
Sampai nya di ruang UGD,Alvi segera menidurkan istrinya yang sudah tak sadarkan diri di brankar rumah sakit.
Para dokter dan beberapa suster berlarian ke ruangan itu.Setelah mereka tau,bahwa menantu dari keluarga Pradipta sedang keadaan tak sadarkan diri.Mereka semua sigap memeriksa keadaan Nayla,bahkan direktur rumah sakit pun langsung turun tangan,karna keluarga Pradipta adalah pemilik rumah sakit ini.
"Tuan muda,kami mohon,tolong keluarlah dari ruangan ini,kami akan memeriksa keadaan nona muda."ujar seorang perawat sopan.
"Saya gak akan pergi,saya akan menemani istri saya di sini"teriak nya tak terima.
Sampai akhirnya,dokter Bram langsung menyeret nya keluar.Bahkan tanpa bicara ia langsung menutup pintu ruangan itu.
Brak
Brak
Brak
"Buka,aku ingin melihat istri ku,aakh,kalian semua be*ngs*k"teriak nya seperti orang kesetanan,ia begitu panik dan khawatir,ketika melihat dari kaki istrinya keluar darah banyak.
"Buka,aku ingin melihat istriku"ucap nya dengan pelan,dengan menyandarkan punggung nya di pintu ruangan tersebut,bahkan air mata nya gak berhenti mengalir.
Para orang tua yang melihat itu,merasa sedih,bahkan papa Adi baru melihat keadaan putranya yang begitu kacau.
"Nak,tenanglah,ayah yakin putri ayah itu pasti kuat,kau harus selalu berdo'a untuk itu.Berdiri lah,bersihkan dirimu dulu"ujar ayah lembut,namun penuh ketegasan.
Sedangkan Alvi hanya diam menatap kosong ke arah dinding rumah sakit.
Melihat itu,semua orang merasa iba,bahkan papa Adi ikut menitikkan air mata nya.
"Pah"panggil mama Riska sambil menangis.
Mendengar istrinya memanggil,papa Adi segera mendekat dan memeluk istrinya.Berharap bisa menyalurkan ketenangan.
"Tenanglah,putri kita pasti baik-baik saja"ujar papa Adi menenangkan.
"Hiks.."suara Isak tangis Alvi terdengar,membuat semua orang menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Melihat itu,mama Riska melepaskan pelukan dari suaminya,dan beralih ke putra nya.
"Hiks,,,aku telah lalay menjaganya,aku suami yang tak berguna.Kalau saja,aku tak ingin makanan itu,pasti ini semua tak akan terjadi,,hiks,,,hiks,ini semua salahku,aku bukan suami yang baik"gumam nya lirih,mama Riska yang mendengar itu,merasa hati nya teriris.
Ia merasa tak tega melihat keadaan putra nya,bahkan mama Riska,baru pertama kali melihat putra nya begitu terpukul,bahkan saat meninggal nya nenek tersayangnya,ia tak sampai seperti ini.
Tak lama, terdengar langkah kaki mendekat ke arah mereka.
Terlihat Kenan,Bara,Toni,dan Rafa datang ke sana,di susul di belakang ada para gadis mengikuti nya,kecuali Renata.
"Bagaimana keadaan Nayla?"tanya Amel yang sudah berdiri di dekat ayah.,dengan air mata bercucuran.
"Dokter masih memeriksa nya"ujar ayah di buat setenang mungkin.
Berbeda dengan Amel,ia langsung memeluk ayah menumpahkan tangisan nya di pelukan ayah.
Mendapatkan respon dari Amel,ayah membalas pelukannya,bahkan mata ayah sampai berkaca-kaca.
"Ssst,tenanglah,ia pasti baik-baik saja,hmm."ucap ayah menenangkan,berbeda dengan hati nya yang begitu cemas.
Sedangkan bunda,sedari tadi tak bergerak sedikitpun,bunda terlihat sangat terpukul, bahkan tatapan nya kosong,melihat keadaan putrinya.
"Putri bunda."ujar bunda pelan,dan di susul air matanya keluar.
Melihat itu,Tia dan Friska semakin mengeratkan pelukan nya,mereka menangis bersama.
Sedangkan para pria,menatap iba pada Alvi,karna sedari tadi hanya bergumam tak jelas,dengan air mata tak berhenti turun.
Terlihat seorang dokter wanita datang tergesa-gesa,dan langsung masuk kedalam.Melihat itu semua orang semakin panik,karna banyak sekali dokter yang masuk ke dalam,bahkan,barusan pun dokter kandungan di rumah sakit itu masuk ke dalam.
"Om,bagaimana ini terjadi?"tanya bara terkesan tegas.
Ayah dan papa Adi hanya menggeleng,namun sedetik kemudian papa Adi berbicara dengan nada dingin.
"Selidiki siapa orang yang berani berbuat seperti ini,cari dan tangkap dia,ku beri waktu 1× 24 jam,jika tidak,kalian akan tau akibat nya."ujar papa Adi menatap para pria satu persatu.
__ADS_1
"Baik om"ujar mereka serempak.
Kemudian,Toni menyuruh asisten nya,untuk membawakan laptop nya di dalam mobil,begitu pun dengan Kenan.
Beberapa menit mereka sibuk dengan tugas nya masing-masing.
Dokter keluar dari ruangan tersebut,Alvi yang menyadari itu segera berdiri,dan menghampiri dokter.
"Bagaimana keadaan istri ku?"tanya Alvi tak sabar.
Dokter yang mendapat pertanyaan seperti itu menghela nafas berat.Dokter itu menatap satu persatu orang di ruangan itu.
"Untuk lebih detail nya,kalian bisa tanyakan kepada dokter Bram,karna beliau yang lebih tau kondisi nya"jawab dokter itu merasa gugup karna di tatap oleh para pria di sana.
"Kalau begitu,saya permisi"ujar dokter itu dan berlalu pergi dari sana.
Tak lama setelah kepergian dokter itu,dokter Bram keluar,dari sana dengan tatapan sendu.
"Om,bagaimana keadaan istriku?"tanya Alvi tak sabar.
Sedangkan dokter Bram hanya menggelengkan kepala nya.
"Keadaan nya kritis,karna pendarahan,bahkan jika sampai tak segera di tangani,bisa berakibat fatal,bahkan menyebabkan kematian"jawab dokter Bram sendu.
Mendengar itu,Alvi memundurkan langkahnya.
"Dan satu lagi tuan,janin yang di kandung nona muda tak bisa bertahan,dan kami terpaksa mengeluarkan nya,itu karna adanya kandungan obat penggugur kandungan dengan dosis tinggi,dan itu menyebabkan pendarahan hebat,dan menyebabkan pasien kehilangan banyak darah,dan untungnya,stok darah di rumah sakit ini masih tersedia,jadi kami bisa menyelamatkan pasien."tambah dokter kandungan menjelaskan.
"Keguguran"ucap mereka serempak,bahkan Alvi hampir kehilangan keseimbangan saat mendengar itu.
Setelah mendengar penjelasan dokter,dan Nayla sudah di pindahkan ke ruang rawat.Alvi keluar dari ruangan rawat istrinya.
Tiba di luar, Alvi berteriak marah,segera ia merogoh ponsel nya,dan menghubungi seseorang.Bahkan ekspresi nya terlihat datar dan menyeramkan.
Mendengar teriakan Alvi,para pria keluar,karna mereka khawatir,Alvi akan mengamuk di rumah sakit.
__ADS_1
"Dalam satu jam,bawa orang itu ke tempat biasa"ujar Alvi dingin,bahkan terlihat jelas senyum iblis nya.
"Lo sudah berbuat sejauh ini,jangan salahkan gue,kalau Lo habis di tangan gue"ucap nya Alvi dingin,bahkan seketika aura di sekitar sana begitu menyeramkan.