sudah besar dan berat,ternyata tak sia-sia aku menyuruh mu mengurus nya"ujar Alvi melihat ke arah Jack.
"Seenak nya saja Lo bilang,Lo gak tau aja,dia itu selalu membuat ku kesal,bahkan kemarin saja,ia dengan sengaja nyebutin gue ke kolam."gerutu Jack sambil duduk di sofa.
"Permisi,tuan-tuan,nyonya dan nona muda"sapa nya sopan pada yang ada di sana.
Tuan Baskoro yang sudah biasa melihat itu hanya merespon dengan anggukan,sedangkan ayah,bunda dan Nayla masih diam atas keterkejutan nya.
"Sayang,lihatlah,dia gagah kan?"tanya Alvi lembut,sambil menuntun Charli duduk di dekat nya.
"Gagah apa nya,yang ada aku itu takut,lihat lah gigi nya yang runcing itu,,iiih"bukan Nayla,tapi bunda yang menjawab.
Sedangkan Nayla,ia malah mendekat ke arah Alvi dan duduk di samping nya.
"Kalau tau kau sangat gagah,aku lebih baik menikah dengan mu saja"celetuk Nayla sambil mengusap kepala Charli.
Aaarrgg
Aum Charli menyenderkan badan nya ke kaki Nayla.
"Sayang, apa-apaan kamu itu?Masa ia kamu mau nikah sama si jelek ini.Lihat saja kulit nya hitam begitu"gerutu Alvi dan malah membuat Charli mengaum lebih keras.
"Hey,jelek,kau itu jangan senang dulu,wanita di samping mu itu sudah jadi milik ku,jadi kau tak boleh mengambil nya"ujar Alvi dengan wajah kesal nya.
"Ooh,apa kakak cemburu?"tanya Nayla menggoda Alvi.
"Ya,,eeh tidak,mana mungkin aku cemburu dengan si jelek ini"ujar Alvi membuang wajah nya...
"Dasar si muka datar,kau tak kira-kira,masa iya kau cemburu dengan kucing besar ini.Tadi aja kau memuji nya,dan sekarang kau menjelekkan nya."ujar Jack santai.
"Diam kau"kesal Alvi.
Sedangkan Nayla malah asyik dengan mainan baru nya,bahkan ia tak menghiraukan suami nya,yang sedari tadi melihat ke arah nya dengan kesal.
Namun, tiba-tiba saja,Charli berdiri sambil mengibas-ngibaskan kepala nya,dan mengaum, membuat Alvi melihat ke arah nya.
"Ada apa?"tanya Alvi tegas,bukan nya menjawab Charli malah melihat. ke.arah tuan Baskoro.
Tuan Baskoro yang memang mengerti arti tatapan itu pun menganggukan kepala nya.
Tak menunggu waktu lama,Charli pun berjalan ke arah taman belakang.
"Kakek,apa kakek mengerti?"tanya Alvi heran.
"Tentu saja,bahkan aku punya yang seperti itu di mansion satu lagi"ujar tuan Baskoro santai.
__ADS_1