
Berbeda dengan suasana di ruang keluarga dan dapur.
Di ruang keluarga terdengar tawa yang begitu riuh,sedangkan di dapur suasana terlihat dingin,meskipun kompor dalam keadaan menyala.Ehh nyambung gak sih😅
Terlihat Renata fokus dengan masakan nya ,dengan muka yang masih terlihat kesal.
Nayla yang melihat itu hanya menghela nafas berat.
"Kalo Lo gak niat bantuin gue,mending Lo pergi,karna gue gak butuh orang buat bantuin gue"ucap Nayla dengan sedikit menekan.
"Kenapa?Lo gak suka gue di sini?gampang gue tinggal pergi dari sini"ujar Renata tanpa sadar apa yang di ucapkan nya.
Brak
"Iya,mending Lo pergi dari sini, sebelum gue Lo kukus"ancam Nayla dengan tegas,bahkan terkesan dingin.
Deg
Glek
Renata tersadar,kalau yang ia hadapi adalah seorang Nayla,semarah-marah nya dia,kalau di hadapkan dengan nayla,sudah pasti ia tak berkutik,karna setiap kata dan ancaman yang ia keluarkan,pasti akan ia lakukan,dan itu membuat nya bergidik ngeri.
"Sorry,ma,,maksud gue.."ucapan Renata terpotong karna Nayla sudah berbicara lagi.
"Apa?,sekarang Lo pergi dari sini, sebelum ancaman gue di lakukan"ancam Nayla kembali,dan langsung saja Renata pergi dari sana,dan ia pun pergi ke taman belakang sendirian.
Meski Renata terkesan galak dan tegas,namun Nayla lebih dari itu,bahkan Nayla tanpa segan melakukan ancaman nya dengan nyata.
Namun,sikap Nayla itu tertutupi oleh sifat anggun dan lah lembut nya,di gambah lagi dengan wajah cantik nya.
"Ada apa lagi ini?,pasti mereka yang bikin ulah"gumam Nayla,dan dengan cepat menyelesaikan acara memasak nya.
Lima belas menit kemudian,masakan nya sudah matang,dan Nayla meminta pelayan untuk menata nya di atas meja.
Sedangkan ia pergi ke ruang keluarga untuk memanggil mereka.
Sampai nya di sana,ia melihat semua orang sedang berbincang-bincang hangat.
Dan tatapan nya mengarah ke arah tiga orang yang sudah membuat rusuh.
"KALIAN bertiga,diam di sana"ujar Nayla ke pada Tia,Amel dan Friska.
Glek
Sedangkan ke yang lain nya ia menyuruh nya untuk pergi dahulu ke meja makan.
Namun yang muda malah tetap di sana karna penasaran.
__ADS_1
Alvi mendengar nada tegas istri nya malah terpesona.
"Perfect wife"gumam nya tersenyum.
"Ada apa,Yang?"tanya Alvi lembut,sambil merangkul pinggang Nayla.
"Eeh,,,aku punya urusan sama mereka"ujar Nayla gugup,dengan wajah memerah.
Teman-teman mereka yang melihat dan mendengar itu hanya melongo.
Karna mereka baru melihat sifat langka pasangan baru tersebut.
"Kejadian langka"gumam mereka hampir berbarengan.
Mendengar gumaman itu Nayla kembali ke mode serius nya,dan segera melepaskan rangkulan suami nya.
"Bentar,aku punya urusan dulu sebentar"ujar nayla lembut.
Meski berat,Alvi pun melepaskan rangkulan itu.
"Kalian,apa yang kalian lakukan?"tanya nayla menatap para gadis itu tajam.
"Jawab?"bentak Nayla membuat mereka yang mendengar nya terkejut.
Bahkan teriakan nya sampai terdengar ke arah ruang makan,dan orang tua mendengar itu segera melihat apa yang terjadi.
Tapi kali ini mereka di buat terkejut dengan perubahan itu.
Mereka semua hanya terdiam melihat istri dari sahabat mereka,dalam hati mereka,ada rasa bangga dan juga ada rasa ketakutan saat melihat tatapan yang mengerikan itu.
"Kami tak sengaja melakukan nya,niat kami hanya ingin membantu saja,kalau kami tau akan seperti ini,kami tidak akan berani untuk membantu"ujar Amel menunduk.
"Kalian bertiga tak pernah berubah,kenapa kalian selalu saja membuat rusuh,apa kalian belum puas melihat dia depresi kembali,gue udah peringatin kalian bertiga, hati-hati bertingkah di depan dia,kalian kan tau beban apa yang di pikul,tapi kenapa kalian seolah tak peduli dengan itu,apa kalian itu udah GAK PEDULI,hah?"ujar Nayla marah dengan menekankan kata terakhir.
Mereka semua diam,mereka menyesal telah membuat kekacauan.
"Dan Lo"Nayla menunjuk ke arah Friska.
"Lo yang lebih tau masalah psikis nya dia,tapi kenapa lo seolah tutup mata dengan itu,apa kejadian waktu itu gak ngebuat kalian sadar,HAH?"ujar Nayla dengan mata berkaca-kaca.
"Apa kalian udah jadi pikun,karna kebanyakan di otak kalian itu hanya senang-senang saja"timpal Nayla kembali.
Semua orang tak ada yang berani menjawab itu,bibir mereka seolah tekunci rapat.
"Gue peringatin yang terakhir kali nya,kalau sampai kalian buat dia marah,apa lagi sampai dia masuk rumah sakit,Lo bertiga bakal tau akibat nya."ancam Nayla dengan menatap mereka tajam.
"Jadi,gue mohon untuk lebih menjaga perasaan dia,karna gue gak mau sesuatu terjadi lagi,seperti sebelum nya"ujar Nayla sedikit melunak.
__ADS_1
Melihat istri nya sudah mulai tenang,Alvi mendekat dan merangkul bahu istri nya sambil tersenyum.
"Sudah?"tanya Alvi lembut,dan di angguki Nayla.
"Ayo pergi,karna aku sudah lapar"ujar Alvi sambil membawa nayla pergi dari sana.
Setelah kepergian Nayla dengan Alvi,mereka merasa lega akhirnya mereka bisa bernafas lega.
"Gila,serem banget"ujar Rafa bergidik ngeri.
"Ho'oh,gue gak nyangka,ternyata di balik sikap lemah lembut nya,ada iblis yang bersemayam"celetuk Toni,dan tanpa ia ketahui kepala nya di geplak ayah Darma.
"Sakit beg.."ucap Toni terpotong setelah tau siapa yang memukul nya.
"Hehe,om"ujar Toni nyengir.
"Apa?.Berani sekali kau mengatai putri ku seperti itu,mau ku cekik kau sampai amnesia?"ujar ayah dengan wajah garang nya.
"Gak mau om"ujar Toni cepat.
Sedangkan yang lain mengerutkan kening nya bingung.
"Emang ada jika di cekik bisa sampai amnesia?"batin mereka kompak.
"Makannya jangan berani-beraninya kau berkata seperti itu,jika tak ingin iblis itu memakan mu"ujar ayah dengan wajah cuek nya.
Membayangkan nya saja membuat Toni merinding,sedangkan yang lain sudah menahan tawa mereka.
"Loh, memang benar kan,hanya saja iblis berwujud malaikat"ujar ayah tertawa.
Seketika semua nya kompak tertawa,sedangkan Toni yang emang dasar nya lemot hanya menggaruk kepala nya yang tak gatal.
"Aneh"gumam Toni heran.
Beberapa saat tertawa,ayah menghentikan tawa nya,ia menatap papa Adi dan mama Riska.
"Maafkan sikap putri ku pada putri mu,mungkin itu sedikit kasar,namun di balik itu,ia merasa kan khawatir berlebihan"ujar ayah Darma merasa tak enak.
"Tak apa,justru aku bangga mempunyai menantu seperti itu."ujar papa Adi tak marah melihat sikap menantu nya begitu.
Ia justru bangga dengan itu,karna ia memang membutuhkan kan menantu seperti itu,karna ia yakin dengan begitu kehidupan rumah tangga putra nya akan baik-baik saja.Karna ia tau sifat putra nya yang tak bisa bersikap kasar pada seorang wanita.
Sedangkan di taman belakang,Renata sedang duduk menyendiri di sana.
Pikiran nya melayang jauh entah kenapa,bahkan sesekali ia meneteskan air mata nya.
"Hidup ini memang banyak kejutan,miris"ujar nya pelan sambil menyimpan ponsel nya di samping tempat duduk nya.
__ADS_1
"Aku lelah"ujar nya lagi memejamkan mata nya.