
Setengah jam kemudian,sepasang suami istri itu terlihat menuruni tangga.
Membuat semua mata melihat ke arah mereka.
Mereka memandang mereka berdua,dengan tatapan heran.
Alvi melihat tatapan itu bertanya,sedangkan Nayla menyusul para wanita yang sedang memasak di dapur.
"Kenapa?"tanya Alvi datar.
"Gak kenapa-napa"jawab mereka serentak.
Berbeda dengan Nayla,di pertengahan jalan ia berpapasan dengan kepala pelayan di sana.
Kepala pelayan itu menunduk hormat,sedangkan Nayla terdiam memperhatikan itu.
"Tunggu"ujar Nayla sedikit lembut.
"Iya, nona"saut kepala pelayan itu sopan.
"Siapa nama kakek?"tanya Nayla sopan.
"Saya?"tanya pelayan itu dengan menunjuk diri nya,dan di angguki oleh Nayla.
"Nama saya Parmin,panggil saja Min"ujar nya sopan.
"Baiklah,kakek Min,terima kasih,saya hanya ingin tau saja"ujar Nayla dengan tersenyum dan berlalu pergi.
Namun sebelum melangkah,pak Min menghentikan langkah nya.
"Maaf nona,kalau bisa jangan memanggil saya kakek,panggil saja saya pak Min"pinta pak Min.
"Baiklah,mari pak Min"ujar Nayla dan berlalu pergi.
Setelah tak melihat punggung Nayla,kepala pelayan itu bergumam.
"Untung saja ia tak mengenaliku"gumam nya pelan,dan ia pun berlalu pergi.
Tak berbeda jauh dengan Nayla,ia tersenyum sinis dan bergumam.
"Akting yang buruk,kita lihat kejutan apa yang menanti mu"gumam nya tersenyum devil.
Sampai nya di dapur,ia melihat dapur begitu berantakan,ia melihat bunda dan mama Riska hanya menghela nafas kasar dan memijat kepala nya pelan.
"Ada apa ini?"tanya Nayla datar.
Seketika semua menoleh ke arah nya,bunda dan mama Riska menghampiri nya dan mengadu.
"Nay,kamu urus teman-teman mu itu, Bunda pusing menegur mereka"ujar bunda pergi sambil menyeret tangan mama Riska.
"Ayo Ris kita pergi,biarkan putri ku yang mengurusnya"ujar bunda ketus.
Nayla yang melihat itu,menghela nafas berat,ia menatap mereka satu persatu.
"Kalian semua,pergi dari sini"teriak Nayla membuat mereka segera pergi dari tempat itu,tanpa menoleh lagi kebelakang.
Setelah melihat mereka semua pergi,Nayla memanggil seorang pelayan untuk membantu nya di dapur.
Sedangkan teman-teman Nayla hanya bisa menghela nafas lega.
"Untung aja,kita cepet pergi,kalau gak,habislah kita"ujar Tia lega.
__ADS_1
"Itu semua salah Lo,Lo dan Lo,kalau Lo gak ganggu gue,bunda dan mertua nya Nayla,semua gak bakalan kacau"gerutu Renata kesal,sambil menunjuk ke arah Amel,Tia,dan Friska.
Sedangkan mereka bertiga hanya menyengir tak berdosa.
"Kan niat kita baik,kita tuh mau bantuin"bela Amel.
"Bantu apa nya kalian,yang ada dapur orang meledak karna kalian,udah tau gak bisa masak, sok-sok an pengen bantuin"gerutu Renata yang masih saja kesal.
"Lagian kenapa sih tuh anak cepet benget keluar kamar nya,kirain bakalan agak siang,kan katanya kalau pengantin baru bangun nya siang,tapi ini baru jam enam udah bangun ajah."cerocos Amel dengan bibir cemberut.
"Iya,kalau tuh anak bangun siang,yang ada dapur udah habis kebakar"Renata masih saja mengeluarkan rasa kesal nya pada mereka.
Membuat yang mendengar nya mengerutkan kening,menatap nya heran.
"Kamu kenapa,Re?"tanya ayah lembut.
"Biasa,mereka bertiga membuat acara masak nya kacau,dan apa ayah tau,kita semua kena semprot Nayla"ujar Renata melihat ke arah ketiga teman nya dengan kesal.
Sedangkan semua orang yang mendengar itu hanya menggelengkan kepala nya,dan para ibu hanya mengangguk saja.
"Kalian ini,apa kalian belum bisa juga memasak? Gimana nanti kalian kalau punya suami?Masa suami nya terus di masakkin sama pelayan"tanya ayah santai.
"Betul tuh kata ayah,harus nya kalian bisa masak,masa kalian kalah sama ayah"ujar Tia dengan wajah sombong nya.
"Emang kamu bisa masak?"tanya ayah balik.
"Hehehe,gak"jawab Tia nyengir.
Plak
"Dasar gil*"umpat Renata masih saja kesal.
"Gimana gak kesel coba,kalian merusak hasil karya ku tau gak,udah susah-susah aku buat nya malah kalian rusakin"kesal Renata masih berlanjut.
"Ya maaf kita kan gak tau"ujar Friska merasa bersalah.
"Makan nya kalau gak bisa gak usah sok-sok an,kalau akhirnya berantakin"ujar Renata membuat mereka bertiga menunduk.
"Kalian tau gak,itu tuh hasil nya buat di coba kalian karna itu resep baru gue,tapi kalian.."ujar Renata tak meneruskan kalimat nya,karna saking kesal nya sampai mata nya berkaca-kaca.
"Maaf"ujar mereka bertiga kompak.
Mereka semua yang melihat itu,hanya mendengarkan,namun hanya satu orang yang melihat Renata iba.
"Sudahlah,kalian bertiga emang tukang rusuh dan pengacau"ucap Renata pedas,dan berlalu pergi dari sana.
Ia akan membantu Nayla memasak di dapur,mencoba mengalihkan rasa kesal nya.
Sedangkan mereka semua hanya diam,mereka melihat ke.arah ketiga dengan tatapan berbeda-beda..
"Huft,kalian itu kenapa selalu saja bikin rusuh,kalian lihat karna ke rusuhan kalian,membuat teman kalian kesal,dan apa kalian lupa,gimana kesal nya dia kalau lagi marah?"ujar ayah tegas,membuat mereka bertiga semakin menunduk dan bersalah.
"Kalian itu,sudah dewasa harusnya kalian semakin berfikir dewasa,bukan malah semakin menjadi-jadi"ujar ayah datar.
"Kalian lupa,beberapa hari yang lalu kalian bikin rusuh di salah satu mall,siapa yang datang membantu kalian membereskan ke kacauan di sana?,dia orang yang kalian buat kesal,bahkan ia rela meninggalkan pekerjaan nya yang seabrek hanya untuk membantu kalian,dan apa kalian tau,sepulang nya dari sana dia mengalami kecelakaan"ujar ayah menjeda ucapan nya.
Sontak saja hal itu membuat mereka semua yang ada di sana,melihat ke ayah dengan tatapan tak percaya.
"Apa?Kecelakaan?"
"Ayah bohongkan?"
__ADS_1
"Itu gak mungkin"ujar mereka bertiga kompak.
"Gak percaya,kalian tanya sama bunda,bunda juga tau"ujar ayah melihat ke arah bunda,begitu pun mereka semua.
Bunda yang di lihat begitu pun hanya mengangguk.
Mendapat anggukan dari bunda semakin membuat mereka merasa bersalah.
Mereka pun berniat untuk menghampiri Renata,tapi di cegah oleh ayah.
"Kalian tetap di sini,jangan ada yang berani pergi selangkah pun dari sini"ujar ayah tegas,membuat mereka bertiga hanya menurut.
"Bukan ayah melarang kalian baikan,tapi kalian tau kan,gimana sifat nya dia,meski kalian menangis dan mohon-mohon sama dia pun,dia gak akan ngedenger,yang ada kalian bakal kena marah juga sama Nayla"jelas ayah membuat mereka mengerti.
Untuk beberapa saat keheningan melanda mereka dengan pikiran masing-masing.
"Dar,apa benar mereka membuat ulah beberapa hari yang lalu?"tanya papa Adi masih penasaran.
"Kalau gak percaya tanya sama mereka"ujar ayah menunjuk mereka bertiga.
"Benar,apa yang dia katakan?"tanya papa Adi sambil menunjuk ayah,membuat ayah mendelikkan mata nya.
Tak ada yang menjawab pertanyaan tersebut,meski terlihat santai namun mereka tau ada sesuatu di balik sikap santai tersebut.
"Jawab?"teriak papa Adi membuat mereka mengangguk.
Brak
"Apa yang kalian lakukan?"tanya papa Adi kembali.
"Ka,,kami tak sengaja menyenggol sebuah manekin"ujar Tia.
"Trus kami juga tak sengaja membuat pakaian yang di sana robek"timpal Amel.
"Dan kami juga tak sengaja merusak satu perhiasan mahal di sana"timpal Friska menunduk.
"Dan yang parah nya lagi,kami tak sengaja menyentuh itu,,,"ujar Tia gugup.
Mereka semua bingung,dengan kata "itu",sehingga membuat papa Adi bertanya lagi.
"Itu apa?"tanya papa Adi tegas.
"I,,,itu"tunjuk Amel ke arah celana Rafa.
"Apa?"tanya Rafa bingung.
Seketika tawa mereka pecah,bahkan ayah dan papa Adi yang sudah serius pun hampir tertawa.
"Siapa?"tanya papa Adi spontan.
"Dimana?"tanya ayah kemudian.
"Gak tau,di depan mall,tepat nya di tempat parkir."jawab Friska malu.
"Lalu apa masalah nya?"tanya ayah penasaran.
"Ya itu masalah nya,karna istri nya ngamuk"ujar Amel.
Hahaha
Pecah sudah tawa mereka,mendengar ungkapan gadis polos itu,bahkan para pria di sana hanya tertawa saja.
__ADS_1