
Satu minggu telah berlalu,keadaan Nayla masih sama ia mengalami koma.
Keluarga nya merasa sedih terutama perasaan was was nya lebih besar.
Alvi,kini ia sedang berada di kantor nya,ia tampak termenung sambil menghadap jendela besar di ruangan nya.
Semenjak Nayla mengalami koma,ia belum bisa menemui nya,entah karna apa,ayah selalu melarang nya,bahkan dengan melihat di luar pintu pun ayah gak memberi izin.
Namun,semua teman teman nya di biarkan menjenguk,bukan hanya ia saja,namun papa dan mama nya pun di larang.
Selama beberapa hari ini,ia merasa stres,bahkan pekerjaan nya pun berantakan,dan jika sudah begini siapa lagi yang harus di korban kan,tentu saja sang asisten andalan nya, Kenan.
Lama termenung,ia mendengar ponsel nya berdering,namun ia tak beranjak sedikit pun,bahkan ia membiarkan ponsel nya terus berbunyi.
"segeralah bangun,aku merindukanmu"gumam nya,tanpa terasa air mata nya keluar dari sudut mata nya .
Brak
Kenan masuk dengan mendobrak pintu,ia seperti sedang panik.
Tanpa berkata apa pun ia menarik tangan Alvi,membuat si empu nya tak terima dan malah memarahi Kenan.
"kurang ajar,lepasin..apa apaan si lo,maen tarik tarik aja"marah Alvi bahkan sampai mendorong Kenan.
"udah ikut aja"ucap Kenan semakin membuat Alvi marah.
"gue gak mau,kalau Lo mau pergi,pergi aja sendiri,gue gak mau"teriak Alvi,dan segera berbalik melangkahkan kaki.
Namun teriakan Kenan berhasil menghentikan langkah nya.
"Nayla udah sadar dari koma nya"teriak Kenan,membuat Alvi yang mendengar nya mematung.
Seketika ia berbalik,dan menyeret Kenan,seperti yang Kenan tadi lakukan.
"aduh,,ngapain sih lo seret gue kek gini"kesal Kenan.
Namun Alvi tak menjawab,ia malah terus melangkah,dan masuk ke dalam lift.
Kenan hanya menggerutu tak jelas,bahkan sampai di loby pun ia belum berhenti.
Karna kesal ia pun berhenti,sedangkan Alvi terus berjalan tanpa melihat ke belakang.
Ia hanya berpikir untuk cepat sampai di rumah sakit,tanpa sadar bibir nya tersenyum.
Merasa tak ada yang mengikuti nya,Alvi pun berhenti dan menengok ke belakang.
"KENAN"panggil Alvi dengan teriak.
Karyawan yang sedang berada di sana pun, seketika membeku,mereka takut jika sang atasan sedang dalam mode singa nya.
Glek
Para karyawan menelan Saliva nya kasar.
"gawat,singa sedang mengamuk"batin karyawan di sana.
Bukan hanya karyawan saja yang membeku, bahkan Kenan pun ikut merinding.
Melihat Kenan yang hanya diam,Alvi semakin kesal saja,ia pun kembali masuk dan kembali menyeret Kenan,seperti kucing.
__ADS_1
Brak
"cepat masuk,apa kau mau saya pecat"teriak Alvi dengan formal.
Segera Kenan masuk,karna ia merasa takut dengan amarah si muka datar itu.
"kita kemana tuan?"tanya Kenan formal,setelah keluar dari perusahaan.
"rumah sakit"jawab Alvi singkat.
Selama perjalanan tak ada yang berbicara,Kenan karna takut atasan nya ini kembali marah.
Sedangkan Alvi,ia terdiam karna merasa gugup,ia merasa khawatir,khawatir sesuatu yang tak di inginkan terjadi.
"apa dia akan baik baik saja, Ken?"tanya Alvi lirih.
Mendengar pertanyaan dari Alvi,membuat Kenan melihat ke arah kaca spion depan,ia melihat ke khawatiran di wajah sepupu nya itu.
Kenan bingung harus menjawab apa,karna ia sendiri belum tau.
Tak ada sahutan dari Kenan,membuat Alvi menarik nafas panjang.
Mungkin ia salah,bila bertanya pada Kenan.
Tak sampai 30 menit,mereka telah sampai di rumah sakit.
Mereka bergegas turun,Alvi berjalan dengan tergesa,bahkan ia setengah berlari.
Di sebuah ruangan tempat Nayla di rawat begitu ramai.
Terlihat ayah menatap putri nya sendu,bunda yang berada di samping nya,mengusap pundak ayah,berharap bisa mengurangi kesedihan suami nya.
Nayla,ia mengabaikan semua orang,ia hanya mau berbicara pada adik nya saja,Adnan.
Adnan pun dengan senang hati,menemani kakak nya.
Entah kenapa semenjak ia bangun dari koma nya,ia merasa kesal pada semua orang.
Bahkan saat ayah nya menyapa pun,ia mengabaikan nya.
Ia sedang menunggu seseorang,seseorang yang sudah lama ia rindukan.
"Adnan,kenapa dia lama sekali,apa kau sudah menelpon nya,untuk ke sini?"tanya Nayla dengan tak sabaran.
Mendengar pertanyaan kakak nya ia tersenyum.
"tentu saja,mungkin saja sebentar lagi sampai."ucap Adnan menenangkan,padahal ia tau,kalau telpon nya tak di angkat angkat.
"huft,kenapa lama sekali"gumam nya pelan,lalu menatap pada Friska.
Nayla kemudian menatap semua orang,pandangan nya tertuju pada ayah nya.
"ayah"panggil Nayla.
Mendengar nama nya di panggil ayah merasa bahagia,karna ini pertama kali nya saat baru koma putri nya memanggil nya.
"ya nak,apa ada yang kau inginkan?"tanya ayah lembut.
Mendengar pertanyaaan ayah nya,Nayla menggeleng,lalu menundukkan wajah nya.
__ADS_1
"ada apa hmm?"tanya ayah penasaran.
"ayah,apa ayah akan marah bila ada seseorang yang datang untuk melamar ku?"tanya Nayla serius.
Mendengar itu,ayah mengerutkan kening nya.
"siapa?"tanya ayah sambil menatap putri nya.
"jawab dulu pertanyaan ku,ayah"ucap Nayla.
"baiklah...ayah tidak akan marah,jika memang orang itu berniat serius,dan yang paling penting,dia menyayangi putri ayah ini"ucap ayah sambil tersenyum.
"benarkah?"tanya Nayla sumringah.
Ayah mengangguk,dan ia lebih senang lagi karna putri nya memeluk nya.
"terima kasih ayah"ucap Nayla.
"sama sama"ucap ayah tersenyum.
Setelah pelukan mereka terlepas,pintu di buka dengan kasar.
Brak
Semua orang menatap ke arah pintu,orang itu segera menghampiri Nayla yang sedang terbengong di ranjang nya.
"nay,kamu baik baik aja?"tanya Alvi tanpa menghiraukan semua orang yang ada di sana,ia langsung memeluk Nayla.
Nayla yang masih terkejut,tak membalas pelukan Alvi,tak berapa lama ia tersadar,kemudian ia tersenyum misterius.
"nay... Nayla"panggil Alvi,namun Nayla masih menatap Alvi dengan tatapan yang sulit di artikan.
"kamu siapa?"tanya Nayla membuat semua orang terkejut.
Duarrr
Bagai di sambar petir,Alvi langsung melepaskan tangan nya yang ada di pundak Nayla.
"kamu gak kenal aku?"tanya Alvi memastikan.
Nayla hanya menggeleng,dan menatap semua orang yang ada di sana,tanpa sepengetahuan Alvi,ia mengedipkan mata nya ke semua orang sebagai kode.
Yang awal nya terkejut,kini semua bisa bernafas lega.
Sedangkan Alvi,menatap wajah Nayla dengan kecewa.
Ayah yang sudah tau rencana Nayla,langsung menarik Alvi menjauh.
"hey bocah,ngapain kau peluk peluk anak orang,dasar tak ada sopan sopan kau sama orang tua"marah ayah,membuat semua orang menahan tawa nya.
Alvi yang sudah terlanjur kecewa pun,hanya diam,bahkan tatapan mata nya kosong.
Nayla sebenarnya tak tega,namun ia seperti belum puas.
"ayah,siapa dia,kenapa dia kesini?"tanya Nayla dengan nada bingung nya.
"gak usah di pikirin,hanya orang gila nyasar"cetus ayah santai.
Kenan yang baru datang merasa bingung,ia melihat Alvi seperti tak punya semangat.
__ADS_1
Namun,kode dari teman teman Nayla membuat ia paham.